Kisah Nindya: Saat Dompet Suami yang Kosong Bukan Sekadar Boros Biasa
Babak 1 — Dompet Yang Selalu Kosong
Nindya menyibak helai rambut yang jatuh ke dahinya, senyumnya sedikit merekah saat melihat Pradipta yang sedang sibuk dengan laptopnya di ruang kerja. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Di luar, suara rintik hujan terdengar semakin deras, memantul di kaca jendela apartemen mereka. Pradipta menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi. Ia terlihat lelah. Sudah hampir seminggu ini ia bekerja lembur terus-menerus, seringkali pulang larut malam, bahkan sesekali menginap di kantor. Nindya tidak pernah mengeluh. Ia paham betul betapa pentingnya proyek besar yang sedang ditangani suaminya itu. Baginya, dukungan adalah kunci utama dalam pernikahan mereka.
“Capek, Mas?” tanya Nindya lembut, sambil membawa secangkir teh hangat ke meja kerja Pradipta. Aroma melati dari teh itu sedikit menenangkan suasana yang terasa tegang karena tekanan pekerjaan. Ia meletakkannya dengan hati-hati di samping tumpukan kertas yang menggunung.
Pradipta menoleh, balas tersenyum. “Sedikit. Tapi sudah hampir selesai, kok. Tinggal beberapa bagian lagi.” Ia meraih cangkir teh itu, menyeruputnya perlahan. “Terima kasih, Nind.” Suaranya terdengar serak, efek dari terlalu banyak bicara di kantor.
Nindya hanya mengangguk, membiarkan Pradipta kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Ia lalu beranjak ke dapur, memeriksa sisa bahan makanan di kulkas. Besok adalah akhir pekan, ia berencana membuat Nasi Goreng Spesial kesukaan Pradipta, ditambah udang dan bakso. Tapi melihat isi kulkas yang minim, ia harus segera membuat daftar belanja. Sedikit mengerutkan kening, Nindya merasa ada yang janggal. Sejak kapan Pradipta begitu boros? Kartu kredit suaminya selalu saja limit terlampaui setiap bulan. Padahal, ia tahu betul Pradipta bukan tipe pria yang suka foya-foya. Ia selalu berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu yang tidak perlu. Setiap kali Nindya bertanya, Pradipta hanya menjawab enteng, “Ada proyek yang butuh biaya operasional lebih, Sayang. Nanti juga kembali kok.” Namun, entah mengapa, rasa cemas mulai merayapi hati Nindya. Dompet suaminya yang sering ia rapikan, selalu terasa ringan. Uang tunai di dalamnya tak pernah lebih dari seratus ribu rupiah, padahal ia tahu Pradipta sering menerima pembayaran cash dari kliennya. Ia sering menemukan struk-struk parkir yang menumpuk di saku celana Pradipta, struk parkir di pusat perbelanjaan mewah, bahkan kadang beberapa struk pembelian voucher game online yang entah untuk siapa. Anehnya lagi, Pradipta tidak pernah terlihat memainkan game di ponselnya. Nindya berusaha menepis pikirannya. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Pradipta adalah suaminya, ia percaya padanya. Benar kan?
Babak 2 — Keterkejutan Di Balik Ketenangan
Sabtu pagi itu, Nindya memutuskan untuk merapikan ruang kerja Pradipta selagi suaminya sedang berolahraga di gym. Ia ingin memberikan kejutan kecil dengan menata semuanya agar terlihat lebih rapi. Sambil membereskan tumpukan kertas, ia menemukan sebuah dompet kulit berwarna cokelat tua tergeletak di bawah meja, nyaris tak terlihat. Dompet itu bukan dompet Pradipta. Dompet suaminya terbuat dari kulit hitam yang lebih tipis, sedikit tergores di beberapa bagian karena sering dipakai. Nindya mengambilnya dengan ragu. Kancing magnetnya terasa kokoh. Jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Ia mencoba membukanya. Kosong. Tidak ada kartu identitas, tidak ada kartu kredit, bahkan tidak ada selembar uang pun di dalamnya. Hanya aroma parfum maskulin yang samar-samar tercium, aroma yang tidak pernah Nindya kenali sebagai parfum Pradipta.
Tangannya sedikit gemetar saat ia membuka bagian lain dari dompet itu. Ia menemukan sebuah slot kartu yang agak tersembunyi. Di dalamnya, terselip sebuah kartu debit dengan logo sebuah bank yang tidak terlalu umum di Indonesia, disertai sebuah nama yang sama sekali tidak ia kenali: ‘Bima Sakti’. Ia menelan ludah. Siapa Bima Sakti? Dan kenapa kartu debitnya ada di dalam dompet ini, di ruang kerja suaminya? Nindya mencoba mengabaikan rasa panik yang mulai merayap. Mungkin ini dompet milik salah satu rekan Pradipta yang tertinggal. Tapi Pradipta sangat berhati-hati dengan barang-barangnya, apalagi dompet. Ia tidak mungkin ceroboh meninggalkan dompet orang lain di mejanya tanpa memberitahukannya.
Ia terus mengobrak-abrik isi dompet itu, bukan karena rasa ingin tahu yang jahat, tapi karena dorongan kuat untuk memastikan. Di slot foto, bukan foto keluarga atau foto sang istri yang ia temukan. Melainkan, sebuah foto selfie seorang pria muda, tersenyum lebar, dengan latar belakang pemandangan kota yang samar-samar terlihat seperti kawasan Jakarta Pusat di malam hari. Pria itu tampan, dengan gaya rambut yang trendi dan sedikit kumis tipis. Nindya merasakan udara di sekelilingnya menipis. Ia membuka slot bagian lain. Di sana, terselip sebuah kartu nama. Tertulis sebuah nama perusahaan teknologi yang cukup besar di bilangan SCBD, dengan nomor telepon dan alamat email yang tertera jelas. Di bawahnya, tertera jabatan: ‘Project Manager’.
Tiba-tiba, suara Pradipta dari luar apartemen membuat Nindya tersentak. “Sayang, aku pulang!” Ia buru-buru mengembalikan dompet itu ke tempat semula, tepat di bawah meja. Ia membersihkan keringat dingin yang membasahi keningnya. Ia berusaha mengatur napas agar tidak terlihat mencurigakan. Ia merasa seperti maling di rumahnya sendiri. Saat Pradipta masuk ke ruang kerja, ia hanya tersenyum kaku. Pradipta tampak tidak menyadari kegelisahan Nindya, ia langsung menuju lemarinya untuk berganti pakaian.
Babak 3 — Jejak Digital dan Kenangan Pahit
Malam itu, Nindya tidak bisa tidur. Bayangan dompet cokelat dan kartu nama ‘Bima Sakti’ terus berkelebat di benaknya. Rasa curiga yang selama ini ia coba tepis kini semakin menguat. Ia meraih ponselnya, diam-diam membuka aplikasi perbankan milik Pradipta yang pernah ia simpan untuk membantu suaminya saat lupa password. Ia ingat, Pradipta pernah mengajarkannya cara menggunakan aplikasi tersebut untuk melakukan transfer cepat. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia mencari mutasi rekening. Ia mencari transaksi yang mencurigakan, transaksi yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka. Dan di sana, ia menemukannya. Serangkaian transaksi transfer dana ke nomor rekening yang tidak dikenali, semuanya berjumlah lumayan besar, terjadi setiap kali Pradipta mengeluh ada biaya operasional proyek yang membengkak. Tanggal-tanggal transaksi itu nyaris selalu bersamaan dengan ia menemukan struk parkir atau struk pembelian barang yang tidak ia inginkan.
Ia juga mencoba mencari ‘Bima Sakti’ di berbagai platform media sosial. Setelah beberapa kali mencoba dengan nama yang berbeda, akhirnya ia menemukan sebuah akun Instagram dengan foto profil pria yang sama seperti di dompet itu. Akunnya memang tidak terlalu aktif, namun jejak digitalnya cukup terlihat. Di sana, ia melihat foto-foto pemandangan kota yang indah, beberapa foto profesional yang menampilkan pria itu sedang berdiskusi dengan timnya di sebuah kantor modern, dan yang paling membuat Nindya tercengang, beberapa foto Pradipta bersama pria itu. Mereka terlihat akrab, tertawa bersama di sebuah restoran mewah, bahkan berfoto di depan sebuah mobil sport berwarna merah yang Nindya tidak pernah lihat sebelumnya.
Nindya merasa dunianya runtuh. Pradipta bukan hanya menghabiskan uang untuk ‘operasional proyek’. Ia menghabiskan uang untuk ‘Bima Sakti’. Tapi untuk apa? Nindya teringat kembali masa-masa awal pernikahan mereka. Saat itu, kondisi keuangan Pradipta belum stabil. Ia harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Suatu ketika, mereka nyaris tidak bisa membayar uang sewa kontrakan. Nindya pernah menawarkan untuk bekerja paruh waktu di sebuah kafe dekat rumah mereka, namun Pradipta menolak mentah-mentah. “Kamu tidak perlu bekerja, Sayang. Cukup urus rumah ini. Aku akan berusaha sendiri. Aku janji, tidak akan pernah membiarkanmu kekurangan,” kata Pradipta kala itu, dengan tatapan penuh keyakinan.
Kini, Nindya melihat semua itu dengan perspektif yang berbeda. Janji Pradipta yang dulu terasa manis, kini terasa getir. Apakah semua ini adalah cara Pradipta untuk menepati janjinya? Atau justru ini adalah pengkhianatan terbesarnya? Kenapa Pradipta harus menyembunyikan ini darinya? Nindya menatap layar ponselnya, tangannya terkepal erat. Air mata mulai mengalir tanpa bisa dibendung. Ia merasa tertipu, dibohongi oleh pria yang paling ia cintatani. Ia merasa rapuh dan sendirian, meski Pradipta tertidur pulas di kamar sebelah.
Babak 4 — Konfrontasi Diam-Diam
Keesokan paginya, Nindya memutuskan untuk menghadapi Pradipta. Bukan dengan teriakan atau amarah, melainkan dengan ketenangan yang dingin. Ia sudah menyiapkan segalanya. Ia memasak sarapan seperti biasa, menata meja makan dengan rapi. Pradipta keluar kamar, senyumnya sedikit terpatah karena kurang tidur, namun ia berusaha terlihat ceria. “Selamat pagi, Istriku,” sapanya sambil mengecup kening Nindya sekilas.
Nindya hanya tersenyum tipis, tangannya bergerak cepat mengambil selembar struk parkir yang terlipat rapi di dekat tumpukan buah. Ia meletakkannya di samping piring sarapan Pradipta. “Pagi, Mas. Tadi malam lupa dimasukkan ke saku, ya?” nadanya datar, namun menyimpan getaran yang sulit diartikan.
Pradipta terdiam sejenak, matanya menatap struk itu. Kerutan di dahinya semakin dalam. Ini bukan struk parkir biasa; ini adalah struk pembelian perhiasan dari sebuah toko ternama di pusat perbelanjaan. “Oh, ini… ini buat kejutan buat kamu,” ucapnya, berusaha keras tersenyum wajar. “Kemarin aku lihat ada kalung bagus, cocok buat kamu.”
Nindya tidak terpengaruh. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari balik celemeknya. Amplop yang sama dengan yang sering ia temukan di saku Pradipta, namun kali ini isinya bukan uang. Ia membuka amplop itu, mengeluarkan beberapa lembar foto. Foto-foto Pradipta dan Bima Sakti. Di restoran mewah, di depan mobil sport, bahkan di sebuah acara kantor yang terlihat resmi. “Kejutan apa ini, Mas? Apa kamu mau memberi kejutan lagi untukku? Seperti kejutan saat kamu menghabiskan uang kita untuk pria bernama Bima Sakti ini?” suara Nindya bergetar, namun ia berusaha mengendalikan diri. Ia meletakkan foto-foto itu berjejer di meja makan.
Pradipta terkejut bukan main. Wajahnya pucat pasi. Ia menatap Nindya, lalu menatap foto-foto itu, tak mampu berkata-kata. Mulutnya terbuka, namun suara yang keluar hanyalah gumaman tak jelas. “Kamu… kamu menemukan ini dari mana?” tanyanya lirih, matanya mencari jawaban di mata Nindya.
“Aku tidak peduli aku menemukannya dari mana. Yang aku pedulikan adalah, kenapa semua ini terjadi? Kenapa kamu membohongiku?” Nindya menatap lurus ke mata suaminya. Ia melihat kepanikan di sana, tapi juga sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuatnya semakin bingung. Ia melihat Bima Sakti di foto-foto itu, pria yang memiliki dompet cokelat dan kartu debit itu. Tapi kenapa Pradipta terlihat begitu dekat dengannya? Apa sebenarnya hubungan mereka?
Tiba-tiba, Pradipta membanting sendoknya ke meja. Ia bangkit dari kursinya, tangannya terkepal. Ia tidak marah pada Nindya, tapi pada dirinya sendiri. “Aku… aku tidak bisa jelaskan sekarang, Nind. Aku butuh waktu. Ini… ini rumit.” Ia bergegas menuju pintu keluar apartemen, tanpa menyentuh sarapannya sedikitpun.
Babak 5 — Gantung yang Mengiris
Nindya terduduk lemas di kursi makan. Pradipta pergi begitu saja, meninggalkannya dengan berbagai pertanyaan yang menggantung. Ia menatap amplop cokelat di tangannya, lalu ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat. Ia merasa hampa. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Pergi menyusul Pradipta? Mencoba mencari Bima Sakti? Atau menunggu Pradipta kembali dan menjelaskan segalanya? Pikirannya berputar tanpa henti. Ia membuka kembali aplikasi perbankan di ponselnya, kali ini ia mencari informasi lebih detail tentang transaksi-transaksi yang ia temukan. Ia melihat nomor rekening tujuan transfer dana itu. Dan sebuah nama tertera di sana: ‘Bima Sakti’. Namun, di bawah nama itu, ada keterangan tambahan yang membuatnya semakin terperanjat: ‘Dana Pendidikan Anak’. Dana Pendidikan Anak? Untuk siapa?
Nindya teringat kembali obrolan Pradipta dengan seorang teman lamanya beberapa bulan lalu. Pradipta terdengar membahas tentang seorang anak yang membutuhkan bantuan beasiswa, anak dari teman lamanya yang meninggal dunia beberapa tahun lalu, meninggalkan seorang istri dan anak yang masih kecil. Pradipta saat itu mengatakan ingin membantu, namun ia tidak punya banyak dana. Apakah Bima Sakti ini adalah pria yang dimaksud Pradipta? Dan apakah uang-uang itu bukan untuk perselingkuhan, melainkan untuk membantu anak itu mendapatkan pendidikan yang layak? Tapi kenapa harus dilakukan diam-diam? Kenapa Pradipta harus berbohong tentang operasional proyek? Dan siapa sebenarnya Bima Sakti ini? Apakah ia hanya sekadar teman Pradipta yang juga peduli pada anak itu, atau ada hubungan yang lebih dalam?
Nindya menatap keluar jendela. Hujan sudah reda, namun langit masih kelabu. Ia merasa seperti sedang berada di persimpangan jalan. Satu sisi, ia merasa Pradipta tidak bersalah dalam hal perselingkuhan, namun ia bersalah dalam hal kejujuran. Di sisi lain, ia merasa semua ini terlalu rumit untuk ia pahami sendirian. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, ia harus mencari tahu kebenarannya. Bukan untuk menyalahkan Pradipta, tapi untuk memahami. Untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka. Ia meraih dompet cokelat yang ia temukan kemarin, membolak-baliknya. Di salah satu slot tersembunyi, ia menemukan secarik kertas kecil yang terlipat rapi. Di atas kertas itu, tertulis sebuah alamat dan jam, beserta tulisan tangan yang agak terburu-buru: ‘Tolong bantu saya. Saya butuh penjelasan.’ Jantung Nindya berdetak kencang. Siapa yang menulis ini? Bima Sakti? Atau Pradipta?
