Wanita Ini Menemukan Pesan di Dompet Suami, Pengkhianatan Rumah Tangga Terbongkar Lewat Kertas Kuno

Wanita Ini Menemukan Pesan di Dompet Suami, Pengkhianatan Rumah Tangga Terbongkar Lewat Kertas Kuno

CERITA PENDEK

Wanita Ini Menemukan Pesan di Dompet Suami, Pengkhianatan Rumah Tangga Terbongkar Lewat Kertas Kuno

Babak 1 — Suara Hening yang Mengganjal

Reswari meraih dompet kulit cokelat tua suaminya, Arjuna, dari meja nakas. Pagi itu, Arjuna terburu-buru berangkat ke kantornya di bilangan Sudirman. Ada presentasi penting katanya, sampai-sampai ia lupa menyalimi Reswari dan hanya melambaikan tangan dari ambang pintu. Reswari hanya tersenyum maklum, namun ada sesuatu yang mengganjal. Arjuna terlihat sedikit gelisah tadi malam, matanya tampak kurang tidur. Ia mencoba mengabaikan firasatnya, fokus pada rutinitas pagi yang biasanya menenangkan. Suara blender memecah keheningan, aroma kopi yang baru digiling memenuhi udara, tapi kecemasan samar tetap menempel seperti embun pagi yang enggan menguap.

Ia bermaksud memasukkan dompet itu ke tas Arjuna, agar suaminya tidak lupa membawanya. Tangannya bergerak cepat, melipat kartu-kartu seperti biasa. Namun, jari telunjuknya tersangkut pada sesuatu yang terasa berbeda di salah satu sekat dompet. Bukan kartu ATM, bukan kartu nama, bukan pula foto mereka berdua saat berbulan madu di Bali. Sesuatu yang kecil, terlipat rapi, dan terasa agak tebal. Penasaran, Reswari menariknya keluar. Sebuah secarik kertas lusuh, berwarna kekuningan, dengan tulisan tangan yang ia tak kenali. Tulisan itu bukan gaya Arjuna. Terlalu rapi, terlalu ‘klasik’ untuk seseorang yang bahkan kesulitan menulis catatan belanja tanpa salah.

Ia membuka lipatan kertas itu perlahan. Jantungnya berdegup lebih kencang, mengalahkan suara blender yang kini terdiam. Ada beberapa baris tulisan dengan tinta yang sedikit pudar. Bukan pesan singkat biasa. Bukan pula pengakuan dosa. Isinya samar-samar, tapi cukup membuat bulu kuduknya berdiri. Kata ‘kita’ muncul beberapa kali, dan ada sebuah tanggal yang tertulis di bagian bawah. Tanggal di masa lalu, jauh sebelum Reswari mengenal Arjuna. Ia membaca ulang, matanya menyapu setiap kata dengan saksama. Ada rasa mual yang naik ke tenggorokan. Ini bukan hanya sekadar kertas tua. Ini adalah sebuah bukti. Bukti dari masa lalu yang entah bagaimana bisa menyusup ke dalam kehidupan pernikahan mereka yang ia kira sempurna.

Reswari mencoba menenangkan diri. Mungkin ini hanya peninggalan lama? Kenangan dari masa lalu Arjuna sebelum ia mengenalnya? Tapi mengapa disimpan di dompet? Mengapa diselipkan di sekat yang paling sering ia buka? Ia membolak-balik kertas itu. Tidak ada nama pengirim, tidak ada tanda tangan. Hanya tulisan itu, dan sebuah inisial yang tertera di pojok bawah: ‘R & A’. Reswari. Arjuna. Jantungnya kini berdetak seperti genderang perang. Ini bukan hanya milik Arjuna. Ini milik mereka.

Ia mencoba meyakinkan diri. Mungkin saja ‘R’ bukan dirinya. Mungkin saja itu inisial mantan pacar Arjuna yang lain. Namun, tanggal yang tertera, lima tahun sebelum mereka menikah, dan gaya tulisan yang terasa begitu personal, membuat spekulasi itu terasa lemah. Kertas itu terasa dingin di tangannya, seolah menyimpan rahasia yang sangat besar, rahasia yang siap menghancurkan segalanya. Ia melirik jam dinding. Masih ada dua jam sebelum Arjuna pulang kerja. Dua jam untuk memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan penemuan mengerikan ini.


Babak 2 — Gelisah di Antara Kenangan

Reswari meletakkan secarik kertas itu di atas meja dapur. Ia mengambil secangkir kopi instan, menuangkannya dengan air panas, tapi kemudian membiarkannya begitu saja. Aromanya yang biasanya menenangkan kini terasa menusuk. Ia mondar-mandir di dapur, sesekali melirik ke arah kertas itu. Ingatannya berputar, mencari celah di masa lalu yang mungkin terlewat. Pernikahan mereka sudah berjalan empat tahun. Sejak awal, Arjuna selalu terbuka. Ia menceritakan masa lalunya, termasuk beberapa hubungan yang tidak berjalan lancar. Reswari merasa aman dalam keterbukaan itu. Ia percaya Arjuna sepenuhnya. Kepercayaan yang kini terasa begitu rapuh, seperti kaca tipis yang siap pecah kapan saja.

Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto. Menggeser layar dengan gerakan cepat, mencari foto-foto pernikahan mereka, foto-foto liburan, foto-foto sederhana di rumah. Wajah Arjuna di setiap foto tersenyum lebar, matanya menatapnya penuh cinta. Apakah semua itu hanya sandiwara? Pikiran itu terasa seperti duri tajam yang menusuk ulu hatinya. Ia teringat percakapan mereka semalam. Arjuna tampak sedikit murung, tapi saat Reswari bertanya, ia hanya menjawab lelah karena pekerjaan. Ia bahkan memijat punggung Reswari sebelum tidur, sebuah gestur yang selalu membuat Reswari merasa dicintai.

Sekarang, semua itu terasa seperti kebohongan yang sangat lihai. Kertas lusuh di meja dapur itu adalah saksi bisu. Inisial ‘R & A’ itu terus berputar di benaknya. Siapa ‘R’ lain itu? Mungkinkah itu inisial dari nama depan ibunya, Ratna? Tapi ibunya sudah meninggal sepuluh tahun lalu, dan Arjuna tidak pernah mengenalnya dekat. Atau mungkin Rengganis? Nama pacar Arjuna saat kuliah dulu? Arjuna pernah bercerita sedikit tentang Rengganis, tapi katanya itu sudah lama sekali dan tidak ada artinya lagi.

Reswari memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia membuka laptopnya, bukan untuk bekerja, tapi untuk membuka email Arjuna. Ia tahu ini salah, ini melanggar privasi suaminya, tapi rasa penasaran dan ketakutan yang membuncah membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Ia ingat kata sandi email Arjuna yang biasa: tanggal lahir Reswari. Sebuah lelucon kecil yang dulu membuat mereka tertawa. Sekarang, lelucon itu terasa seperti tikaman. Ia masuk. Kotak masuknya penuh dengan email pekerjaan, notifikasi media sosial, dan… sebuah folder bertuliskan ‘Pribadi’. Jantungnya berdebar semakin kencang.

Ia mengklik folder itu. Isinya beberapa dokumen, foto-foto lama, dan… sebuah sub-folder bernama ‘Kenangan R’. Reswari menarik napas dalam. Ini pasti tentang Rengganis. Ia membuka sub-folder itu. Terdapat beberapa foto. Foto-foto Arjuna muda, bersama seorang wanita yang tersenyum manis. Di beberapa foto, mereka bergandengan tangan, tertawa bersama di taman, atau berpelukan di depan sebuah bangunan tua yang belum pernah Reswari lihat. Wajah wanita itu jelas terlihat, dan ia memang cantik, dengan senyum yang tulus. Tapi Reswari tidak mengenali wanita itu.


Babak 3 — Jejak Digital yang Menyakitkan

Reswari terus menggali. Di dalam folder ‘Kenangan R’, ada sebuah file Word dengan nama ‘Surat untuk R’. Jari-jarinya gemetar saat ia mengkliknya. Isi file itu adalah surat cinta yang panjang, ditulis dengan bahasa yang puitis, penuh dengan ungkapan kerinduan dan penyesalan. Surat itu ditulis beberapa bulan setelah tanggal yang tertera di kertas lusuh di dompet Arjuna. Tanggalnya adalah empat tahun lalu, hanya beberapa bulan sebelum Arjuna melamar Reswari.

“Sayangku Rengganis,” begitu permulaan surat itu. Reswari tertegun. Jadi, ‘R’ memang Rengganis. Namun, isi surat itu terasa jauh lebih dalam dari sekadar cinta masa lalu. Arjuna menulis tentang keraguan, tentang perasaan bersalah, tentang harapan untuk bisa kembali bersama. Ada kalimat yang membuat Reswari sesak napas: “Aku tahu aku telah membuat pilihan yang sulit, dan aku harus menjalaninya. Tapi hatiku selalu berteriak memanggil namamu. Kehidupan baru yang kujalani terasa hampa tanpamu.”

Reswari menutup laptopnya dengan kasar. Perutnya terasa mual. Ia teringat percakapan Arjuna saat melamarnya. Arjuna bilang ia sudah benar-benar melupakan Rengganis, bahwa itu adalah masa lalu yang kelam yang tidak ingin ia ingat lagi. Kenapa Arjuna berbohong? Mengapa ia menyimpan semua ini? Dan yang paling penting, mengapa kertas lusuh itu ada di dompetnya, diselipkan begitu saja seolah sebuah pengingat rahasia?

Ia mengambil ponselnya lagi, kali ini mencari informasi lain. Ia ingat Arjuna pernah bercerita bahwa Rengganis sekarang bekerja di luar negeri, di Singapura. Ia mencoba mencari nama Rengganis di media sosial. Setelah beberapa kali percobaan dengan nama yang berbeda, ia akhirnya menemukan sebuah profil Instagram dengan nama ‘Rengganis_S’. Profil itu terkunci, namun foto profilnya jelas. Wajah wanita itu mirip dengan yang ada di foto-foto lama Arjuna, hanya saja kini terlihat lebih dewasa dan elegan.

Reswari merasa berani karena putus asa. Ia mengirimkan permintaan pertemanan. Sambil menunggu, ia kembali melihat kertas lusuh di meja. Ia mencoba menganalisis tulisannya. Ini bukan tulisan tangan Arjuna yang cenderung miring dan sedikit berantakan. Tulisan ini tegak, rapi, seperti diketik di komputer tapi dengan nuansa tulisan tangan. Sangat spesifik. Ia teringat sesuatu. Di kantornya, ada printer multifungsi yang juga bisa memindai dan mengedit teks. Terkadang, orang menggunakan fitur itu untuk membuat surat atau memo yang terlihat lebih personal.

Tiba-tiba, ia mendapat notifikasi. Permintaan pertemanan di Instagram-nya diterima. Reswari membuka profil Rengganis. Ada puluhan foto yang diunggah. Sebagian besar adalah foto pemandangan indah di Singapura, foto makanan mewah, dan beberapa foto selfie dirinya. Di beberapa foto, Rengganis terlihat tersenyum, namun matanya… mata itu terlihat berbeda. Ada kesedihan yang mendalam di sana. Reswari terus menggulir ke bawah, hingga ia menemukan sebuah foto yang membuatnya terkesiap.

Foto itu diambil di dalam sebuah ruangan. Latar belakangnya terlihat familiar. Itu adalah kamar tidur mereka. Arjuna tidak ada di foto itu, tapi ada sebuah jam weker digital di meja nakas yang sama persis dengan jam weker milik Arjuna. Dan yang paling mengejutkan, di meja itu tergeletak sebuah dompet kulit cokelat tua. Dompet yang sama persis dengan dompet milik Arjuna.


Babak 4 — Pertemuan yang Tak Terduga

Jantung Reswari berdebar hebat. Foto itu jelas diambil di kamar mereka. Tapi bagaimana? Kapan? Dan mengapa Rengganis mempostingnya? Ia melihat tanggal unggah foto itu. Hanya dua minggu yang lalu. Jauh lebih baru dari surat cinta yang ia temukan di laptop Arjuna. Ini berarti hubungan mereka masih berlanjut, atau setidaknya, Rengganis masih memiliki akses ke barang-barang Arjuna. Pikiran itu seperti pisau yang mengirisnya. Arjuna bilang ia sudah tidak berhubungan dengan Rengganis lagi.

Reswari merasa dunia berputar. Ia duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal. Kertas lusuh di meja dapur, surat cinta di laptop, dan foto di Instagram Rengganis. Semuanya saling terhubung, membentuk sebuah jaringan kebohongan yang rumit. Ia harus menemuinya. Ia harus tahu kebenarannya. Ia tidak bisa terus menerus dihantui oleh keraguan ini. Ia mengambil kunci mobil dan dompetnya, tanpa memikirkan kata sandi email Arjuna lagi.

Ia menelepon Arjuna, memberitahunya bahwa ia akan pergi ke salon di Kemang. Arjuna terdengar sedikit terkejut, tapi kemudian mengizinkannya. ‘Hati-hati ya, Sayang,’ ucap Arjuna sebelum menutup telepon. Reswari tahu itu adalah kebohongan terakhir yang akan ia dengar dari Arjuna untuk sementara waktu. Ia mengendarai mobilnya menuju area Senen, bukan Kemang. Ada sebuah kafe kecil di sana yang sering dikunjungi Rengganis saat ia masih di Jakarta, sebelum pindah ke Singapura. Reswari pernah melihatnya di foto-foto lama Arjuna.

Sesampainya di sana, kafe itu tampak sama. Tidak banyak pengunjung, hanya beberapa orang yang asyik dengan laptop mereka. Reswari duduk di pojok, memesan segelas es teh jumbo, dan menunggu. Ia merasa cemas, tangannya terus memegang ponselnya. Ia mengamati setiap orang yang masuk. Apakah ia akan menemukannya di sini? Atau ini hanya tindakan nekat yang sia-sia?

Sepuluh menit kemudian, pintu kafe terbuka. Seorang wanita masuk, mengenakan dress simpel berwarna biru navy, dan membawa tas jinjing yang elegan. Rambutnya tertata rapi. Ia memesan kopi dan duduk di meja yang tidak jauh dari Reswari. Reswari terkesiap. Itu dia. Rengganis. Wajahnya sama persis dengan foto profil Instagram-nya, namun kini terlihat lebih nyata, lebih hidup. Ada aura kesedihan yang samar di matanya, namun ia mencoba terlihat tenang.

Reswari mengumpulkan semua keberaniannya. Ia berdiri, berjalan menghampiri meja Rengganis. Rengganis mendongak, wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan. “Permisi?” ucapnya pelan. Reswari duduk di kursi kosong di hadapan Rengganis. Jantungnya berdebar kencang, napasnya tercekat. “Anda Rengganis?” tanyanya dengan suara yang sedikit bergetar. Rengganis mengangguk perlahan, matanya kini menatap Reswari dengan waspada. “Anda siapa?” tanyanya, suaranya lebih tegas kali ini. Reswari mengeluarkan secarik kertas lusuh dari tasnya. “Saya Reswari. Istri Arjuna.” Ia meletakkan kertas itu di atas meja, di antara mereka berdua. “Ini… dari dompet suami saya.”


Babak 5 — Garis Tipis Antara Cinta dan Pengkhianatan

Wajah Rengganis pucat pasi saat melihat kertas itu. Matanya melebar, tatapannya terpaku pada tulisan tangan yang sudah ia kenali bertahun-tahun lalu. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya terdiam, tangannya mulai gemetar. Reswari menatapnya lekat, mencari jawaban di matanya. “Saya tidak mengerti,” ucap Reswari pelan, suaranya masih bergetar. “Arjuna bilang Anda… masa lalu saja. Tapi ini… ini jauh lebih dari itu. Foto di Instagram Anda… itu kamar kami, kan?”

Rengganis menarik napas dalam, mencoba mengendalikan dirinya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. “Ya,” bisiknya pelan. “Itu kamar kalian.” Ia menunduk, tidak berani menatap Reswari. “Surat itu… aku yang menulisnya. Tanggal itu… kami memang bersama.” Ia berhenti sejenak, seperti mengumpulkan kekuatan. “Tapi… itu sudah lama, Reswari. Jauh sebelum Arjuna melamarmu.”

“Tapi Arjuna menyimpannya di dompetnya,” potong Reswari, suaranya sedikit meninggi. “Dia berbohong padaku. Dia bilang dia sudah melupakanmu.”

“Aku yang memintanya untuk menyimpannya,” ujar Rengganis, suaranya pecah. “Sebagai pengingat. Bukan karena dia masih mencintaiku, tapi… karena dia merasa bersalah. Kami… kami pernah sangat dekat. Lalu ada kesalahpahaman. Aku pergi ke Singapura. Dia bertemu denganmu. Dia memilihmu. Dia bilang dia harus menjalani hidupnya bersamamu.”

“Jadi… kertas ini?” tanya Reswari, menunjuk kertas lusuh itu. “Apa artinya?”

“Itu adalah janji kami,” jelas Rengganis, matanya kini basah. “Kami berjanji… jika suatu saat ada yang salah, jika salah satu dari kami merasa tidak bahagia, kami akan saling memberi tahu. Tanggal itu adalah hari kami pertama kali bertemu. Dan inisial itu… R untuk Rengganis, A untuk Arjuna. Kami ingin mengenang titik awal ini, sebelum semua pilihan hidup ini dibuat.” Ia terisak pelan. “Foto di Instagram itu… aku hanya ingin dia tahu bahwa aku masih mengingatnya. Tapi aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapapun.”

Reswari merasa seluruh dunianya runtuh. Jadi, Arjuna tidak berbohong tentang perasaannya pada Reswari. Dia memilih Reswari. Tapi dia juga menyimpan janji lama itu, dan kesedihan yang belum terobati. Dia memilih untuk menjalani hidupnya, namun tidak bisa sepenuhnya melepaskan masa lalu. Dan Rengganis, yang tampaknya masih menyimpan rasa, mengirimkan foto itu sebagai pesan tanpa kata.

Reswari melihat kembali kertas lusuh itu. Tulisan tangan yang rapi, inisial ‘R & A’, dan tanggal di masa lalu. Bukan surat cinta, bukan pengakuan perselingkuhan, tapi sebuah janji yang usang, sebuah kenangan yang disimpan rapat. Garis antara cinta yang tulus dan pengkhianatan yang menghancurkan terasa sangat tipis. Arjuna ada di mana sekarang? Sedang apa ia? Apakah ia sedang memikirkan Rengganis saat ia mengucapkan ‘hati-hati, Sayang’ tadi pagi? Reswari tidak tahu. Yang ia tahu, ia kini memegang sebuah rahasia yang menyakitkan, sebuah rahasia yang berasal dari janji lama, dan baru saja mulai menghancurkan rumah tangganya.