Cerita Rumah Tangga: Kunci Laci Berkarat yang Membongkar Jati Diri Suaminya

Cerita Rumah Tangga: Kunci Laci Berkarat yang Membongkar Jati Diri Suaminya

CERITA PENDEK

Cerita Rumah Tangga: Kunci Laci Berkarat yang Membongkar Jati Diri Suaminya

Babak 1 — Aroma Kopi Pagi dan Kebohongan yang Terkubur

Aroma kopi tubruk yang pekat khas buatan Ibu mertua mulai tercium dari dapur saat Gendis membuka mata. Pukul setengah tujuh pagi, dan suaminya, Jatmiko, sudah rapi mengenakan kemeja batik lengan panjang, bersiap berangkat kerja lebih awal dari biasanya. Gendis hanya bergumam pelan, membalikkan badan membelakangi jendela yang mulai tersaput cahaya mentari pagi. Ada rasa janggal yang sulit ia definisikan sejak semalam. Bukan karena Jatmiko mendadak rajin bangun pagi atau berdandan lebih rapi, tapi lebih kepada suasana dingin yang tiba-tiba menyelimuti apartemen kecil mereka di bilangan Kebayoran Lama, seolah kabut tipis tak kasat mata merayap di sela-sela furnitur minimalis kesayangan mereka.

“Pagi, Mbakyu,” suara Jatmiko memecah keheningan, terdengar agak tercekat dari balik punggungnya. Ia tak berbalik. Hanya merespon dengan deheman pelan. Ia mencoba menarik napas dalam, tapi udara terasa berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya. Kebiasaan Jatmiko untuk selalu menyalakan televisi pagi-pagi, bahkan hanya untuk radio berita, entah mengapa tidak ia lakukan hari ini. Keheningan yang menyakitkan itu terasa lebih mencekam daripada gosip perselingkuhan yang sering ia baca di akun-akun gosip Instagram.

“Kopi?” tawarnya, suaranya masih terdengar sedikit serak. Gendis menggeleng dalam tidurnya, semakin membenamkan wajah di bantal. Ia ingin Jatmiko bertanya lebih lanjut, ingin ia sedikit merajuk agar suaminya itu peduli. Tapi Jatmiko hanya diam. Ia mendengar suara langkah kaki Jatmiko menjauh, lalu suara pintu kamar mereka ditutup pelan. Gendis membuka matanya. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. Lampu gantung kristal imitasi yang dulu ia puja kini terlihat kusam, seperti perasaan yang mulai memudar. Ia tahu ini bukan sekadar perasaan. Ini adalah alarm. Alarm yang sudah berbunyi sejak lama, namun ia abaikan.

“Nasi uduk, Mbakyu?” Tante Lina, ibu Jatmiko, muncul di ambang pintu kamar dengan nampan berisi dua piring nasi uduk yang masih mengepul. Matanya yang sudah sedikit rabun menatap Gendis dengan sorot penuh tanya. “Kok belum siap-siap? Miko sudah jalan duluan.” Gendis duduk perlahan, menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Ia tersenyum tipis. “Iya, Tante. Barusan kok, Mas Jatmiko berangkatnya.” Ia tak ingin ibu mertuanya tahu bahwa ia masih bergelut dengan kebingungan dan kecemasan yang tak berujung. Menyelamatkan muka Jatmiko, atau lebih tepatnya, menyelamatkan citra ‘rumah tangga sempurna’ mereka di mata Tante Lina yang sangat bangga pada putranya.

Gendis beranjak dari tempat tidur, berjalan ke arah lemari pakaian mereka yang besar. Ia membuka pintu lemari, berniat mengambil pakaian untuk mandi. Namun, pandangannya tertuju pada sebuah kotak kayu kecil yang tergeletak di sudut rak paling atas, di antara tumpukan syal dan tas jinjing usang. Kotak itu tidak asing, tapi juga bukan sesuatu yang ia ingat pernah melihatnya di sana. Kotak itu terbuat dari kayu jati tua, dengan ukiran motif bunga yang sudah sedikit pudar. Di depannya, terdapat sebuah gembok kecil berkarat yang sepertinya sudah lama tak tersentuh. Jantung Gendis berdebar lebih cepat. Ia tak ingat pernah melihat kotak ini sebelumnya. Ia meraihnya perlahan, tangannya sedikit gemetar. Berat. Ada sesuatu di dalamnya. Kunci laci berkarat itu, yang ia temukan di antara barang-barang Jatmiko, tiba-tiba terlintas di benaknya. Gembok ini… apakah kuncinya cocok?


Babak 2 — Gembok Berkarat dan Refleksi Diri

Tangan Gendis sedikit gemetar saat ia meraih kotak kayu itu dari rak paling atas lemari. Debu halus menempel di ujung jarinya, memberikan sensasi geli yang membuatnya bergidik pelan. Kotak kayu jati tua itu terasa dingin di genggamannya, sebuah kontras yang aneh dengan kehangatan pagi yang mulai merayap masuk melalui celah tirai. Motif ukiran bunga yang pudar di permukaannya seperti bisikan dari masa lalu, sebuah masa lalu yang entah mengapa terasa asing baginya. Ia tidak pernah melihat kotak ini sebelumnya. Atau, jika pernah, ia pasti melupakannya. Jatmiko memang tidak pernah menjadi tipe pria yang suka menyimpan barang kenangan, ia lebih cenderung pada kepraktisan. Lalu, dari mana datangnya kotak ini? Dan mengapa tersembunyi di tempat yang begitu sulit dijangkau?

Ia ingat obrolan singkatnya dengan admin grup Facebook ‘Komunitas Pecinta Barang Antik Jogja’ kemarin malam. Sedang mencari referensi tentang vas keramik kuno untuk pajangan di ruang tamu, ia malah terseret ke dalam diskusi tentang barang-barang yang menyimpan cerita. Salah satu anggota grup menyebutkan tentang gembok berkarat yang konon merupakan simbol ‘sesuatu yang terkunci rapat’. Kalimat itu terngiang lagi di benaknya saat matanya tertuju pada gembok kecil yang menghiasi depan kotak kayu itu. Berkarat. Persis seperti yang ia temukan di laci meja kerja Jatmiko dua hari lalu, tersembunyi di balik tumpukan dokumen tak penting. Ia mengambil kotak itu, membawanya ke kamar mandi, dan meletakkannya di tepi bak mandi porselen yang dingin. Ia menarik napas panjang, lalu mencoba membukanya. Tentu saja, gembok itu terkunci rapat.

Ia kembali ke kamar tidur. Jatmiko sudah pergi. Hanya aroma kopi yang tersisa, bercampur dengan wangi *aftershave* Jatmiko yang samar. Ia duduk di tepi ranjang, memandangi kotak itu. Apa isinya? Surat-surat lama? Foto-foto yang tidak ingin ia lihat? Atau mungkin… sesuatu yang sama sekali tidak ia bayangkan? Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi DANA. Mengetikkan nomor rekening ibunya, Rengganis, hanya untuk mengalihkan perhatian. Ia tidak bisa menghubungi ibunya saat ini. Ibunya pasti akan langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Rengganis selalu bisa membaca Gendis hanya dari nada suaranya. “Mau transfer berapa, Nak?” suara ibunya yang lembut terdengar di telinga Gendis saat ia mencoba menjawab, namun Gendis hanya bisa tergagap. “Eh, nggak jadi, Bu. Cuma… iseng aja.” Ia mematikan panggilan, merasa semakin terpojok.

Pandangannya kembali pada kotak kayu itu. Gembok itu. Kunci laci berkarat yang ia temukan. Bisakah? Ia bergegas ke meja kerja Jatmiko. Laci itu sedikit macet saat ia mencoba membukanya kemarin. Hari ini, ia menariknya dengan sekuat tenaga. Laci itu terbuka dengan derit pelan. Di dalamnya, masih tergeletak kunci kecil berkarat yang ia temukan. Jantungnya berdegup kencang. Dengan gerakan yang disengaja, seolah menahan napas, ia mengambil kunci itu. Ia kembali ke kamar mandi, di mana kotak kayu itu masih menunggunya. Ia memasukkan ujung kunci yang berkarat itu ke dalam lubang gembok. Ada sedikit perlawanan, tapi kemudian… *klik*. Gembok itu terbuka. Gendis terdiam sejenak, merasakan gelombang dingin merayapi tulang punggungnya. Apa yang baru saja ia lakukan? Membuka rahasia suaminya tanpa izin? Tapi apa boleh buat, rasa penasaran itu lebih kuat dari segalanya. Ia mulai membuka tutup kotak itu perlahan.


Babak 3 — Fragmen Masa Lalu dan Pengakuan yang Terlupa

Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Gendis membuka kotak kayu jati itu. Aroma kapur barus yang samar bercampur dengan wangi kayu tua menyergap indra penciumannya. Di dalamnya, tergeletak rapi tumpukan foto-foto hitam putih yang menguning di tepiannya. Bukan foto-foto pernikahan mereka, bukan pula foto liburan mereka ke Bali tahun lalu. Ini adalah foto-foto Jatmiko di masa lalu, masa lalu yang Gendis sama sekali tidak kenal. Ada foto Jatmiko saat masih kecil, berdiri di samping seorang wanita paruh baya yang asing, dengan senyum malu-malu khas anak kecil. Di sudut foto tertulis tahun ‘1998’ dengan tinta biru pudar.

Kemudian, foto-foto remaja. Jatmiko dengan gaya rambut *spiky* khas anak 2000-an, tertawa lepas bersama sekelompok teman yang tak dikenalnya. Ada foto-foto yang diambil di depan gerbang sebuah sekolah yang tampak asing. Gendis mencoba mengingat-ingat, apakah Jatmiko pernah bercerita tentang masa remajanya di kota lain? Sepengetahuannya, Jatmiko menghabiskan masa remajanya di Surabaya, kota asal orang tuanya. Tapi sekolah ini… sepertinya bukan di Surabaya. Ia menemukan sebuah foto lagi, kali ini Jatmiko terlihat sedikit lebih tua, mungkin awal dua puluhan. Ia duduk di sebuah kafe, di depannya ada seorang wanita berambut panjang, tersenyum manis. Wanita itu memegang sebuah buku catatan kecil, tangannya terjalin dengan tangan Jatmiko. Gendis merasa ada sengatan di dadanya. Siapa wanita ini?

Ia melanjutkan pencariannya di dalam kotak. Ada beberapa surat tulisan tangan yang dilipat rapi. Ia membuka salah satunya. Surat itu ditujukan untuk ‘Untuk Jatmiko, di manapun kamu berada’. Tulisan tangan wanita di foto tadi. “Jemari ini masih sering terasa dingin saat tidak bersamamu,” Gendis membaca sepenggal kalimat pembuka surat itu. “Aku masih menunggu kabar darimu. Aku tahu ini berat, tapi kumohon, jangan menghilang lagi. Aku… aku butuh kamu.” Jantung Gendis berdebar lebih kencang. Ia merasa seperti seorang penyusup di dalam kehidupan suaminya sendiri. Ia bergegas mencari aplikasi Gojek di ponselnya, memesan segelas es teh jumbo dari ‘Es Teh Jumbo’ favoritnya untuk menenangkan diri. Ia butuh sedikit jeda sebelum menelisik lebih dalam.

Ia menemukan sebuah amplop coklat yang sedikit lebih tebal dari yang lain. Di dalamnya, bukan surat, melainkan beberapa dokumen. Akta kelahiran. Tertulis nama ‘Jatmiko Adiwangsa’. Nama belakang yang tidak pernah Gendis dengar sebelumnya. Setahunya, nama belakang Jatmiko adalah Wijaya. Di sampingnya, ada sebuah akta pernikahan yang juga aneh. Tertulis nama ‘Jatmiko Adiwangsa’ dan ‘Reswari Laksmi’. Tanggal pernikahan mereka adalah lima tahun lalu, jauh sebelum ia bertemu Jatmiko. Dan yang paling mengejutkan, ada surat cerai yang tertulis tanggalnya dua tahun lalu. Dua tahun lalu… ia dan Jatmiko baru saja menikah. Ia merasa dunia berputar. Siapa Reswari Laksmi? Siapa Adiwangsa? Dan mengapa suaminya selama ini hidup dengan identitas yang berbeda? Ia mencoba menghubungi nomor layanan pelanggan aplikasi bank digital yang biasa ia gunakan, bertanya tentang kemungkinan melacak transaksi menggunakan nama ‘Jatmiko Adiwangsa’ dan ‘Reswari Laksmi’. Namun, pihak bank hanya bisa memberikan informasi terbatas tanpa persetujuan kedua belah pihak.

Satu lagi benda ditemukan di dasar kotak: sebuah kunci logam kecil yang terukir angka ‘7B’. Gendis mengerutkan kening. Angka ‘7B’? Di mana ia pernah melihat kombinasi angka ini? Ia teringat sebuah nomor kamar hotel yang pernah mereka singgahi saat liburan ke Bandung tiga bulan lalu. Kamar nomor 7B. Tiba-tiba, ingatan tentang Jatmiko yang menerima telepon di malam hari, lalu berpamitan untuk ‘mengurus sesuatu di luar kota’ selama dua hari, muncul kembali. Ia teringat juga saat ia penasaran dan mencoba menelepon nomor yang Jatmiko gunakan, namun tidak ada jawaban. Apakah Jatmiko… kembali ke masa lalunya? Menemui wanita yang ada di foto-foto itu? Gendis merasa sesak napas. Ia membuka aplikasi Tokopedia, mencari-cari tanggal liburan mereka di Bandung, mencoba melihat daftar hotel yang pernah ia pesan. Kunci itu terasa dingin di tangannya.


Babak 4 — Pertemuan Tak Terduga dan Kebenaran yang Menyakitkan

Rasa panik mulai menguasai Gendis. Jatmiko pulang lebih awal dari kantor, membawa bungkusan nasi seblak dari kedai langganannya di sudut jalan. Senyumnya seperti biasa, hangat dan menenangkan. Tapi bagi Gendis, senyum itu kini terasa seperti topeng. Ia berhasil menyembunyikan kotak kayu itu kembali ke lemari, menggantinya dengan tumpukan baju yang lebih banyak. Namun, rasa cemas itu tak kunjung hilang. Ia terus memikirkan kunci nomor ‘7B’ dan akta pernikahan dengan nama ‘Reswari Laksmi’. Perasaan dikhianati perlahan merayap, lebih dingin dari aroma kopi pagi tadi.

Saat Jatmiko sedang asyik menonton tayangan bola di televisi, Gendis mengambil ponselnya. Ia membuka aplikasi travel yang sering ia gunakan, mencari daftar pemesanan hotel di Bandung. Dan benar saja. Ada catatan pemesanan kamar di sebuah hotel butik, nomor kamarnya adalah ‘7B’, pada tanggal yang sama ketika Jatmiko mengatakan ia harus ‘mengurus sesuatu di luar kota’. Jantungnya berdebar kencang. Ia harus tahu kebenarannya. Ia harus menghadapi Jatmiko.

“Mas,” panggil Gendis, suaranya sedikit bergetar. Jatmiko menoleh, senyumnya memudar saat melihat ekspresi wajah Gendis yang tegang. “Ada apa, Mbakyu? Kok wajahnya kusut gitu?” Gendis menarik napas dalam. Ia tidak bisa lagi berpura-pura. Ia mengeluarkan kunci ‘7B’ dari saku celananya. “Ini… ini apa, Mas?” Tangan Jatmiko sedikit bergetar saat melihat kunci itu. Matanya membelalak, seolah tidak percaya Gendis memiliki benda itu. Ia terdiam, wajahnya pucat pasi.

“Aku… aku menemukan ini di kotak kayu itu, Mas. Kotak yang katanya kamu buang,” Gendis melanjutkan, suaranya mulai meninggi. “Dan aku tahu tentang Reswari Laksmi. Siapa dia, Mas? Siapa Jatmiko Adiwangsa?” Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gendis. Ia siap menerima jawaban apapun, meski ia tahu itu akan sangat menyakitkan. Jatmiko menunduk, tidak berani menatap mata istrinya. Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu, hanya suara komentator bola yang terdengar samar. Tiba-tiba, pintu apartemen mereka diketuk. Gendis dan Jatmiko saling berpandangan. Siapa di jam segini?

Jatmiko bangkit perlahan, berjalan menuju pintu. Saat ia membuka pintu, Gendis terkejut melihat siapa yang berdiri di ambang pintu. Seorang wanita, dengan rambut panjang tergerai, wajahnya terlihat sedikit lelah namun tatapannya penuh kekhawatiran. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna biru laut. Wanita itu, Gendis tahu seketika, adalah Reswari Laksmi. Di sampingnya, berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, menatap Gendis dengan tatapan polos.

“Jatmiko?” suara wanita itu bergetar. Jatmiko menatapnya, lalu beralih menatap Gendis yang berdiri terpaku di belakang suaminya. Kebenaran yang selama ini ia pendam, kebenaran yang ia kubur dalam-dalam, kini terbuka lebar di depan mata Gendis. Jatmiko tidak pernah menceraikan Reswari. Jatmiko Adiwangsa, suami yang ia cintu, ternyata memiliki kehidupan lain yang sama sekali tidak ia ketahui. Tangisan Gendis pecah tak tertahankan.


Babak 5 — Garis Batas yang Baru dan Pilihan yang Menanti

Tangis Gendis pecah. Suara tangisnya memenuhi seluruh ruangan apartemen yang tadinya terasa dingin, kini terasa lebih sesak oleh kesedihan yang meluap. Reswari Laksmi, wanita yang hanya ia kenal dari foto-foto usang dan dokumen pernikahan, kini berdiri di hadapannya, nyata. Tatapan mata wanita itu penuh dengan kesedihan yang sama, namun juga ada sedikit ketegaran yang membuat Gendis bertanya-tanya. Jatmiko berdiri di antara keduanya, bagai patung yang kaku, tak mampu berkata apa-apa. Wajahnya pucat pasi, matanya menunduk dalam, seolah tak sanggup melihat dua wanita yang kini menjadi pusat kehidupannya dihadapkan pada kehancuran yang ia ciptakan.

Anak laki-laki yang berdiri di samping Reswari menarik-narik ujung gamis ibunya. “Mama, kok nangis?” tanyanya polos. Gendis tercekat. Anak itu… anak itu adalah darah daging Jatmiko. Anak dari pernikahan Jatmiko Adiwangsa dan Reswari Laksmi. Selama ini, Jatmiko yang ia kenal sebagai Jatmiko Wijaya, pria lajang yang kesulitan mencari pasangan hidup, ternyata adalah seorang ayah. Gendis menatap Jatmiko, mencari jawaban di matanya, namun yang ia temukan hanya kegagalan. Kegagalan untuk menjelaskan, kegagalan untuk menghadapi.

“Aku… aku tidak tahu harus berkata apa, Gendis,” Jatmiko akhirnya memecah keheningan, suaranya serak dan lemah. “Aku… aku minta maaf.” Kata maaf itu terasa hampa, kosong, seperti janji-janji yang pernah ia ucapkan dulu. Gendis menarik napas dalam, mencoba menahan gelombang emosi yang kembali datang. Ia menatap Reswari. Wanita itu balas menatapnya, senyum tipis tersungging di bibirnya, senyum yang dipenuhi kepedihan. “Aku… aku tahu ini berat untukmu,” kata Reswari, suaranya pelan dan lembut. “Tapi Jatmiko… dia adalah ayah dari anakku. Kami sudah melalui banyak hal… sebelum dan sesudah dia menikahimu.” Gendis merasakan nyeri yang semakin dalam. Jadi, Jatmiko menikahinya saat masih terikat pernikahan sah dengan Reswari? Atau ia menceraikan Reswari diam-diam, lalu menikahinya lagi, dan semua ini adalah kebohongan yang terstruktur rapi?

Ia teringat bagaimana Jatmiko selalu berdalih tentang masa lalunya yang kelam, tentang kesulitan mendapatkan restu orang tua, tentang alasan mengapa ia jarang bercerita tentang keluarganya. Semua itu ternyata adalah kebohongan. Gendis menatap ponselnya yang ada di meja. Ia bisa saja memesan GoCar sekarang juga, pergi dari apartemen ini, menghilang seperti Jatmiko Adiwangsa pernah menghilang dari kehidupan Reswari. Tapi kemana ia harus pergi? Kembali ke rumah ibunya di Klaten? Ia tidak ingin menjadi beban. Ia membuka aplikasi Shopee, melihat-lihat daftar barang yang sudah ia masukkan ke keranjang. Sebuah buku tentang resolusi diri dan memulai lembaran baru. Ironis.

“Jadi… kamu dan dia… kalian tidak pernah bercerai?” tanya Gendis, suaranya nyaris tak terdengar. Jatmiko menggeleng pelan. “Kami… kami berpisah. Tapi tidak pernah resmi bercerai. Ada… kesalahpahaman. Dan kemudian… aku bertemu kamu.” Ia memalingkan wajahnya. “Aku pikir… aku bisa memulai semuanya lagi. Denganmu. Tapi ternyata… masa lalu selalu kembali.” Reswari menatap Jatmiko dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kecewa, tapi juga sedikit rasa iba. Gendis merasa seperti terjebak dalam pusaran konflik yang tidak pernah ia inginkan. Ia harus membuat pilihan. Tetap bersama pria yang telah membohonginya, atau pergi dan memulai hidup baru, sendiri, dengan hati yang terluka.

Anak laki-laki itu kini berlari kecil menghampiri Jatmiko, menarik-narik tangannya. “Papa, ayo main bola sama Arga!” Gendis melihat bagaimana Jatmiko refleks merespon panggilan itu, bagaimana ia memeluk anaknya dengan erat. Di saat itu, Gendis tahu. Ia tidak bisa memaksakan kebahagiaan dari sebuah kebohongan. Namun, ke mana langkahnya akan membawanya selanjutnya? Ia menatap kunci ‘7B’ yang masih ia genggam. Kunci itu terasa berat, seperti beban dari masa lalu yang harus ia putuskan.