Foto Pudar di Jaket Suami: Bukti Pengkhianatan yang Menghancurkan Pernikahan Kami
Malam beranjak larut, tapi Ayunda masih terjaga. Dirga, suaminya, tertidur pulas di sampingnya, dengkurnya yang halus mengisi keheningan apartemen mereka di bilangan Tebet. Ayunda tak tahu kenapa matanya enggan terpejam. Mungkin karena secangkir teh chamomile yang terlalu pekat, atau mungkin karena gelisah yang sejak sore tadi hinggap di hatinya tanpa sebab jelas. Tangannya bergerak meraih ponsel di nakas, scroll tanpa tujuan, lalu beralih pada novel tipis yang tergeletak begitu saja. Namun, entah mengapa, ia teringat akan jaket Dirga yang teronggok di kursi ruang tamu. Jaket kulit hitam yang jarang sekali dipakai, tapi entah kenapa malam ini terasa menarik perhatian Ayunda.
Dengan langkah pelan, ia bangkit dan menuju ruang tamu. Cahaya remang dari lampu jalanan menyelinap melalui celah gorden, menciptakan bayangan panjang yang menari di lantai. Ayunda meraih jaket kulit itu. Dingin, seperti biasa. Ia merogoh saku depan, menemukan koin receh dan selembar tisu bekas. Lalu, tangannya tanpa sadar merogoh saku bagian dalam, yang biasanya jarang sekali digunakan. Jemarinya menyentuh sesuatu yang kecil, kaku, dan terasa seperti kertas. Ayunda mengerutkan kening. Ia menariknya keluar. Sebuah foto lama, pudar, dengan sudut-sudut yang menguning.
Jantung Ayunda berdebar kencang. Di tengah keheningan malam, di apartemen yang selama tujuh tahun ia sebut rumah, ia menemukan sebuah bukti yang terasa seperti palu godam menghantam kesadarannya. Foto itu menampilkan Dirga, jauh lebih muda, tersenyum lebar. Di sebelahnya, seorang perempuan dengan rambut sebahu yang tertiup angin, matanya berbinar menatap ke arah kamera. Ayunda tidak mengenalinya. Sama sekali tidak. Dan itu yang paling mengerikan. Ini adalah cerpen rumah tangga yang dimulai dengan kebohongan yang tersembunyi dalam sebuah benda usang.
Babak 1 — Jejak yang Tertinggal
Ayunda kembali ke kamar dengan langkah lebih berat dari saat ia pergi. Ia memandang wajah Dirga yang damai dalam tidurnya. Ketujuh tahun pernikahan mereka diwarnai kehangatan, tawa, dan rencana masa depan yang dibangun bersama. Dirga adalah pria yang baik. Pekerja keras, perhatian, dan selalu ada untuknya. Setidaknya, itulah yang Ayunda yakini selama ini. Tapi foto ini… foto ini terasa seperti tamu tak diundang yang datang untuk meruntuhkan istana pasir yang telah mereka bangun.
Dia mencoba meyakinkan diri sendiri. Mungkin ini foto lama dari masa kuliah? Teman? Tapi kenapa disimpan di saku jaket yang jarang dipakai? Kenapa tersembunyi di saku bagian dalam? Pikiran Ayunda berputar liar. Ia ingat bagaimana Dirga selalu enggan membicarakan masa lalunya sebelum mereka bertemu. Dulu, ia menganggap itu sebagai tanda kedewasaan, bahwa ia ingin fokus pada masa kini dan masa depan bersamanya. Tapi sekarang, pandangan itu berubah.
Ayunda meletakkan foto itu di nakas. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya. Jantungnya masih berdetak tak beraturan. Ia mencoba mengingat detail-detail kecil. Obrolan tentang mantan pacar, Dirga selalu menjawabnya dengan singkat, seolah tak ada yang layak dibahas. Pernahkah ia menyebut nama perempuan ini? Ayunda mencoba menggali ingatannya, menelusuri kembali percakapan mereka. Nihil. Kosong.
Pagi datang dengan embun dan kepastian yang dingin. Dirga bangun seperti biasa, mencium kening Ayunda, dan mulai bersiap untuk bekerja. Ia memakai jaket kulit hitamnya. Ayunda memperhatikan, napasnya tertahan. Saat Dirga meraih jaket itu, ia berhenti sejenak. Tangannya merogoh saku bagian dalam.
“Oh iya, kamu nemu ini ya semalam?” suara Dirga terdengar sedikit canggung. Ia mengeluarkan foto itu. “Ini… lama banget.”
Ayunda hanya mengangguk, terlalu kaku untuk bersuara. Ia tak menyangka Dirga akan langsung bertanya.
“Teman SMP,” Dirga berkata cepat, senyumnya agak dipaksakan. “Namanya… Ratih. Udah lama banget nggak ketemu. Nggak sengaja ketemu di tas lama pas beres-beres kemarin. Kayaknya nyelip di jaket ini.”
“Teman SMP?” Ayunda mengulang, suaranya datar. “Kamu nggak pernah cerita punya teman namanya Ratih.” Ia mencoba agar suaranya terdengar biasa saja, tidak menuduh, tapi nada skeptisnya jelas terdengar. Ia merasa seperti sedang memainkan peran di sebuah cerpen selingkuh yang tidak ia inginkan.
Dirga menelan ludah. “Ya, nggak penting banget juga kan buat diceritain. Lagian udah belasan tahun lalu.” Ia memasukkan foto itu kembali ke saku jaketnya. “Aku berangkat dulu ya.”
Ciuman di pipi terasa dingin. Ayunda terdiam. Alasan “teman SMP” terasa terlalu umum, terlalu mudah. Kenapa ia harus berbohong untuk hal yang sekilas tampak sepele? Kelemahannya adalah ia terlalu mudah percaya, dan hari ini, kepercayaan itu mulai retak. Jaket kulit itu terasa seperti wadah berisi rahasia yang siap meledak.
Babak 2 — Retakan Semakin Lebar
Sepanjang hari di kantor, Ayunda tidak bisa fokus. Setiap kali melihat ponselnya, ia merasa cemas. Ia membuka aplikasi WhatsApp-nya, mencari nama Dirga. Terakhir kali mereka bertukar pesan adalah tadi pagi, ucapan selamat pagi yang biasa. Ayunda membuka percakapan lama mereka, mencari petunjuk, mencari sesuatu yang bisa mengkonfirmasi atau menyangkal kebohongan Dirga. Ia ingat Dirga pernah bilang kalau ia tidak punya akun media sosial selain Instagram yang jarang ia buka, dan itu pun akunnya terkunci.
Sore harinya, saat jam pulang kerja, Ayunda memutuskan untuk mampir ke sebuah kedai kopi di kawasan Cikini. Ia memesan es teh manis dan duduk di sudut, pikirannya masih berkecamuk. Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang biasanya tidak pernah ia lakukan. Ia membuka browser di ponselnya, dan mengetikkan nama Dirga di kolom pencarian.
Hasil pencarian muncul. Ada profil LinkedIn-nya, akun kantornya, beberapa berita yang menyebut namanya terkait proyek perusahaannya. Dan kemudian, ia melihatnya. Sebuah akun Instagram lama. Foto profilnya memang foto Dirga, tapi lebih muda. Postingan terakhirnya bertahun-tahun lalu. Ayunda membuka daftar followingnya. Dan di sana, di antara ratusan akun lain, ia melihat nama ‘Ratih_Wijaya’. Foto profilnya adalah perempuan yang sama di foto yang ia temukan semalam.
Jantung Ayunda kembali berdetak kencang. Ia mengklik profil Ratih Wijaya. Akunnya publik. Terpampang foto-foto Ratih, banyak sekali foto Dirga di sana. Mereka berdua di berbagai tempat, tertawa, berpegangan tangan. Ada foto mereka di sebuah pantai, dan di bawahnya tertulis keterangan, ‘Anniv 5th, always love you, my Dirga’. Lima tahun? Mereka merayakan ulang tahun kelima? Tujuh tahun pernikahan mereka. Kapan ini terjadi? Kapan Dirga menghabiskan waktu bersama perempuan ini selama lima tahun?
Ayunda merasa mual. Ia ingat kembali percakapan tadi pagi. Dirga bilang Ratih teman SMP. Tapi foto-foto di Instagram menunjukkan cerita yang berbeda. Cerita pengkhianatan yang tersembunyi di balik senyum dan kata-kata manis.
Ia membuka kembali percakapannya dengan Dirga. Menemukan pesan dari Dirga setahun lalu. Dirga mengiriminya foto bunga mawar merah, bertuliskan, “Untuk bidadariku. Selamat ulang tahun ke-7 kita. Love you.” Ayunda membalasnya dengan penuh haru. Ternyata, Dirga punya ‘bidadari’ lain di masa lalu yang sama indahnya, atau bahkan lebih.
Perlahan, Ayunda menyusun kepingan-kepingan puzzle yang mengerikan. Foto itu bukan hanya sekadar foto lama. Itu adalah bukti dari masa lalu yang Dirga tutupi rapat-rapat. Masa lalu yang ternyata masih memiliki pengaruh kuat di masa kini. Ia merasa seperti sedang terseret ke dalam pusaran sebuah kisah nyata yang sangat menyakitkan.
Babak 3 — Pengakuan yang Tertunda
Malam itu, Ayunda tidak bisa tidur. Ia menunggu Dirga pulang. Setiap deru kendaraan di luar jendela membuatnya terlonjak. Ketika akhirnya pintu apartemen terbuka, Dirga masuk dengan senyum lelah. Ia baru saja pulang dari pertemuan makan malam dengan klien di kawasan Kemang.
“Capek banget, Sayang,” ucap Dirga sambil memeluk Ayunda.
Ayunda membalas pelukan itu, tapi hatinya terasa dingin. Ia membiarkan Dirga mandi dan berganti pakaian. Aroma parfum Dirga yang khas bercampur dengan aroma kopi dari minuman yang ia minum di restoran tadi. Semuanya terasa seperti ritual kebohongan.
Setelah Dirga duduk di sofa, Ayunda mengambil foto pudar itu dari nakas. Ia berjalan mendekat dan menjatuhkannya tepat di pangkuan Dirga. Dirga terkejut. Matanya tertuju pada foto itu, lalu beralih pada Ayunda yang berdiri di depannya dengan tatapan kosong namun tajam.
“Kamu bilang Ratih teman SMP,” kata Ayunda, suaranya serak. “Tapi Instagram-nya bilang beda. ‘Anniv 5th’? Kamu lupa merayakan yang ketujuh sama aku kemarin, Mas? Atau memang sudah terbiasa merayakannya dengan yang lain?”
Wajah Dirga pucat pasi. Ia menatap foto itu, lalu menatap Ayunda. Ekspresi kagetnya perlahan berubah menjadi ketakutan. Ia mencoba meraih tangan Ayunda, tapi Ayunda menepisnya.
“Jangan sentuh aku,” ucap Ayunda lirih, tapi tegas. “Aku butuh penjelasan. Penjelasan yang jujur kali ini.”
Dirga terdiam. Ia menunduk, memijat pelipisnya. Keheningan menyelimuti ruangan, hanya terdengar detak jam dinding yang semakin menggema. Ayunda menunggu. Setiap detik terasa seperti siksaan.
“Dia… memang teman SMP,” Dirga memulai, suaranya berat. “Kami dekat lagi beberapa tahun lalu. Saat itu… saat itu aku merasa sangat tertekan dengan pekerjaan. Kamu tahu kan, proyek besar yang hampir membuatku bangkrut? Aku merasa sendirian. Ratih… dia hadir lagi. Dia menemaniku. Kami dekat. Sangat dekat.”
Ayunda hanya bisa menatapnya. Ia tidak bisa memproses semua ini. Ia ingat perasaan tertekannya saat itu, namun ia pikir Dirga bersandar padanya. Ternyata tidak.
“Kami putus beberapa bulan sebelum menikahimu,” lanjut Dirga, matanya kini berkaca-kaca. “Aku janji padamu, aku akan lupakannya. Aku hapus semua kontaknya, aku hapus semua jejaknya. Tapi… foto ini entah bagaimana bisa tertinggal di jaket lama. Aku baru sadar setelah kamu menemukannya.”
“Dan kamu tidak pernah merasa perlu memberitahuku tentang ‘kedekatan’ itu?” tanya Ayunda, suaranya mulai bergetar. “Tentang lima tahun itu?”
Dirga menggeleng pelan. “Aku takut. Aku takut kamu akan meninggalkanku. Aku mencintaimu, Ayunda. Sangat mencintaimu. Aku tidak mau kehilanganmu.”
Babak 4 — Percabangan Jalan
Ayunda tertawa getir. Air mata mulai membasahi pipinya. “Kamu takut kehilangan aku? Tapi kamu memberiku janji palsu selama tujuh tahun? Kamu merayakan hari jadi kita dengan janji palsu?”
“Bukan palsu, Ayunda!” Dirga memohon, suaranya tercekat. “Semua yang kulakukan bersamamu itu nyata. Aku mencintaimu. Ratih… dia adalah masa lalu. Masa lalu yang kelam yang kubuang jauh-jauh.”
“Masa lalu yang kamu simpan di saku jaketmu?” Ayunda melangkah mundur. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena telah percaya begitu saja. Ia mengambil ponselnya. Matanya tertuju pada layar yang menyala. Ia teringat sebuah notifikasi yang ia abaikan semalam, sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal yang dikirim sekitar pukul 3 pagi. Saat ia terjaga dan menemukan foto itu. Notifikasi itu hanya berisi satu kalimat: ‘Dia masih menyimpanmu.’
Ayunda menatap Dirga lekat-lekat. “Siapa Ratih, Mas? Benar-benar teman SMP? Atau lebih dari itu?” Ia sengaja melontarkan pertanyaan itu untuk melihat reaksi Dirga, untuk melihat apakah ada keraguan lagi.
Dirga terdiam. Ia menelan ludah. “Kami pernah… sangat dekat. Saat itu aku bingung. Tapi aku memilihmu. Aku selalu memilihmu.”
“Memilih aku, tapi menyimpan dia di hati dan di saku jaketmu,” balas Ayunda dingin. Ia merasa lelah. Lelah dengan drama ini, lelah dengan kebohongan ini. Ia berjalan ke meja makan. Foto pudar itu masih tergeletak di sana. Ia mengambilnya.
“Aku tidak tahu harus percaya yang mana lagi, Dirga,” ucap Ayunda. “Kamu bilang cinta padaku, tapi kamu menyimpan rahasia sebesar ini. Kamu bilang semuanya sudah selesai, tapi dia tahu kamu masih menyimpan fotonya.”
Dirga bangkit dan mencoba mendekat. “Ayunda, kumohon. Jangan begini. Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”
“Bicara apa lagi?” Ayunda menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak tahu lagi siapa dirimu sebenarnya.” Ia merasakan ada sesuatu yang asing di saku celana training Dirga yang ia pakai semalam. Ia merogohnya. Tangannya menemukan sebuah kartu nama. Kartu nama sebuah kafe di daerah Sudirman, dengan jadwal janji temu tertulis di baliknya: ‘Ratih – Coffee Date, 10 AM tomorrow’.
Mata Ayunda melebar. Kemarin. Bukan ‘dulu’. Tapi kemarin. Tangannya gemetar saat memegang kartu nama itu. Ini bukan masa lalu. Ini adalah masa kini yang berbahaya.
Babak 5 — Di Persimpangan
Udara di apartemen terasa dingin menusuk tulang, meski AC tidak menyala. Dirga menatap Ayunda yang memegang kartu nama itu. Ekspresinya berubah dari memelas menjadi panik. Ia tahu ia sudah tidak bisa mengelak lagi.
“Ayunda, aku bisa jelaskan…” Dirga berusaha meraih kartu nama itu.
Ayunda menarik tangannya. Ia hanya berdiri di sana, memandang Dirga dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ada kesedihan, kekecewaan, tapi juga sebuah keteguhan yang baru muncul.
“Menjelaskan apa lagi, Dirga?” suara Ayunda terdengar begitu tenang, begitu asing. “Sudah jelas sekali. Ratih bukan sekadar teman SMP. Dia bukan masa lalu yang sudah dibuang. Dia adalah alasan kenapa kamu rela berdusta kepadaku. Alasan kenapa kamu memilih untuk menyimpan sebuah foto usang dan membuatku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.”
Dirga terdiam. Ia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membela diri. Semua alibinya runtuh. Kartu nama itu adalah bukti nyata. Tanggal yang tertera di baliknya adalah saksi bisu kebohongan yang masih berlangsung.
Ayunda meletakkan kartu nama itu kembali ke saku celana training Dirga. Gerakannya lambat, disengaja, seolah ingin mengukir setiap detail momen ini ke dalam ingatannya. Ia menatap Dirga sekali lagi, pandangan yang terasa seperti mengucap selamat tinggal.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” ucap Ayunda, suaranya lirih tapi terdengar jelas di telinga Dirga. “Tapi aku tidak bisa terus seperti ini. Aku tidak tahu siapa dirimu lagi.”
Ia berbalik, berjalan meninggalkan Dirga yang masih berdiri terpaku di ruang tamu. Ayunda tidak menuju kamarnya. Ia menuju pintu depan. Tangannya meraih gagang pintu, menariknya perlahan. Udara malam yang dingin menyambutnya. Ia tidak tahu akan pergi kemana. Yang ia tahu, keheningan di apartemen itu kini terasa jauh lebih memekakkan telinga daripada suara deru kendaraan di luar.
Ia keluar. Pintu apartemen tertutup perlahan di belakangnya, meninggalkan Dirga dalam kesendirian dan keheningan yang menjadi saksi bisu kehancuran sebuah pernikahan yang ia kira sempurna.
