Kisah Rumah Tangga: Kertas Kwitansi Ini Membongkar Tabir Dusta Suami Tercinta
Babak 1 — Kerapuhan di Balik Dapur
Nindya menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Aroma bumbu tumis bercampur dengan bau khas tanah basah setelah hujan sore tadi menyeruak dari dapur minimalis yang baru saja ia tata ulang. Suaminya, Pradipta, selalu bilang ia terlalu perfeksionis soal rumah. Padahal, baginya, menata rumah adalah cara paling efektif untuk menenangkan pikirannya yang berputar seperti gasing tak berujung. Terutama belakangan ini. Sejak Pradipta mulai sering pulang larut, entah karena proyek baru di kantor atau sekadar ‘ngopi bareng tim’, rasa cemas itu kian merayap.
‘Ma, aku pulang,’ suara bariton Pradipta terdengar dari ambang pintu. Nindya tersenyum kecil, suara itu selalu berhasil meredakan sedikit ketegangan yang ia rasakan. Ia beranjak dari balik kompor, membersihkan tangannya di celemek bergambar kucing lucu yang dibelikan ibunya.
‘Sudah makan, Mas?’ tanyanya, sambil mengamati Pradipta yang meletakkan tas kerjanya di sofa ruang tengah. Kemeja lengan panjangnya sedikit kusut, dasi dilepas asal.
‘Belum, Ma. Tadi cuma ngopi. Nasi goreng aja ya?’ jawab Pradipta, matanya mengerjap beberapa kali, seolah baru sadar dari lamunan.
‘Boleh. Aku siapin sebentar,’ Nindya membalas, mencoba mengabaikan perasaan janggal yang kembali muncul. Tatapan Pradipta terasa berbeda, sedikit kosong, seolah pikirannya melayang jauh. Ia beranjak menuju kamar, berniat mengganti baju. Sementara menunggu Nindya menyiapkan makan malam, Pradipta meraih ponselnya, membuka aplikasi e-commerce, dan mulai menelusuri berbagai jenis jaket kulit.
Sesampainya di kamar, Nindya melihat Pradipta duduk di tepi ranjang, memunggungi pintu. Ia sedang mengeluarkan dompetnya untuk mencari sesuatu. Nindya berhenti sejenak, memperhatikan gerakan tangan suaminya. Ada sesuatu yang jatuh dari sela-sela dompet itu.
‘Mas, itu apa jatuh?’ tanya Nindya.
Pradipta sedikit terlonjak, lalu berbalik. Wajahnya tampak sedikit pucat. ‘Ah, ini… cuma struk parkir, Ma,’ jawabnya singkat, lalu buru-buru mengambil kertas kecil itu dan melipatnya, memasukkannya kembali ke saku celana yang ia kenakan. Gerakannya terasa sedikit terburu-buru, tidak seperti biasanya.
Nindya mengerutkan kening. Struk parkir? Sejak kapan Pradipta menyimpan struk parkir di dompetnya? Biasanya jika sudah tidak perlu, ia akan langsung membuangnya. Ia melihat sisa makanan di meja makan, ia juga melihat pakaian Pradipta yang masih berserakan di kamar.
‘Oh, ya sudah,’ jawab Nindya pelan. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu bukan apa-apa. Mungkin suaminya hanya lupa membuangnya. Ia lalu melanjutkan kembali ke dapur untuk menyelesaikan nasi goreng. Namun, bayangan kertas kecil yang jatuh dari dompet Pradipta terus terngiang di benaknya. Perasaan tidak enak itu semakin kuat, seperti gumpalan awan gelap yang mulai menutupi langit cerah.
Babak 2 — Genggaman Dingin Kertas
Malam itu, Nindya tidak bisa tidur nyenyak. Setiap kali matanya terpejam, ia seperti melihat kembali gerakan tangan Pradipta yang terburu-buru menyembunyikan kertas kecil tadi. Ia mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca novel di tabletnya, tapi matanya justru tertuju pada tombol *power* yang tak kunjung ia sentuh.
Diam-diam, Nindya bangkit dari ranjang. Ia mengendap-endap ke lemari pakaian Pradipta. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini salah, menggeledah barang suami. Tapi rasa penasaran yang bercampur kecemasan itu jauh lebih besar daripada rasa bersalahnya. Ia membuka laci tempat Pradipta menyimpan pakaian dalamnya. Tidak ada apa-apa.
Lalu pandangannya tertuju pada saku celana yang tadi dikenakan Pradipta saat pulang kerja. Celana itu tergantung rapi di balik pintu lemari. Dengan tangan gemetar, Nindya merogoh saku kanan. Jemarinya menyentuh sesuatu yang terasa seperti kertas. Ia menariknya keluar.
Itu dia. Kertas kecil yang sama. Lebih kecil dari struk parkir pada umumnya. Warnanya putih, dengan tulisan yang samar. Nindya mencoba menyalakan senter ponselnya. Cahaya redup itu menerangi secarik kertas yang ternyata adalah sebuah kwitansi. Bukan kwitansi parkir. Tapi sebuah kwitansi dari sebuah toko perhiasan mewah yang terkenal di pusat kota.
‘Toko Perhiasan Berlian Nusantara,’ ia membaca samar-samar tulisan di bagian atas kwitansi. Tangannya mulai dingin. Ia membalik kwitansi itu. Di sana tertera tanggal hari ini, jam pulang kerja Pradipta, dan sebuah item pembelian: ‘Cincin Solitaire – 1 karat – Berlian Emas Putih’. Totalnya tertulis dengan tinta biru tebal, angka yang membuatnya sesak napas.
Nindya terduduk lemas di lantai dingin kamar Pradipta. Ia mencengkeram kwitansi itu erat-erat. Jantungnya berdegup tak karuan. Rasanya seperti ada palu godam yang menghantam dadanya berulang kali. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, namun ia berusaha keras menahannya agar tidak jatuh. Ia tidak ingin terlihat lemah. Terutama di hadapan dirinya sendiri.
Ia berulang kali membaca baris demi baris di kwitansi itu. Cincin solitaire? Berlian? Untuk siapa? Pertanyaan itu berputar-putar di kepalanya, membentur dinding pikirannya. Ia teringat percakapan Pradipta di telepon beberapa minggu lalu, saat ia pura-pura tidak mendengar dari balik pintu kamar mandi.
‘Sayang, sabar ya. Sebentar lagi aku akan memberikan sesuatu yang istimewa untukmu. Tunggu saja tanggal mainnya,’ kata Pradipta saat itu. Nindya mengira suaminya sedang membicarakan kejutan ulang tahunnya yang memang sebentar lagi.
Kini, semua terangkai menjadi satu. Kejutan untuknya? Atau untuk orang lain? Genggaman tangannya pada kwitansi itu semakin erat, hingga kertas itu mulai kusut. Sensasi dingin dari kertas itu menjalar ke seluruh tubuhnya, seolah menjadi simbol dari dinginnya pengkhianatan yang baru saja ia rasakan.
Babak 3 — Jejak Digital yang Menghujam
Pagi itu, suasana sarapan terasa hambar. Nindya mencoba bersikap normal, menyiapkan kopi dan roti bakar seperti biasa. Namun, setiap kali Pradipta berbicara, ia merasa seperti sedang mendengarkan suara orang asing. Tatapannya yang dulu hangat kini terasa dingin, senyumnya tak lagi menyentuh matanya.
‘Ma, nanti sore aku ada acara makan malam sama klien di Restoran Anggrek. Mungkin pulangnya agak malam,’ kata Pradipta, sambil mengoleskan selai pada rotinya.
Nindya hanya mengangguk pelan. ‘Oke, Mas. Hati-hati.’ Ia berusaha menjaga suaranya agar tetap stabil, tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan yang bergolak di dalam dadanya.
Setelah Pradipta berangkat, Nindya segera mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi *chat* mereka. Tanggal pembelian cincin di kwitansi itu adalah empat hari lalu. Ia membuka riwayat percakapan mereka di hari itu. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya percakapan biasa tentang kegiatan masing-masing.
Namun, rasa tidak puas terus menggelitiknya. Ia teringat Pradipta sering menggunakan *password* yang sama untuk beberapa akunnya. Dengan sedikit ragu, Nindya mencoba membuka akun media sosial Pradipta yang tersimpan di ponselnya. Ia tahu ini lancang, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia mencoba *password* hari lahirnya, tapi salah.
Ia mencoba tanggal pernikahan mereka. Berhasil.
Jantungnya berdegup kencang saat halaman profil Pradipta terbuka. Ia segera membuka bagian foto-foto. Di sana, ia melihat berbagai foto kegiatannya bersama teman-teman kantor, foto liburan mereka tahun lalu, dan… sebuah foto profil baru.
Foto profil itu adalah gambar tangan seorang wanita yang memegang sebuah cincin solitaire berkilauan, dengan latar belakang yang tampak seperti jendela kaca besar dengan pemandangan kota di malam hari. Di bawahnya, tertulis sebuah *caption* singkat yang membuat dunia Nindya serasa berhenti berputar: ‘Terima kasih, cintaku. Aku mencintaimu.’
Nindya terdiam. Dunia serasa runtuh di sekelilingnya. Ia tidak bisa bernapas. Ia menatap nanar foto itu, mencoba mencari tahu siapa wanita itu. Ia mengklik foto itu untuk memperbesar. Terdengar suara notifikasi dari ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Pradipta.
‘Ma, aku lupa bawa charger. Tolong antar ke kantorku ya? Nanti aku kasih tahu nomor resepsionis.’
Nindya menatap layar ponselnya, lalu kembali menatap foto profil Pradipta. Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di benaknya. Ia harus tahu siapa wanita itu. Ia harus melihat wajahnya. Ia harus mengkonfrontasi suaminya.
Ia membalas pesan Pradipta. ‘Oke, Mas. Aku segera ke sana.’
Tangannya tetap gemetar, namun kali ini ada tekad yang membara di dalam dirinya. Ia tidak akan membiarkan dirinya hancur begitu saja. Ia akan mencari kebenaran, sepedih apapun itu.
Babak 4 — Konfrontasi di Lorong yang Dingin
Nindya tiba di gedung perkantoran Pradipta sekitar pukul lima sore. Udara di lobi terasa dingin dan steril. Ia memberikan nama Pradipta kepada resepsionis, lalu naik ke lantai yang ditunjukkan. Gedung itu menjulang tinggi, cermin berbagai sudutnya memantulkan langit senja yang mulai meredup.
Sesampainya di depan pintu ruangan Pradipta, Nindya menarik napas dalam-dalam. Ia bisa mendengar suara tawa dari dalam ruangan. Suara Pradipta terdengar jelas, bercampur dengan suara wanita. Suara yang sama yang terlintas di benaknya saat melihat foto profil suaminya.
Nindya membuka pintu perlahan. Ruangan itu cukup luas, dengan meja kerja Pradipta yang menghadap jendela besar. Di sana, Pradipta sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Wanita itu memiliki rambut sebahu yang tertata rapi, dan ia sedang tertawa sambil memegang gelas wine. Di tangannya, Nindya melihat kilauan yang sama persis dengan yang ada di foto profil Pradipta.
‘Mas,’ panggil Nindya dengan suara tercekat.
Tawa wanita itu seketika berhenti. Pradipta menoleh, wajahnya pucat pasi melihat Nindya berdiri di ambang pintu. Ia seperti tertangkap basah. ‘Ma… kamu… kenapa ke sini?’ tanyanya tergagap.
Wanita di seberang meja Pradipta menoleh. Matanya membelalak kaget, lalu berubah menjadi tatapan kosong. Ia tampak begitu tidak nyaman, menunduk, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memilin-milin ujung bajunya dengan gelisah.
‘Aku… aku mau mengantarkan chargermu,’ jawab Nindya, suaranya bergetar hebat. Ia melangkah masuk, tatapannya tertuju pada cincin di jari wanita itu. ‘Dan… melihat hadiah spesial apa yang kamu berikan.’
Pradipta bangkit dari kursinya. ‘Ma, ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Biar aku jelaskan.’ Suaranya terdengar putus asa.
‘Tidak seperti yang kupikirkan? Jadi, kwitansi dari toko perhiasan itu hanya mimpi? Foto profilmu yang baru itu hanya khayalanku?’ Nindya tertawa getir. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya.
Wanita itu akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya berkaca-kaca. Ia menatap Nindya dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga sedikit kesedihan yang mendalam. Ia seperti orang yang terjebak dalam situasi yang tak ia inginkan.
‘Maafkan aku,’ bisik wanita itu, suaranya hampir tidak terdengar.
‘Memaafkan apa?’ tanya Nindya, suaranya meninggi. ‘Memaafkan perbuatanmu? Atau meminta maaf karena sudah menghancurkan hidupku?’
Pradipta mencoba meraih tangan Nindya, namun Nindya menepisnya kasar. ‘Jangan sentuh aku!’ teriaknya. Ia merasa mual melihat suaminya, melihat wanita itu, melihat cincin di jari wanita itu. Semuanya terasa begitu salah, begitu menyakitkan.
Babak 5 — Pilihan yang Menggantung
Nindya berbalik, melangkah keluar dari ruangan Pradipta tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Ia berjalan cepat menyusuri koridor kantor yang sepi, tak memedulikan tatapan heran dari beberapa karyawan yang berpapasan dengannya. Ia terus berjalan, hingga akhirnya keluar dari gedung itu dan berlari menuju mobilnya yang terparkir di *basement*.
Ia menyalakan mesin mobilnya, lalu duduk diam di sana. Tangisnya pecah tak terkendali. Ia menangis sejadi-jadinya, membiarkan semua rasa sakit, kecewa, dan marah itu keluar dari dirinya. Suaminya. Orang yang ia cintai, orang yang ia percayai sepenuhnya, telah menghancurkannya.
Di tengah tangisnya, ia teringat kembali kata-kata wanita itu, ‘Maafkan aku.’ Siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa ia yang harus meminta maaf? Apakah ini semua hanya kesalahpahaman besar? Atau… memang pengkhianatan yang tak termaafkan?
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka kembali aplikasi *chat* dengan Pradipta. Pesan terakhir adalah pesannya yang akan mengantarkan *charger*. Ia melihat foto profil Pradipta lagi. Cincin di tangan wanita itu. Kilau berlian yang seharusnya menjadi simbol kebahagiaan, kini terasa seperti duri yang menusuk hatinya.
Nindya menghela napas panjang. Ia tahu ia harus membuat keputusan. Tapi keputusan apa? Kembali pada Pradipta dan mencoba memperbaiki semuanya? Atau pergi, dan memulai hidup baru sendirian?
Pikirannya berputar. Ia teringat kembali semua kenangan indah mereka. Liburan di Bali, tawa mereka saat menonton film komedi, pelukan hangat Pradipta saat ia sedih. Apakah semua itu hanya kepura-puraan?
Tiba-tiba, sebuah pesan masuk berbunyi dari ponselnya. Pesan dari nomor tak dikenal. Nindya ragu untuk membukanya. Namun, rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ia membuka pesan itu.
‘Nindya, ini aku. Wanita yang tadi. Kita perlu bicara. Aku punya penjelasan yang mungkin akan mengubah segalanya. Temui aku di Taman Kota Senja, jam 7 malam nanti. Aku tunggu.’
Nindya menatap layar ponselnya. Taman Kota Senja. Jam 7 malam. Penjelasan yang akan mengubah segalanya? Apa maksudnya? Ia tidak tahu apakah ia harus mempercayai pesan ini. Tapi, di satu sisi, ia juga tidak ingin hidup dalam ketidakpastian dan penyesalan. Mungkin, hanya mungkin, ada secercah harapan di balik semua kepedihan ini. Atau justru ini adalah jebakan lain?
Ia melihat jam di ponselnya. Sudah pukul setengah tujuh. Waktu terus berjalan. Keputusan ada di tangannya. Akankah ia pergi menemui wanita misterius itu, ataukah ia akan mengunci rapat hatinya dan membiarkan luka ini mengering sendiri? Nindya menarik napas dalam-dalam, matanya menatap kosong ke depan, terombang-ambing di antara kebingungan dan harapan yang sangat tipis.
