Dua Belum Pernah Terucap: Apa yang Ditemukan Laras di Dompet Suami?
Tangan Laras sedikit bergetar saat mengembalikan dompet kulit coklat itu ke meja nakas. Bukan karena dinginnya udara pagi di Bandung yang baru menyelinap masuk lewat celah jendela kamar, tapi karena sesuatu yang ia temukan di balik kartu identitas suaminya. Sebuah kuitansi parkir. Bukan sembarang kuitansi parkir, tapi dari tempat parkir sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Aneh. Suaminya, Baskara, semalam bersumpah hanya lembur di kantornya yang berjarak lima kilometer dari rumah.
“Kamu yakin cuma di kantor, Mas?” tanyanya tadi malam, sebelum Baskara masuk kamar mandi. Suaranya datar, mencoba tak menunjukkan kecurigaan yang mulai merayap.
“Iya, Sayang. Lembur dadakan. Bos minta laporan revision. Udah ngantuk banget nih,” jawab Baskara sambil mengacak rambut Laras sekilas, lalu berlalu. Alibi yang sempurna, jika saja Laras tidak iseng membersihkan dompet Baskara yang sedikit berantakan pagi ini. Ia memang bukan tipe istri yang suka menggeledah barang suami, tapi kebiasaan Baskara yang kadang ceroboh—dompet sering terselip sembarangan—membuatnya khawatir.
Laras meraih cangkir teh hangatnya, tatapannya tertuju pada kuitansi parkir itu. Tulisannya samar, tertanggal dua hari lalu. Saat itu, Baskara bilang ia ada rapat makan siang di sebuah restoran dekat kantornya. Restoran yang Laras tahu, persis di sebelah pusat perbelanjaan itu.
Sebuah keraguan kecil yang awalnya sempat ia tepis, kini mulai membuncah. Baskara bukan tipe pendusta. Paling banter, ia pelupa. Tapi ini? Kuitansi parkir dari Jakarta? Dengan jam yang tertera pukul delapan malam?
Ia mencoba mengabaikan perasaan tidak enak itu. Mungkin Baskara lupa memberitahunya. Mungkin ia memang mampir sebentar sepulang kerja sebelum kembali ke kantor. Tapi kenapa harus di pusat perbelanjaan yang terkenal ramai itu? Bukankah ia bilang hanya di restoran dekat kantor?
Laras berdiri, berjalan ke lemari pakaian. Jemarinya meraih salah satu tas jinjing kesayangannya, sebuah tas kulit hitam yang sering ia gunakan saat pergi ke pusat perbelanjaan. Ia membukanya. Di dalamnya masih tersimpan beberapa barang dari kunjungan terakhirnya: dompet kecil, pembatas buku, dan… sebuah tiket bioskop.
Tiket itu untuk film yang sama persis dengan yang Baskara tonton semalam bersama teman-temannya. Bukan tiket yang ia atau Baskara beli. Tiket itu ada di dalam tasnya, tapi ia yakin seribu persen, tiket itu bukan miliknya. Ia bahkan tak ingat pernah membeli atau menerima tiket itu.
Pagi itu terasa lebih dingin dari biasanya. Laras duduk di tepi ranjang, menatap kosong pada kuitansi parkir dan tiket bioskop yang kini tergeletak bersebelahan di atas selimut. Semakin ia mencoba mencari alasan logis, semakin rumit kusut yang ia dapatkan. Baskara bilang ia menonton film itu semalam, bersama rekan kerjanya, Broto dan Jojo. Ia bahkan mengirimkan foto tiket digital mereka di grup chat keluarga.
“Oh, ini pasti milik Broto atau Jojo. Mungkin tertukar saat aku ambil dompet tadi,” gumam Laras pada dirinya sendiri. Tapi pikirannya menolak meyakinkan. Bagaimana jika tiket itu bukan tertukar? Bagaimana jika itu miliknya? Milik siapa?
Ia teringat beberapa minggu lalu. Baskara pernah mengajaknya menonton film yang sama, tapi Laras menolak karena ada acara keluarga di luar kota. Baskara terlihat sedikit kecewa, namun ia mengerti. Lalu, ia ingat lagi. Seminggu setelah itu, ia menemukan sebuah kartu nama terlipat rapi di saku jaket Baskara. Kartu nama seorang terapis pijat di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Saat ia tanya, Baskara hanya bilang itu titipan teman.
“Jakarta Utara. Jakarta Selatan. Apa hubungannya?” Laras memejamkan mata, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang mulai tak beraturan. Ia bukan detektif, bukan pula seorang yang curigaan. Tapi bukti-bukti kecil yang mulai terkumpul ini, bagai serpihan puzzle yang membentuk sebuah gambaran mengerikan.
Ia membuka aplikasi chat-nya. Mencari percakapan dengan Baskara dari dua hari lalu, saat ia bilang ada rapat makan siang. Ia membaca kembali pesan-pesan singkat itu. Baskara membalasnya dengan cepat, singkat, dan padat. Tidak ada nada mencurigakan.
Namun, instingnya berteriak lain. Laras bangkit, berjalan menuju meja kerja Baskara. Ia membuka laci atas. Di sana tersimpan beberapa berkas penting, namun tidak ada yang mencurigakan. Ia beralih ke laci kedua. Kertas-kertas tagihan, kartu garansi elektronik, dan… sebuah buku catatan kecil berwarna biru dongker. Buku yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia membukanya. Halaman pertama kosong. Halaman kedua, tertulis sebuah nama dengan inisial yang sama persis dengan Laras: L.A. Di bawahnya, tertera sebuah alamat di Bandung, sebuah kafe yang baru buka beberapa bulan lalu. Laras tahu kafe itu, ia bahkan pernah berencana mengajaknya Baskara ke sana.
Namun, tulisan di halaman-halaman selanjutnya bukanlah milik Laras. Ini tulisan tangan Baskara. Tanggalnya berurutan, beberapa hari terakhir. Isinya… bukan sekadar curahan hati biasa. Ada detail-detail kecil tentang seorang wanita. Kebiasaan makan, warna favoritnya, bahkan jadwal konsultasinya di sebuah klinik kecantikan. Laras membaca nama klinik itu, lokasi yang sama dengan kartu nama terapis pijat yang ia temukan di saku jaket Baskara.
Semua titik mulai terhubung. Laras menutup buku catatan itu perlahan. Noda kopi yang tak sengaja menetes di sudut halaman itu terasa begitu nyata, begitu ironis. Ia merasa mual. Pandangannya mulai kabur, bukan karena menangis, tapi karena dunia yang selama ini ia yakini, kini terasa berputar tak karuan.
Pukul tujuh malam. Laras berdiri di depan pintu apartemen teman mereka, Rania. Apartemen Rania berada di Jakarta Pusat, cukup jauh dari rumah mereka di Bandung. Baskara bilang ia akan menyusul ke Bandung malam ini, setelah bertemu klien di Jakarta.
“Kamu yakin, Ras?” tanya Rania melalui telepon beberapa jam lalu, suaranya terdengar ragu. “Baskara tadi sore bilang dia sudah di kereta menuju Bandung. Dia barusan DM aku minta dijemput di stasiun.”
“Aku yakin, Ran. Tolong aku. Aku cuma mau memastikan sesuatu,” pinta Laras, suaranya parau. Ia tak punya pilihan lain. Kuitansi parkir, tiket bioskop, kartu nama, dan buku catatan itu, semua mengarah ke satu kesimpulan yang mengerikan. Dan Laras butuh kepastian.
Rania akhirnya setuju. Laras memesan GoCar, berangkat dari Bandung dengan niat untuk menjemput suaminya yang katanya akan tiba di Bandung. Namun, kini ia justru berdiri di depan pintu apartemen Rania di Jakarta. Semuanya terasa begitu membingungkan.
Rania membuka pintu. Wajahnya pucat pasi. “Ada apa, Ras? Baskara… dia beneran nggak sama kamu?”
Laras menggeleng, pandangannya tertuju pada ruang tamu Rania. Di sana, Baskara sedang duduk di sofa, tertawa lepas bersama seorang wanita yang tidak Laras kenal. Wanita itu cantik, mengenakan gaun merah mencolok. Tangan Baskara merangkul bahunya dengan santai. Di meja di depan mereka, ada tumpukan struk belanja dari sebuah toko baju ternama di Jakarta Selatan. Tepat di sebelah struk itu, tergeletak sebuah jam tangan wanita yang Laras kenal. Jam tangan itu adalah hadiah ulang tahunnya dari Baskara tahun lalu.
“Mas…?” Laras memanggil, suaranya tercekat di tenggorokan. Baskara menoleh. Senyumnya seketika memudar, digantikan ekspresi kaget yang luar biasa. Wanita di sebelahnya menatap Laras dengan tatapan dingin.
Baskara bangkit perlahan. “Laras? Kok… kok kamu di sini?” Tanyanya terbata-bata.
“Harusnya aku yang tanya. Kamu bilang lembur. Kamu bilang rapat makan siang. Kamu bilang mau ke Bandung. Tapi kenyataannya?” Suara Laras bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang membuncah tertahan.
Wanita di sofa itu tertawa sinis. “Jadi, ini dia istri sahnya? Lumayan juga kamu ya, tahu-tahu nongol di sini.”
Laras mengabaikannya. Fokusnya hanya pada Baskara. “Siapa dia, Mas?”
Baskara terdiam. Wajahnya memucat. Ia menatap Laras, lalu menatap wanita di sebelahnya, seolah mencari jalan keluar dari situasi yang semakin memburuk ini. Kerumitan yang ia ciptakan sendiri kini mengurungnya.
Baskara mencoba meraih tangan Laras. “Sayang, jangan salah paham. Ini…”
“Jangan sentuh aku!” Laras menarik tangannya. Matanya berkaca-kaca, namun tatapannya tajam. “Kamu pikir aku bodoh, Mas? Kuitansi parkir dari Jakarta Selatan dua hari lalu. Tiket bioskop di tasku yang jelas bukan punyaku. Kartu nama terapis pijat di Kelapa Gading. Buku catatanmu yang isinya detail tentang wanita lain. Dan sekarang… ini? Kamu pikir aku sebodoh itu sampai tidak bisa menyusunnya?” Suaranya pecah di akhir kalimat.
Wanita bergaun merah itu bangkit. “Sudahlah, Baskara. Kalau dia sudah tahu, buat apa buang-buang waktu. Percuma juga kan bertahan sama orang yang jelas-jelas nggak bisa kamu percaya,” ucapnya dingin, lalu beranjak pergi meninggalkan apartemen.
Baskara menatap kepergian wanita itu, lalu kembali menatap Laras. Wajahnya dipenuhi penyesalan. “Laras, aku bisa jelaskan semuanya…”
“Tidak perlu,” potong Laras, suaranya lebih tenang sekarang, namun menyimpan getaran yang lebih dalam. Ia menghela napas panjang. “Aku cuma mau tahu satu hal. Kapan kamu mulai merasa dia lebih baik dari aku?” Pertanyaan itu menggantung di udara. Laras tidak mencari jawaban yang rumit, ia hanya ingin memahami seberapa dalam luka yang ia rasakan.
Baskara terdiam. Ia tidak bisa menjawab. Ia tidak berani menatap mata Laras yang kini penuh kesedihan. Keheningan yang tercipta terasa lebih mencekam daripada teriakan apapun.
Laras mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah ia duga. Ia berbalik, melangkah keluar dari apartemen Rania tanpa sepatah kata lagi. Di luar, udara malam terasa lebih dingin dari sebelumnya. Ia mengeluarkan ponselnya. Layar menyala, menampilkan nama kontak ‘Baskara Suami’. Jari Laras ragu sejenak di atas layar. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia hanya tahu, dua belum pernah terucap itu kini terasa begitu nyata, begitu menyakitkan.
Ia tidak tahu apakah ia akan menelepon Baskara, atau mencari jalan pulang ke Bandung sendirian. Ia hanya berdiri di bawah lampu jalan yang remang, menatap kosong ke depan, membiarkan keraguan dan kepedihan memeluknya erat.
