Cerpen Horor: Flashdisk di Bawah Kasur Saat Sakit Menguak Misteri yang Menghantui Rumah Tanggaku

Cerpen Horor: Flashdisk di Bawah Kasur Saat Sakit Menguak Misteri yang Menghantui Rumah Tanggaku

CERITA PENDEK

Cerpen Horor: Flashdisk di Bawah Kasur Saat Sakit Menguak Misteri yang Menghantui Rumah Tanggaku

Babak 1 — Pagi yang Tidak Biasa

Demam masih merayapi tubuh Gendis, membuat setiap gerakan terasa seperti perjuangan melawan gravitasi yang tiba-tiba menguat. Pagi itu, ia memaksa diri untuk bangkit dari ranjang yang terasa seperti magnet. Sesak napas yang tak kunjung hilang membuatnya gelisah. Suara batuknya bergema di keheningan apartemen kecil mereka, kontras dengan dengkuran halus Dirga yang masih terlelap di sebelahnya. Gendis menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, berusaha mengatur napasnya. Ia merasa tidak enak badan sejak kemarin sore. Pusing, mual, dan rasa lemas yang luar biasa membuatnya tak sanggup beranjak dari kasur. Ia mengambil ponsel di nakas, ingin menghubungi kantor untuk izin tidak masuk kerja. Saat meraih ponsel, tangannya tanpa sengaja menyenggol tumpukan novel di sampingnya. Benda-benda itu berjatuhan ke lantai, termasuk sebuah benda kecil berwarna hitam yang terlempar sedikit ke bawah kolong tempat tidur. Gendis mengerutkan dahi. Apa itu? Sebuah flashdisk. Ia yakin 100% itu bukan miliknya. Dirga tidak pernah menggunakan flashdisk semenjak semua data berpindah ke cloud. Apalagi miliknya selalu tersimpan rapi di laci meja kerjanya. Rasa penasaran mengalahkan rasa sakit yang menyerang tubuhnya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak perlahan ke tepi ranjang, tangannya menggapai benda hitam itu.

Benda itu terasa dingin di tangannya. Sebuah flashdisk kingston, seingat Gendis, jenis yang umum dipakai bertahun-tahun lalu. Tidak ada merek atau logo khusus, hanya warna hitam pekat tanpa aksen apapun. Permukaannya sedikit berdebu, menandakan ia sudah cukup lama tergeletak di sana. Gendis terbatuk lagi, kali ini lebih keras. Napasnya tersengal-sengal. Ia mencoba bangkit untuk mengambil minum, namun rasa pusing kembali menyerang. Ia memutuskan untuk menunda rasa penasarannya dan kembali merebahkan diri. Mungkin saja Dirga yang menaruhnya di sana, lalu lupa. Tapi kapan? Dan kenapa? Dirga adalah tipe orang yang sangat teratur. Ia benci barang-barang berserakan. Terlebih lagi, Dirga selalu bilang ia adalah orang yang ‘gaptek’, jarang sekali ia berurusan dengan flashdisk. Tapi, Gendis meyakinkan dirinya, mungkin saja Dirga iseng atau ada keperluan mendadak. Entahlah. Yang jelas, benda itu berhasil membuatnya sedikit melupakan rasa sakit yang mendera.

Ia memandangi Dirga yang masih terlelap. Suaminya itu tampak begitu tenang. Wajahnya yang teduh, bulu matanya yang lentik saat terpejam, selalu membuat Gendis merasa aman. Mereka sudah menikah hampir lima tahun, dan sejauh ini, rumah tangga mereka adem ayem saja. Tidak ada pertengkaran besar, tidak ada kecurigaan. Gendis sendiri memiliki kebiasaan buruk, ia terlalu mudah percaya pada orang terdekatnya, terutama Dirga. Ia selalu menganggap suaminya jujur dan terbuka padanya. Kebiasaan perfeksionisnya justru lebih sering ia arahkan pada pekerjaan, bukan pada hal-hal pribadi yang bisa menimbulkan konflik. Ia lebih memilih mengalah, mengubur rasa tidak sukanya dalam-dalam daripada harus berdebat. Ia rasa, itu yang membuat hubungan mereka langgeng. Namun, penemuan flashdisk itu mulai menorehkan keraguan kecil di hatinya yang selama ini tenang. Ia mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran negatif itu. Mungkin saja ia hanya terlalu lelah dan demamnya membuatnya berhalusinasi atau berlebihan.


Babak 2 — Jejak Digital yang Hilang

Siang itu, demam Gendis sedikit mereda. Ia memutuskan untuk mencoba membuka flashdisk yang ia temukan. Ia meraihnya dari nakas, lalu berjalan perlahan ke ruang kerja Dirga. Komputer Dirga selalu menyala, Dirga terbiasa membiarkannya dalam mode sleep. Gendis membukanya, layar menyala. Ia mencari port USB, lalu memasukkan flashdisk hitam itu. Jantungnya berdebar tak karuan. Ada perasaan campur aduk antara penasaran dan sedikit takut. Takut menemukan sesuatu yang tidak diinginkan, namun lebih besar rasa penasaran untuk mengetahui asal-usul benda asing ini.

Layar komputer menampilkan jendela dialog ‘AutoPlay’. Gendis memilih ‘Open folder to view files’. Ia menekan tombol Enter dengan jemari yang sedikit gemetar. Folder terbuka. Di dalamnya, hanya ada satu file. Sebuah folder dengan nama ‘Project X’. Di dalamnya lagi, ada dua file. Satu file teks (.txt) dengan nama ‘Notes’ dan satu file gambar (.jpg) dengan nama ‘Final Image’. Gendis mengklik file ‘Notes’. Isi file itu sangat singkat:

‘Rencana finalisasi minggu depan. Data aman. Ingat, ini untuk kita berdua saja. Jangan sampai bocor.’

Gendis mengerutkan dahi. ‘Rencana finalisasi? Untuk kita berdua? Siapa ‘kita’? Siapa yang menulis ini?’ Jelas bukan tulisan tangan Dirga. Gendis mulai merasa tidak nyaman. Ia kemudian mengklik file gambar. Sebuah foto muncul di layar. Gendis terkesiap. Foto itu menampilkan Dirga, suaminya, sedang tersenyum bahagia bersama seorang wanita yang tidak ia kenal. Wanita itu memiliki rambut sebahu yang sedikit bergelombang, memakai kacamata frame bulat, dan matanya berbinar menatap kamera. Di samping mereka, ada sebuah bangunan modern dengan tulisan ‘Graha Kencana’ di fasadnya. Tanggal di sudut foto menunjukkan dua bulan yang lalu. Dua bulan lalu adalah saat Dirga bilang ia sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan, sebuah proyek besar yang harus ia selesaikan. Tapi ia tidak pernah cerita soal wanita ini, apalagi proyek yang berhubungan dengannya.

Rasa mual kembali menyerang Gendis, kali ini bukan karena demam. Ia memegang erat tepi meja. Ia mencoba mencari informasi tentang ‘Graha Kencana’ di Google. Hasilnya muncul. Itu adalah sebuah gedung perkantoran dan pusat konvensi di bilangan Jakarta Selatan. Dirga seringkali pergi ke sana, tapi selalu bilang untuk proyek kantornya sendiri, proyek yang tidak pernah Gendis tahu detailnya. Gendis kembali melihat foto itu. Senyum Dirga terlihat berbeda. Bukan senyum tulus yang biasa ia lihat setiap hari. Ada sedikit raut bangga, sedikit kepuasan yang tersembunyi di balik senyum itu. Dan wanita di sampingnya… entah kenapa, Gendis merasa ada sesuatu yang familiar dari wajah wanita itu, tapi ia tidak bisa mengingat di mana ia pernah melihatnya. Atau mungkin, hanya perasaannya saja karena ia sedang sakit dan otaknya tidak bekerja optimal.


Babak 3 — Kebohongan yang Terurai

Malam harinya, Dirga pulang kerja. Ia tampak lelah, seperti biasa. Ia mencium pipi Gendis sekilas sebelum berganti pakaian. ‘Gimana, Sayang? Udah baikan?’ tanyanya dengan suara lembut.

Gendis hanya mengangguk, pura-pura masih lemas. Ia masih terlalu syok untuk berbicara banyak. Pikiran tentang foto dan catatan di flashdisk itu berputar-putar di kepalanya. Ia memutuskan untuk mengamati Dirga. Ia ingin melihat apakah ada perubahan sikap dari suaminya.

‘Mas, tadi aku beresin meja Mas sebentar,’ Gendis memulai pembicaraan dengan nada santai, mencoba menyembunyikan kegugupannya. ‘Nemu barang aneh di bawah kolong kasur tadi pagi. Punya Mas ya?’ Ia menunjukkan flashdisk hitam itu.

Dirga menoleh, mengambil flashdisk itu, membolak-balikkannya. ‘Oh, ini,’ katanya singkat, matanya tidak menatap Gendis. ‘Punya rekan kerja. Kayaknya ketinggalan waktu dia main ke sini tempo hari. Nggak penting kok.’ Ia lalu meletakkan flashdisk itu di laci meja kerja Dirga, tanpa membuka atau memeriksa isinya.

Jawaban Dirga terdengar begitu datar, begitu biasa. Terlalu biasa. Seolah benda itu memang tidak penting sama sekali. Tapi Gendis tahu, itu tidak mungkin. Jika itu punya rekan kerja, kenapa tidak dikembalikan segera? Kenapa tergeletak di bawah kasur? Dan ‘tidak penting’? Gendis yakin, isi flashdisk itu sangat penting, setidaknya bagi Dirga. Keraguan di hatinya semakin besar. Ia merasa Dirga sedang menyembunyikan sesuatu.

Ia teringat percakapan Dirga dengan seseorang di telepon kemarin malam, saat ia sedang terbatuk-batuk hebat dan Dirga sedang mengambilkan minum di dapur. Dirga terdengar berbisik, ‘Ya, rencana besok. Pastikan dia tidak curiga. Kita selesaikan secepatnya.’ Gendis mengira itu adalah bagian dari pekerjaan Dirga yang rumit. Tapi sekarang, ditambah dengan penemuan flashdisk ini, semua menjadi terasa janggal.

Besoknya, Gendis merasa sedikit lebih sehat. Ia memutuskan untuk pergi ke kafe langganannya di bilangan Tebet, sekadar mencari udara segar dan menjernihkan pikiran. Sambil menyeruput es teh manis, ia membuka Instagram. Ia mulai mencari akun-akun yang mungkin dikenalnya, mencoba mencari wanita di foto itu. Ia membuka-buka foto lama Dirga di Instagramnya. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah foto yang diunggah tiga bulan lalu. Foto Dirga sedang berdiri di depan gedung ‘Graha Kencana’, tersenyum ke arah kamera. Dan di latar belakang, samar-samar terlihat siluet wanita berkacamata. Jantung Gendis berdegup kencang. Ia menyimpan foto itu di ponselnya, lalu memperbesar gambar itu. Ia membuka galeri foto di ponselnya, lalu membandingkan wanita di foto Instagram Dirga dengan wanita di flashdisk. Bentuk wajah, gaya rambut, kacamata… wanita itu sama.

Gadis itu bernama Karina. Nama itu tertera di bio Instagram yang Gendis temukan setelah melakukan pencarian lebih lanjut. Karina adalah seorang arsitek, dan dari beberapa postingannya, terlihat ia memang sering terlibat dalam proyek-proyek besar di ‘Graha Kencana’. Gendis terus menggali. Ia melihat foto-foto Karina yang lain. Ada beberapa foto yang memperlihatkan ia bersama Dirga di berbagai acara, semuanya bertanggal sebelum dan sesudah foto di flashdisk. Di beberapa foto, mereka terlihat sangat dekat, bahkan Dirga merangkul bahu Karina dengan mesra. Gendis merasa dunia sekelilingnya berputar. Ia baru menyadari, Dirga tidak pernah menceritakan tentang Karina, tidak pernah sedikitpun. Perasaan dikhianati perlahan menggerogoti hatinya. Ia merasa tuntas. Semua kebohongan Dirga kini terurai di depan matanya.


Babak 4 — Konfrontasi di Antara Keheningan

Malam itu, Gendis sudah menyiapkan mentalnya. Ia tidak bisa lagi menahan ini sendirian. Saat Dirga duduk di sofa ruang tengah, Gendis menghampirinya, membawa secangkir kopi hangat. Dirga tersenyum, menerima kopi itu.

‘Mas,’ Gendis memulai, suaranya terdengar sedikit bergetar. ‘Ada yang mau aku tanyain.’

Dirga menoleh, tatapannya penuh tanya. ‘Apa, Sayang?’

Gendis menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menunjukkan foto Dirga bersama Karina di depan ‘Graha Kencana’. ‘Ini siapa, Mas?’

Wajah Dirga seketika berubah. Senyumnya hilang, digantikan oleh raut terkejut yang tak bisa ia sembunyikan. Ia terdiam sesaat, matanya memandang layar ponsel Gendis, lalu beralih menatap Gendis dengan pandangan nanar.

‘Dan ini,’ lanjut Gendis, suaranya kini lebih mantap, ia menunjukkan foto mesra Dirga dan Karina dari Instagram. ‘Ini juga siapa? Kenapa Mas nggak pernah cerita sama aku?’

Dirga tampak gelagapan. Ia menggaruk tengkuknya, mencari kata-kata yang tepat.

‘Itu… itu bukan apa-apa, Gendis. Cuma rekan kerja.’ Suaranya terdengar ragu.

‘Rekan kerja?’ Gendis tertawa getir. ‘Rekan kerja yang mesra begini? Yang kalian simpan fotonya di flashdisk dan bilang ‘ini untuk kita berdua saja’? Yang kalian rencanakan ‘menyelesaikannya secepatnya’? Apa itu maksudnya, Mas?’

Dirga menunduk. Ia tidak mampu menatap mata Gendis. Keheningan menyelimuti ruangan. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar.

‘Aku…’ Dirga memulai, suaranya tercekat. ‘Aku bisa jelasin.’

‘Jelasin apa lagi, Mas? Jelasin kalau selama ini Mas bohong? Jelasin kalau foto ini cuma iseng? Jelasin kalau flashdisk itu bukan apa-apa?’ Gendis merasa air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. ‘Dari kapan, Mas? Sejak kapan semua ini?’

Dirga akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya terlihat sedikit memerah. ‘Gendis, dengerin aku…’

‘Nggak! Aku nggak mau dengerin apapun lagi!’ Gendis memotong. Ia merasa dunianya runtuh. Pria yang ia cintai, pria yang ia percayai sepenuhnya, ternyata menyimpan rahasia besar. ‘Aku cuma mau tau satu hal. Kenapa? Kenapa Mas lakuin ini sama aku?’

Dirga terdiam lagi. Ia menatap Gendis dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada penyesalan, ada ketakutan, tapi juga sesuatu yang lain… sesuatu yang Gendis tidak bisa mengerti. ‘Ini… ini lebih rumit dari yang kamu pikirkan, Gendis.’

Gendis menggelengkan kepala. ‘Rumit buat siapa, Mas? Buat Mas yang selingkuh? Atau buat aku yang harus menelan kenyataan ini?’ Ia bangkit berdiri, kakinya terasa lemas. ‘Aku nggak tau apa yang ada di flashdisk itu, tapi aku nggak mau tau lagi. Aku rasa, kita perlu waktu untuk sendiri-sendiri.’ Ia berjalan keluar dari ruang tengah, meninggalkan Dirga dalam keheningan yang mencekam.


Babak 5 — Gema yang Tertinggal

Gendis mengunci diri di kamar. Ia tidak menangis, tapi air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan. Ia memandang sekeliling kamar yang dulu terasa begitu nyaman, kini terasa asing dan dingin. Di atas nakas, tergeletak flashdisk hitam itu. Benda kecil yang telah menghancurkan segalanya. Ia tidak tahu isi sebenarnya dari folder ‘Project X’. Ia tidak tahu apa rencana yang dimaksud Dirga dan Karina. Ia hanya tahu, kepercayaan yang ia bangun selama lima tahun telah hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Ia teringat tatapan Dirga tadi. Tatapan yang aneh. Bukan hanya sekadar penyesalan seorang pengkhianat. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang Gendis tidak bisa tangkap. Seolah Dirga sedang menyembunyikan sesuatu yang lebih besar lagi, sesuatu yang membuatnya tampak begitu putus asa dan ketakutan. Tapi Gendis tidak punya tenaga lagi untuk memikirkannya. Ia merasa tubuhnya kembali lemas, mungkin sisa demam atau mungkin juga karena beban emosional yang terlalu berat.

Ia merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit. Keheningan apartemen kini terasa lebih mencekam dari sebelumnya. Suara batuknya sendiri terdengar asing di telinganya. Ia memejamkan mata, berharap semua ini hanya mimpi buruk. Namun, saat ia membuka mata kembali, ia melihat Dirga berdiri di ambang pintu kamar, mematung. Wajahnya pucat pasi, matanya memandang Gendis tanpa berkedip. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya terus berdiri di sana, seperti patung.

Gendis tidak berani bergerak. Ia hanya bisa menatap Dirga balik. Ada ketakutan yang mulai merayapi dirinya. Ketakutan yang berbeda dari rasa sakit hati karena dikhianati. Ketakutan akan sesuatu yang tidak ia mengerti. Perasaan tidak enak itu kembali menyergap. Ia merasa diawasi, tapi bukan oleh Dirga. Entah mengapa, perhatiannya tertuju pada sudut kamar yang gelap, tempat bayangan terlihat lebih pekat dari biasanya. Ia merasa bulu kuduknya meremang.

Dirga perlahan melangkah masuk ke kamar. Ia tidak lagi menatap Gendis, pandangannya tertuju pada sesuatu di belakang Gendis. Wajahnya semakin pucat. Gendis merasakan hawa dingin yang menusuk tulang, padahal AC di kamar tidak menyala. Ia mendengar suara bisikan halus, seperti gesekan daun kering, namun tidak ada angin. Perlahan, ia menggerakkan kepalanya. Ia melihat ke arah sudut gelap yang tadi ia perhatikan. Di sana, di antara bayangan yang menari, Gendis melihat sesuatu bergerak. Sesuatu yang tidak seharusnya ada.