Struk E-Toll Tengah Malam Bongkar Rahasia Pernikahan Adiwangsa yang Retak
Senyap malam biasanya menjadi sahabat terbaik Kirana. Ruang keluarga yang remang-remang, hanya diterangi cahaya temaram dari lampu meja, adalah tempat pelariannya dari hiruk pikuk dunia luar. Namun malam ini, kesenyapan itu terasa mencekam, dipenuhi bisikan-bisikan keraguan yang tak berujung. Di tangannya tergenggam selembar kertas lusuh, bukti nyata dari sesuatu yang tak ingin ia percayai.
Struk e-toll. Kertas kecil yang seharusnya tak lebih dari catatan transaksi biasa, kini terasa seperti sebuah bom waktu. Dilihat dari jamnya, pukul 02:17 dini hari. Sebuah jam yang tak lazim untuk pulang bagi Adiwangsa, suaminya. Bukan sembarang jam, melainkan jam ganjil yang selama ini selalu ia hindari dalam setiap pembicaraan tentang jadwal Adiwangsa. Terlalu banyak alasan yang pernah Adiwangsa berikan; lembur mendadak, rapat tak terduga, bahkan urusan keluarga mendesak di luar kota. Semua alasan itu kini terasa hampa, tertelan oleh kebenaran yang mungkin tersembunyi di balik kebiasaan pulang larutnya.
Kirana mengusap permukaannya yang sedikit lengket, membayangkan Adiwangsa menyimpannya di saku celana kerjanya, mungkin tanpa sengaja terlipat bersama sapu tangan atau dompet. Terlalu biasa. Terlalu umum. Namun struk ini bukan struk biasa. Ada kejanggalan yang mengusik nuraninya sejak ia menemukannya terselip di antara tumpukan dokumen di meja kerja Adiwangsa. Bukan tumpukan dokumen yang biasa ia rapikan, melainkan tumpukan yang terasa asing, seolah baru saja diacak-acak.
Ia menelan ludah, mencoba menenangkan jantungnya yang berdebar tak karuan. Adiwangsa. Pria yang dulu menatapnya dengan sorot mata penuh cinta, pria yang membangun istana impian bersamanya, pria yang ia percayai sepenuhnya. Apakah ia salah menafsirkan? Mungkin saja, ini hanya kebetulan. Mungkin Adiwangsa pulang larut karena ada masalah bisnis yang sangat genting, dan ia lupa membuang struk ini. Pikiran-pikiran itu berkelebat, mencoba menariknya kembali ke zona aman ketidaktahuan. Namun, data di struk itu menolak untuk dibantah.
Jalan tol yang tertera adalah ruas yang jarang Adiwangsa lalui. Ruas yang justru mengarah ke sebuah apartemen mewah di pusat kota, apartemen yang tidak pernah menjadi bagian dari rutinitas Adiwangsa. Apartemen yang, sejauh yang Kirana tahu, hanya dihuni oleh kalangan tertentu. Kirana menggeser duduknya, jemarinya mulai terasa dingin. Ia pernah mendengar desas-desus tentang tempat itu dari teman-temannya, tempat di mana rahasia-rahasia tersimpan rapi di balik dinding-dinding kaca yang megah.
Ia bangkit perlahan, beranjak ke dapur. Kopi hangat mungkin bisa sedikit menenangkan. Saat ia membuka laci, tangannya menyentuh sebuah kotak kecil yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Kotak itu terbuat dari kayu jati, ukirannya halus dan sederhana, namun terasa sangat personal. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia membukanya. Di dalamnya, tergeletak sehelai syal sutra berwarna senada dengan warna kesukaan Adiwangsa, dan sebuah parfum botol kecil dengan aroma yang sangat familiar, aroma yang pernah ia cium samar-samar dari jas Adiwangsa beberapa minggu lalu.
Ada sesuatu yang terlipat di bawah syal. Lembaran kertas yang lebih tebal dari struk. Sebuah tiket. Tiket bioskop. Film yang baru saja diputar beberapa hari lalu, dan yang paling mencengangkan, tiket itu tertulis untuk dua orang. Dan di sana, tertera tanggal yang sama dengan struk e-toll itu, sebuah tanggal di mana Adiwangsa mengatakan sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota.
Kirana memejamkan mata, mencoba menyusun kepingan puzzle yang semakin mengerikan. Bukan hanya struk e-toll yang mengarah ke sebuah tempat asing. Bukan hanya syal dan parfum yang tak dikenalnya. Tapi tiket bioskop itu, tiket yang seolah mengkonfirmasi bahwa malam itu, Adiwangsa tidak sendirian. Jantungnya berdegup kencang, rasa sakit mulai menjalari dadanya. Apakah semua kebohongan ini sudah berlangsung lama? Sejak kapan Adiwangsa menjadi asing baginya? Ia membuka matanya perlahan, tatapannya tertuju pada sebuah foto pernikahan mereka yang terpajang di dinding ruang tamu. Senyum Adiwangsa dalam foto itu terlihat begitu tulus, namun kini terasa seperti sebuah ironi yang menyayat hati.
Ia kembali ke meja kerja Adiwangsa. Jemarinya yang gemetar mulai membuka laci-laci lainnya. Laci pertama berisi berkas-berkas bisnis yang biasa. Laci kedua berisi alat tulis. Laci ketiga… laci ketiga adalah tempat kebenaran paling brutal bersembunyi. Sebuah buku harian kecil bersampul kulit hitam. Bukan milik Adiwangsa. Ia yakin itu. Cara penulisannya, pemilihan katanya, semuanya terasa begitu berbeda. Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Halaman pertama langsung menatapnya, dihiasi sebuah inisial: ‘R’. Nama yang sama dengan Kirana. Namun tulisan itu terasa lebih muda, lebih bersemangat, dan penuh dengan ungkapan cinta yang begitu… asing.
Baris demi baris ia membaca, tenggelam dalam pengakuan seseorang yang mengaku mencintai Adiwangsa. Seseorang yang diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Adiwangsa, seseorang yang merindukan sentuhan Adiwangsa, seseorang yang ternyata memiliki hubungan dekat dengan Adiwangsa, bahkan sampai berbagi momen-momen intim yang tak terbayangkan. Dan yang paling mengerikan, sebuah entri yang ditulis beberapa bulan lalu, menceritakan tentang sebuah liburan singkat ke Bali, sebuah liburan yang sangat mirip dengan liburan bulan madu mereka, hanya saja kali ini, bersama ‘R’ yang berbeda.
Kirana merasa dunianya runtuh. Struk e-toll itu bukan sekadar tiket pulang. Syal dan parfum itu bukan sekadar kenang-kenangan tak sengaja. Buku harian itu adalah bukti paling mutlak. Ia menatap laci terakhir, laci yang belum ia sentuh. Ada perasaan yang memanggilnya untuk membukanya, perasaan yang mengatakan bahwa di sana ada satu kepingan terakhir yang akan melengkapi gambaran mengerikan ini. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa keberaniannya. Tangannya terulur, jemarinya menyentuh kenop dingin laci itu. Tepat saat ia akan membukanya, ia mendengar deru mesin mobil memasuki garasi. Adiwangsa pulang.
