Cerpen Perselingkuhan: Bukan Soal Transfer Dini Hari, Tapi Notifikasi Ini yang Membungkamku

Cerpen Perselingkuhan: Bukan Soal Transfer Dini Hari, Tapi Notifikasi Ini yang Membungkamku

CERITA PENDEK

Cerpen Perselingkuhan: Bukan Soal Transfer Dini Hari, Tapi Notifikasi Ini yang Membungkamku

Babak 1: Keheningan yang Berisik

Notifikasi itu muncul tepat pukul 02:17 dini hari. Sebuah bunyi lirih, nyaris tak terdengar di antara dengkur halus Jatmiko di sampingku, tapi cukup untuk membuat mataku langsung terbuka lebar. Layar ponselku yang gelap itu kini berpendar menerangi wajahku, menampilkan barisan teks yang membuat napasku tercekat: ‘Rp 250.000 ditransfer ke Rekening **0812xxxx** (Atas Nama: **Ayu**) – GoPay’. Bukan nama Ayu yang membuatku membeku. Bukan nominalnya, meskipun 250 ribu rupiah itu lumayan untuk sekali transfer tidak dikenal di jam tak lazim begini. Yang membuatku terpaku adalah fakta bahwa nomor rekening itu, nomor yang tertera persis di bawah nama Ayu, sama persis dengan nomor rekening yang terdaftar di akun GoPayku. Dan yang lebih mengerikan lagi, nama di baliknya: Jatmiko.

Aku membalikkan badan perlahan, berusaha tak bersuara. Jatmiko masih terlelap, napasnya teratur, tidak menunjukkan tanda-tanda gelisah atau mimpi buruk. Tanganku meraih ponselnya yang tergeletak di nakas. Layar terkunci. Jantungku berdegup lebih kencang. Aku tidak pernah punya alasan untuk memeriksa ponsel suamiku. Kami selalu terbuka. Setidaknya, itu yang selalu kukatakan pada diriku sendiri setiap kali ia pulang terlambat, setiap kali ia lebih sering menatap layar ponselnya daripada mataku.

Pukul 02:25. Aku masih mematung di ranjang, memandang siluet suamiku. Gendis. Nama yang harusnya kubawa di akhir namaku ini terasa begitu jauh. Aku bukan tipe istri yang cemburuan, selalu memercayai Jatmiko sepenuhnya. Bahkan ketika ia sering harus dinas ke luar kota tanpa memberitahuku jauh-jauh hari. ‘Demi pekerjaan, Sayang,’ katanya dengan senyum tulus. Senyum yang selalu membuatku luluh. Senyum yang kini terasa dingin menusuk.

Dengan jari yang sedikit gemetar, aku mengetikkan PIN ponselku. Lima digit yang sangat kuhapal. Dan layar itu terbuka. Semua aplikasi terbuka seperti biasa. Chat WhatsApp, Instagram, Line. Aku scroll ke bawah, mencari aplikasi Gojek. Tidak ada. Dia pasti sudah menghapusnya. Atau mungkin tidak pernah mengunduhnya di ponsel ini. Pikiran itu terlintas, tapi langsung kutepis. Tidak mungkin.

Aku kembali ke notifikasi yang muncul di ponselku tadi. Mencari nama ‘Ayu’ di kontak ponselku. Nihil. Mencari nomor ‘0812xxxx’ di daftar panggilan atau pesan. Nihil. Seolah notifikasi itu adalah hantu digital yang tiba-tiba muncul lalu menghilang dalam kegelapan malam. Tapi aku tahu apa yang kulihat. Rp 250.000. Ditransfer ke rekening yang sama dengan rekeningku. Atas nama Ayu.

Pagi harinya, aku bangun lebih awal. Jatmiko masih tidur. Aku membuatkan sarapan nasi uduk dan teh hangat seperti biasa. Aroma bumbu nasi uduk yang menggugah selera seolah mengejek perasaanku yang kalut. Aku duduk di meja makan, memandanginya yang akhirnya bergerak bangun. Senyumnya seperti biasa. Hangat, menenangkan. Tapi hari ini, senyum itu terasa asing.

“Pagi, Sayang,” sapanya lembut, mendekat untuk mengecup keningku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis. Rasa dingin masih merayap di ulu hatiku. Aku menyajikannya nasi uduk.

“Kamu kok diam saja?” tanyanya sambil menyuap nasi uduk. “Semalam tidurnya nyenyak?”

“Nyenyak sekali,” jawabku, berusaha terdengar normal. Perutku terasa mual. Aku merasa seperti aktris yang sedang memerankan adegan paling penting dalam hidupku, di mana kebohongan adalah satu-satunya dialog yang kupunya.

Babak 2: Jejak Digital yang Tak Terhapus

Sepanjang hari di kantor, pikiranku melayang. Aku terus memutar ulang kejadian semalam. Notifikasi itu. Nama Ayu. Nomor rekening yang sama. Tangan Rengganis, desainer grafis di sebelahku, tiba-tiba menepuk bahuku, membuatku tersentak. Ia baru saja menjejalkan secangkir kopi ke tanganku.

“Nih, Mbak Gendis. Kopi biar nggak ngantuk terus,” katanya sambil tersenyum. Matanya menatapku penuh selidik.

“Oh, makasih, Nis,” jawabku, meraih cangkir itu. Tanganku sedikit bergetar, menumpahkan sedikit kopi panas ke telapak tanganku. Ah, sial. Sakitnya terasa, tapi tak sebanding dengan rasa sakit yang menjalar di hatiku.

“Mbak Gendis nggak apa-apa? Kok pucat?” tanya Rengganis lagi. Aku hanya menggeleng, pura-pura tersenyum. “Cuma kurang tidur aja kok,” kataku. Padahal, aku sama sekali tidak tidur nyenyak.

Setelah Rengganis kembali ke mejanya, aku langsung membuka laptopku. Aku bukan orang yang pandai dalam urusan teknologi, tapi aku harus mencoba. Aku membuka browser Chrome, tempat Jatmiko sering membuka email dan media sosialnya. Ia biasanya lupa untuk keluar dari akun-akunnya. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus tahu.

Aku membuka riwayat pencarian. Berharap menemukan sesuatu, apa pun yang bisa memberiku petunjuk. Jasa titip dari Singapura, review hotel di Bali, artikel tentang saham. Semua tampak normal. Sampai aku menggulir lebih jauh ke bawah. Ada riwayat pencarian yang aneh. Kata kunci yang sama berulang kali: ‘cara mengganti nomor rekening GoPay’, ‘menghapus riwayat transaksi GoPay’, ‘nomor rekening GoPay palsu’. Dan yang paling membuatku merinding: ‘aplikasi untuk memantau rekening bank pasangan’.

Degup jantungku semakin cepat. Riwayat pencarian ini tentu saja bukan milik Jatmiko. Ia bukan tipe orang yang akan mencari cara untuk ‘memantau’ rekeningku. Ia terlalu percaya padaku. Atau… apakah aku yang terlalu percaya padanya? Pikiran itu terus berputar, bagai kaset rusak.

Aku melanjutkan pencarian di history itu. Tanggal-tanggalnya berdekatan dengan tanggal-tanggal saat Jatmiko harusnya melakukan perjalanan dinas. Tiba-tiba, aku teringat notifikasi itu. Pukul 02:17. Apakah dia baru saja melakukan transaksi? Atau menerima transaksi?

Aku membuka aplikasi Gojek di ponselku. Aku dan Jatmiko memiliki akun GoPay yang terhubung, itu memudahkan kami jika salah satu ingin mentransfer uang tanpa perlu repot. Aku membuka riwayat transaksi di akunku. Ada beberapa transaksi yang ia lakukan untukku, dan sebaliknya. Tapi tidak ada transaksi dengan nama ‘Ayu’ atau ke nomor rekening yang sama dengan rekeningku. Atau… apakah dia menggunakan nomor rekening lain?

Aku mencoba menelusuri nomor telepon ‘0812xxxx’. Ternyata nomor itu tidak terdaftar di aplikasi kontak manapun. Tidak ada jejaknya di media sosial. Seolah nomor itu sengaja dibuat anonim untuk tujuan tertentu. Perasaan dingin kembali menyelimuti tubuhku.

Babak 3: Kenangan yang Berkhianat

Aku ingat sebuah percakapan minggu lalu. Jatmiko sedang menelepon seseorang, suaranya terdengar sedikit panik. Ia berada di ruang kerja, pintunya tertutup rapat. Aku hanya mendengar sepenggal kalimat, “Bisa nggak kita ketemu sebentar? Aku perlu bicarakan ini baik-baik.” Setelah menutup telepon, ia keluar dengan wajah sedikit kusut. Aku bertanya apa yang terjadi, tapi ia hanya bilang itu urusan kantor yang rumit.

Sekarang, aku mulai menghubungkan titik-titik itu. Panik di teleponnya. Riwayat pencarian tentang ‘memantau rekening pasangan’. Notifikasi transfer dini hari. Dan kini, aku membuka sebuah aplikasi bernama ‘MyCloud’ di laptop Jatmiko. Ia pernah bilang itu adalah aplikasi untuk menyimpan foto dan video cadangan. Aku membuka folder ‘Liburan Bandung 2022’. Pemandangan gunung dan foto-foto kami berdua yang bahagia. Kemudian aku membuka folder ‘Dokumen Kantor’. Ada banyak file penting di sana, tapi ada satu file yang menarik perhatianku. Sebuah file PDF bernama ‘Kuitansi Parkir Lembang_15Nov2022.pdf’.

Aku terdiam. November tahun lalu. Jatmiko bilang ia sedang ada rapat penting di Jakarta hingga larut malam. Ia bahkan mengirimiku foto gedung perkantoran tempat rapatnya. Tapi kuitansi parkir ini tertera jelas: ‘Tempat Wisata Tangkuban Perahu, Lembang’. Tanggalnya sama persis. Dan di bawahnya, ada goresan yang terlihat seperti tanda tangan, dengan inisial ‘A.Y.’.

A.Y. Ayu. Apakah ini kebetulan? Atau takdir yang sedang mempermainkanku? Aku membuka foto-foto di folder yang sama. Ada foto Jatmiko dengan seorang wanita. Wanita itu memegang sebuah gelang yang sama persis dengan gelang yang kutemukan di saku jaket Jatmiko kemarin. Jaket yang ia pakai saat pulang dari ‘dinas’ ke Surabaya.

Gelang itu… aku ingat aku pernah melihatnya. Di sebuah toko perhiasan di Cihampelas Walk, Bandung, beberapa bulan lalu. Aku pernah bilang aku suka gelang itu. Tapi Jatmiko bilang harganya terlalu mahal. Dan sekarang gelang itu ada di tangannya, bersama wanita lain. Wanita yang inisialnya sama dengan nama di notifikasi GoPayku.

Aku menutup laptop Jatmiko dengan kasar. Suara kliknya terdengar begitu keras di ruangan yang sunyi. Aku merasa dunia berputar. Selama ini aku hidup dalam kebohongan. Semua perjalanan dinasnya, semua lembur malamnya, semua kerahasiaannya… kini terkuak satu per satu. Bukan hanya sekadar transfer uang, tapi pengkhianatan yang terselubung dalam setiap alasan yang ia berikan.

Aku kembali ke ponselku. Mencoba mencari nomor ‘0812xxxx’ lagi di aplikasi Gojek, tapi kali ini di akunku. Jika Jatmiko mentransfer uang ke rekening yang sama dengan rekeningku, itu berarti transaksi tersebut seharusnya muncul di riwayatku. Aku scroll terus ke bawah. Transaksi terakhir adalah saat aku membeli mie ayam via GoFood minggu lalu. Tidak ada nama ‘Ayu’. Tidak ada nominal 250 ribu. Tidak ada apa pun yang mencurigakan.

Tapi bagaimana jika… bagaimana jika ia menggunakan nomor rekening yang terdaftar di akun lain? Akun Gojek yang ia pakai, yang terhubung dengan nomor teleponnya sendiri?

Aku membuka aplikasi Gojek di ponsel Jatmiko yang tadi sempat kuakses. Kali ini aku membuka riwayat transaksinya. Dan di sanalah ia. Rp 250.000 ditransfer ke 0812xxxx, atas nama Ayu. Tanggal transaksi: 02:17 dini hari. Tanggal hari ini. Aku menarik napas dalam. Ini bukan mimpi. Ini nyata.

Babak 4: Konfrontasi Tanpa Kata

Jatmiko pulang sore itu dengan senyum seperti biasa. Ia membawa sekotak martabak keju kesukaanku. Ia mencium pipiku, lalu duduk di sofa sambil menyalakan TV. Aku duduk di seberangnya, memegang secangkir teh hangat yang tak pernah kusentuh.

“Sayang, aku capek banget hari ini,” katanya, merebahkan kepala di pangkuanku. Aku diam saja. Tanganku yang seharusnya membelai rambutnya kini terkepal erat di pangkuan.

“Ada apa, Gendis?” tanyanya, merasakan perubahanku. Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, mencari celah kebohongan di matanya yang dulu begitu kucintai.

Akhirnya, aku bangkit berdiri. Aku berjalan ke meja makan, mengambil ponselku. Lalu aku menaruhnya di hadapan Jatmiko. Layar menyala, menampilkan notifikasi transfer dini hari tadi. Rp 250.000 ke rekening 0812xxxx, atas nama Ayu.

Jatmiko menatap ponsel itu. Matanya melebar sesaat, lalu ia mencoba tersenyum. “Oh, itu… itu salah transfer, Sayang. Ada orang salah ketik nomor rekening.”

Aku tertawa. Tawa yang keluar bukan tawa bahagia, melainkan tawa getir yang menusuk telinga. “Salah transfer? Ke rekeningku sendiri, Mas? Dan atas nama Ayu?” Suaraku bergetar.

Wajah Jatmiko berubah pucat. Ia mencoba bangkit, tapi aku menahannya.

“Jangan berbohong lagi, Mas. Aku tahu semuanya. Lembang, November tahun lalu. Kuitansi parkir di Tangkuban Perahu. Gelang itu. Dan Ayu…” Aku tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

Jatmiko terdiam. Ia menunduk, tidak berani menatap mataku. Ia terlihat seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri kue. Canggung. Tak nyaman. Tapi entah mengapa, melihatnya seperti itu justru membuatku semakin sakit. Ini bukan perkelahian drama sinetron yang diwarnai teriakan dan tangisan histeris. Ini adalah keheningan yang mencekam, di mana kebenaran yang pahit terhampar begitu saja di antara kami.

“Maafkan aku, Gendis,” bisiknya akhirnya. Suaranya parau. “Aku… aku tidak bermaksud menyakitimu.”

“Tidak bermaksud?” Aku tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Lalu apa yang sudah kamu lakukan selama ini, Mas? Perjalanan dinas yang panjang, lembur yang tak berujung, semua alasan itu… itu semua untuk dia?” Aku menunjuk ponsel di atas meja. Jatmiko tidak menjawab. Ia hanya terus menunduk.

“Siapa Ayu?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih dingin. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah. Ia terlihat seperti orang yang terjebak, yang tidak tahu harus bagaimana lagi.

“Dia… dia adalah seseorang yang pernah dekat denganku sebelum aku bertemu kamu,” katanya lirih. “Tapi kami sudah putus bertahun-tahun lalu. Aku tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menghubungiku lagi. Dan transaksi itu…” Ia berhenti, menarik napas panjang. “Itu adalah uang yang harus aku kembalikan. Ada masalah pribadinya, dia butuh bantuan mendesak.”

“Masalah pribadi? Sampai harus mentransfer 250 ribu di jam 2 pagi ke rekeningku? Dan kenapa kamu menyimpannya di HP-ku? Kenapa tidak di HP-mu sendiri?” Tuduhan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Jatmiko terdiam lagi, kali ini lebih lama. Ia terlihat bingung, seolah ia sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan itu.

“Aku… aku tidak tahu,” jawabnya akhirnya. Ia terlihat sangat lelah. “Aku hanya… bingung.”

**Babak 5: Gantung di Ujung Perpisahan**

Aku menatap Jatmiko, suamiku. Pria yang pernah mengisi hari-hariku dengan tawa dan janji masa depan. Kini ia duduk di sana, tak berdaya, diliputi rasa bersalah dan kebingungan yang tak bisa ia jelaskan. Aku tidak tahu harus bagaimana. Menjerit? Menangis? Atau pergi saja?

Aku memandang ke luar jendela. Malam sudah semakin larut. Lampu-lampu kota Jakarta berkelip seperti bintang jatuh. Kehidupan di luar sana terus berjalan, seolah tidak peduli dengan badai yang sedang menerjang rumah tanggaku. Aku teringat nasi uduk yang kubuat pagi tadi. Aku teringat teh hangat yang kupersiapkan untuknya. Semua rutinitas yang kubangun dengan cinta, kini terasa begitu hampa.

“Jadi… selama ini, kamu tidak pernah benar-benar ‘dinas’?” tanyaku pelan. Jatmiko menggeleng. Air mata mulai mengalir di pipinya. “Hanya… beberapa kali. Sisanya… aku bersama dia.” Ia mengakui.

Aku memejamkan mata. Rasa sakit itu kembali menyeruak, lebih tajam dari sebelumnya. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Semua sudah terucap. Semua kebohongan sudah terungkap. Tapi kebenaran ini terasa begitu menyakitkan, bagai duri yang tertancap di hati.

Aku mengambil tasku yang tergeletak di dekat pintu. Jatmiko menatapku, matanya memelas. “Mau ke mana, Gendis?” tanyanya. Aku tidak menjawab. Aku hanya berjalan menuju pintu, menarik gagangnya perlahan.

“Aku akan menginap di rumah orang tuaku,” kataku, suaraku terdengar serak. Aku tidak menoleh ke belakang saat melangkah keluar dari apartemen kami. Udara malam yang dingin terasa menyegarkan kulitku. Aku berjalan menuju lift, berharap bisa segera menjauh dari semua ini. Dari Jatmiko. Dari Ayu. Dari semua kebohongan yang telah merusak segalanya.

Saat lift terbuka, aku terpaku. Di depan pintu lift, berdiri seorang wanita. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab. Ia terlihat lelah dan bingung. Di tangannya, ia memegang sebuah tas kecil. Ia menatapku, lalu pandangannya beralih ke arah apartemen kami yang pintunya sedikit terbuka. Wajahnya memucat.

“Maaf,” bisiknya lirih. “Saya… saya mencari Pak Jatmiko.”

Aku menatap wanita itu, lalu kembali menatap pintu apartemen kami. Di ambang pintu, aku bisa melihat Jatmiko berdiri, menatap kami berdua dengan ekspresi tak percaya. Wanita di depanku ini… apakah dia Ayu?

Kami bertiga berdiri di sana, di lorong apartemen yang sunyi, tanpa kata. Terperangkap dalam situasi yang tidak pernah kami inginkan. Sebuah segitiga rumit yang baru saja terbentang di hadapanku. Dan aku tidak tahu, apakah ini awal dari akhir, atau akhir dari segalanya.