Struk E-Toll Ganjil di Dompet Suami: Awal Drama Rumah Tangga yang Tak Terduga?
Kecipak air dari selang cuci mobil masih terngiang di telinga Gendis saat ia memasukkan tangannya ke dalam dompet kulit cokelat milik suaminya, Baskara. Mencari kembalian receh untuk tukang parkir, jemarinya justru bersentuhan dengan benda yang terasa asing – sehelai kertas tipis, struk e-toll.
Bukan struk biasa. Nomor polisi yang tertera di sana bukan milik mobil kesayangan Baskara yang selalu terparkir rapi di garasi rumah mereka di bilangan Kemang. Struk itu mencatat transaksi di gerbang tol Senayan pada pukul 03:17 dini hari. Tiga belas menit setelah tengah malam, Gendis yakin, itu adalah jam yang janggal untuk seorang Baskara, arsitek sukses yang konon paling membenci kemacetan dan selalu punya alasan kuat untuk menghindari keluar rumah di jam-jam tak wajar, apalagi kalau bukan urusan pekerjaan mendesak.
Jantung Gendis berdebar tak keruan. Ia membalik struk itu, berharap menemukan secercah penjelasan. Tapi tak ada. Hanya informasi transaksi yang dingin dan tak bersahabat. Pukul 03:17. Gerbang Tol Senayan. Plat nomor yang bukan miliknya. Mengapa Baskara, suaminya yang selama lima tahun pernikahan selalu ia percaya sepenuhnya, menyimpan bukti perjalanan tak lazim ini?
Pikiran Gendis mulai liar. Bayangan-bayangan mengerikan mulai merayap, memutar film bisu di kepalanya. Siapa yang ia ajak berkencan di jam selarut itu? Dengan mobil siapa? Mengapa ia harus berbohong atau merahasiakannya?
Ia mencoba menenangkan diri. Mungkin ada penjelasan logis. Mungkin Baskara sedang ada proyek darurat yang mengharuskannya keliling Jakarta di jam-jam tak terduga. Mungkin… tapi instingnya berteriak lain. Insting perempuan yang seringkali lebih tajam dari logika akal sehat.
Gendis merogoh kantong celana pendek Baskara yang tergantung di jemuran dekat halaman belakang. Ia mencari ponsel suaminya. Tak ada. Biasanya, Baskara selalu meninggalkan ponselnya di meja nakas sebelum tidur. Malam ini, ponsel itu lenyap.
Kepanikan mulai menjalar, dingin dan merayap. Gendis berjalan ke kamar mereka. Baskara tertidur pulas di sisi kanan ranjang, napasnya teratur, wajahnya damai. Damai yang terasa palsu bagi Gendis saat ini. Ia menatap lekat wajah suaminya. Tiga tahun lalu, wajah inilah yang pertama kali membuatnya jatuh cinta. Tiga tahun lalu, tatapan mata Baskara saat meminangnya di bawah taburan bintang di tepi Danau Toba terasa begitu tulus.
Kini, tatapan itu terasa asing, tertutup misteri yang baru saja ia temukan. Gendis menahan napas, mendengarkan detak jantungnya sendiri yang menggema di keheningan malam. Struk e-toll itu terasa berat di genggamannya, seolah bukan lagi sekadar kertas, melainkan sebuah kunci pembuka pintu neraka rumah tangga yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Ia perlu bukti lebih. Sesuatu yang lebih pasti daripada sekadar struk dan ponsel yang hilang. Tatapannya tertuju pada laptop Baskara yang tergeletak di meja kerja di sudut ruangan. Sebuah ide gila terlintas di benaknya. Sebuah ide yang mungkin akan menghancurkan segalanya, atau justru membebaskannya dari ketidakpastian yang menyakitkan.
Dengan tangan sedikit gemetar, Gendis menyalakan laptop itu. Ia tahu password Baskara. Tiga kali ia salah memasukkannya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia tidak ingin seperti ini. Dia tidak ingin menjadi istri yang gemar mengintai urusan pribadi suaminya. Tapi struk e-toll itu terus berputar di benaknya, sebuah siksaan bisu yang tak kunjung reda.
Akhirnya, layar laptop menyala, menampilkan desktop Baskara. Folder-folder dengan nama proyek yang rumit tersusun rapi. Gendis menarik napas dalam. Ia harus berhati-hati. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan. Ia hanya tahu, malam ini, tidurnya mungkin tak akan nyenyak lagi. Ia memandang ke arah Baskara yang masih terlelap, lalu kembali menatap layar laptop. Ada satu folder yang menarik perhatiannya: ‘Project Phoenix’. Nama itu terdengar asing, tidak pernah ia dengar sebelumnya dari obrolan Baskara mengenai proyek-proyek kantornya.
Apakah ‘Project Phoenix’ adalah alasan di balik perjalanan dini hari itu? Atau hanya sebuah kedok untuk menutupi sesuatu yang jauh lebih kelam? Gendis ragu. Namun, rasa penasaran bercampur dengan rasa sakit yang mulai menggerogoti hatinya, mendorongnya untuk membuka folder itu. Jari-jarinya melayang di atas touchpad, siap membuka tabir misteri yang mungkin akan mengubah segalanya.
Namun, tepat saat ia akan mengklik, suara pintu kamar mandi berderit terbuka mengagetkannya. Baskara berdiri di ambang pintu, rambutnya sedikit basah, seolah baru saja selesai mandi. Tatapannya tertuju pada Gendis yang duduk di depan laptopnya, layar yang memancarkan cahaya redup di kegelapan kamar. Ekspresi Baskara berubah seketika. Senyum tipis yang biasanya menghiasi wajahnya kini lenyap, digantikan oleh sesuatu yang tak bisa Gendis baca. Sesuatu yang dingin dan penuh pertanyaan.
