Dia Bilang Sibuk Ngampus, Tapi Notifikasi Transfer Ini Muncul Jam 3 Pagi
Alarm ponsel berdering nyaring, membelah kesunyian pukul tiga pagi. Getarannya terasa hingga ke tulang, membangunkan Kirana dari tidur lelapnya. Dengan mata setengah terpejam, ia meraba nakas, mencari sumber gangguan itu. Sebuah notifikasi dari aplikasi mobile banking terpampang di layar gelap: ‘Transfer Rp 500.000 berhasil ke: ADI’. Jantungnya berdegup kencang. ADI? Siapa ADI? Yang ia tahu, satu-satunya yang harusnya bertransaksi dengannya malam ini adalah Bima, kekasihnya, yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi di kosannya yang hanya berjarak beberapa blok.
Kirana mengerutkan kening. Bima bilang dia sedang fokus mengerjakan revisian terakhir, mengerjakan laporan untuk dosen pembimbing yang terkenal killer. Tapi notifikasi ini, transfer sebesar lima ratus ribu rupiah, jam tiga pagi? Nama ‘ADI’ terukir jelas, bukan nama Bima. Tangannya mulai gemetar saat ia menyalakan lampu meja, silau cahaya membantunya fokus pada layar ponsel. Ia membuka daftar kontak, mencari nama Bima. Tertera ‘Bima 🧡’. Nama yang sama yang selalu ia simpan dengan penuh kasih sayang. Jari-jarinya ragu untuk menekan tombol panggilan. Apa yang harus ia katakan? ‘Sayang, kamu barusan ngirim duit ke orang asing jam tiga pagi?’ Pikirannya berputar, mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin Bima sedang iseng? Atau mungkin ini kesalahan aplikasi?
Tapi jauh di lubuk hatinya, sebuah firasat buruk mulai merayap. Ia teringat obrolan ringan sore tadi. Bima mengeluh pusing karena terlalu banyak membaca jurnal, namun matanya tak lepas dari layar ponselnya yang lebih sering menampilkan notifikasi media sosial daripada tugas kuliah. Ia bilang ingin beristirahat sebentar, lalu memesan kopi susu boba dari aplikasi ojek online, yang datang tak lama kemudian diantar oleh driver dengan jaket hijau khas yang sedikit terlalu ketat. Kirana mencoba menepis keraguan itu. Bima selalu jujur padanya. Mereka sudah menjalin kasih sejak semester pertama kuliah di Universitas Gadjah Mada, berbagi suka duka kehidupan kampus, mulai dari pusingnya tugas kelompok hingga bahagianya lulus mata kuliah yang paling sulit.
Namun, keraguan itu tak kunjung hilang. Ia memutuskan untuk memeriksa riwayat transfer Bima. Berharap menemukan jejak transaksi yang berhubungan dengan kebutuhan kuliah atau sesuatu yang bisa ia pahami. Tapi yang ia temukan justru semakin menambah beban di dadanya. Ada beberapa transfer lain ke nomor yang sama, dengan deskripsi ‘pulsa’ atau ‘bayar utang’. Pulsa? Bima tidak pernah memesan pulsa sebanyak itu. Dan bayar utang? Bukankah Bima sudah berjanji akan melunasi cicilan laptopnya bulan ini?
Perlahan, Kirana bangkit dari tempat tidur. Ia tak bisa tidur lagi. Suara kipas angin kosan Bima yang biasanya terdengar samar dari jendela kamarnya kini terasa menusuk. Ia melirik jam dinding, menunjukkan pukul 03:17. Masih terlalu pagi untuk mendatangi kosan Bima, tapi rasa penasaran dan cemasnya sudah tak tertahankan. Ia memutuskan untuk kembali ke ponselnya. Ia membuka aplikasi pesan singkatnya. ‘Bima 🧡’. Terakhir kali ia mengirim pesan adalah jam sepuluh malam tadi, menanyakan apakah Bima sudah makan. Balasan Bima singkat: ‘Udah, Sayang. Lagi fokus banget nih. Jangan ganggu ya :)’. Senyum kecil di akhir kalimat terasa ironis sekarang.
Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, Kirana membuka profil kontak Bima. Ia menggeser layar ke bawah, mencari informasi tambahan yang mungkin terlewat. Di sana, tertera nomor telepon Bima. Ia menyalin nomor itu, lalu membuka aplikasi Gojek. Ia mencoba memesan GoFood untuk Bima, sekadar untuk melihat apakah ada interaksi lain atau notifikasi yang bisa memberinya petunjuk. Namun, saat ia hendak memilih menu, layar ponselnya tiba-tiba berkedip. Sebuah pesan baru masuk dari nomor tak dikenal. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ia membukanya.
Pesan itu berisi foto. Foto Bima, tapi bukan Bima yang ia kenal. Bima terlihat lebih santai, tersenyum lebar, dengan seorang perempuan asing yang merangkul lengannya mesra. Perempuan itu tertawa lepas, matanya berbinar. Latar belakang foto itu adalah sebuah kafe yang tampak ramai di daerah Seturan. Kirana tahu kafe itu. Bima pernah mengajaknya ke sana, tapi ia berhalangan hadir karena ada acara keluarga. ‘Maaf ya, Sayang. Lain kali aku temenin,’ kata Bima waktu itu, suaranya terdengar sedikit terburu-buru.
Kirana merasa dunia berputar. Foto itu seperti tamparan keras di wajahnya. Ia teringat Bima yang selalu sibuk, selalu punya alasan untuk tidak bertemu, selalu mengatakan bahwa dia sedang berjuang demi masa depan mereka. ‘Demi kita,’ katanya, seringkali dengan nada lelah. Tapi foto ini membuktikan sebaliknya. Ini bukan sekadar ‘sibuk kuliah’. Ini adalah kebohongan yang terstruktur rapi, ditutupi dengan dalih cinta dan pengorbanan.
Kirana tidak bisa tinggal diam. Ia harus tahu kebenarannya. Ia memutuskan untuk segera berangkat ke kosan Bima, meskipun jam masih menunjukkan pukul 03:30. Ia mengenakan jaket hoodie yang tergantung di dekat pintu, mengambil kunci motor, dan bergegas keluar. Udara dingin malam langsung menyergap wajahnya saat ia melangkah ke luar. Jalanan Yogyakarta masih sepi, hanya diterangi lampu jalan yang temaram. Suara deru motornya memecah keheningan, namun pikirannya terasa lebih bising dari suara mesin itu sendiri.
Sesampainya di depan gerbang kosan Bima, ia memarkir motornya sedikit jauh. Ia tak ingin Bima melihatnya datang tiba-tiba. Ia mengendap-endap mendekati kamar Bima. Dari celah tirai jendela yang sedikit terbuka, ia bisa melihat lampu kamar Bima menyala redup. Ia mencoba mengintip. Samar-samar ia melihat siluet dua orang di dalam kamar. Satu terlihat seperti Bima, dan satu lagi… lebih pendek, dengan rambut tergerai. Kirana merasakan mual naik ke tenggorokannya.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamar Bima dibuka. Kirana sontak bersembunyi di balik pohon mangga yang rindang di depan kamar Bima. Ia menahan napas. Sosok perempuan asing yang ada di foto tadi keluar dari kamar Bima, berjalan tergesa-gesa sambil merapikan rambutnya. Ia mengenakan jaket yang sama seperti di foto. Ia sempat menoleh ke arah Kirana yang bersembunyi, tatapan mereka bertemu sekilas sebelum perempuan itu mempercepat langkahnya menuju gerbang.
Kirana tak berani bergerak. Ia menunggu sampai sosok perempuan itu benar-benar menghilang dari pandangan. Lalu ia memberanikan diri mendekati kamar Bima. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia mendorong pelan pintu kamar Bima yang ternyata tidak terkunci. Masuklah ia ke dalam. Kamar itu berantakan. Pakaian berserakan di lantai, tumpukan buku-buku skripsi tertindih gelas kopi bekas. Di atas meja, tergeletak ponsel Bima yang layarnya masih menyala. Di layar itu terpampang percakapan dengan nama ‘ADI’. Kirana membaca sekilas beberapa pesan terakhir.
‘Makasih ya, Dim. Kamu emang penyelamat.’ tulis ADI. Dan balasan Bima: ‘Sama-sama. Kapan-kapan traktir lagi ya. Gue butuh duit buat bayar kosan bulan ini.’ Kirana membeku. ADI? Jadi perempuan tadi namanya ADI? Tapi mengapa Bima bertukar pesan dengan nama itu? Lalu notifikasi transfer tadi? Uang lima ratus ribu itu… untuk apa?
Ia melihat ke arah lemari pakaian Bima. Ada sesuatu yang janggal. Kunci duplikat kamar Bima biasanya tersimpan di bawah pot kaktus kecil di sudut kamar. Tapi kali ini, kunci itu tidak ada. Kirana mulai mencari-cari. Ia membuka laci meja belajar Bima. Di sana, terselip sebuah buku catatan kecil berwarna biru dongker. Di halaman pertama, tertulis jelas: ‘Buku Aset Pribadi – ADI’. Kirana membuka buku itu perlahan. Isinya adalah daftar barang-barang berharga: jam tangan mewah, beberapa buah cincin emas, dan… sebuah tiket pesawat ke Singapura dengan nama ‘ADI’ tertera di sana. Ada juga tanggal keberangkatan yang sama dengan hari esok.
Kirana menatap layar ponsel Bima lagi. Ia melihat riwayat panggilan. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari nomor yang sama dengan nomor pengirim pesan tadi. Ia penasaran, lalu ia pun membalas pesan yang dikirimkan tadi. ‘Siapa kamu?’ Kirana mengetik dengan tangan gemetar.
Beberapa menit berlalu tanpa jawaban. Kirana merasa putus asa. Ia menatap sekeliling kamar Bima, mencari petunjuk lain, mencari pembenaran untuk semua ini. Lalu, tiba-tiba layar ponselnya kembali berkedip. Pesan balasan dari ‘ADI’ telah diterima.
‘Aku pacarnya,’ begitu bunyi pesan itu. Singkat, padat, dan menghancurkan.
Kirana terdiam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Pacarnya? Bima punya pacar lain? Dan dia adalah ADI? Tapi Bima selalu mengatakan bahwa ia hanya mencintai Kirana. Bahwa mereka akan menikah setelah lulus. Semua janji-janji itu, semua rencana masa depan yang mereka bangun bersama, kini terasa seperti fatamorgana di padang pasir. Dingin dan hampa.
Ia membuka kembali galeri foto di ponsel Bima. Ia scroll lebih jauh ke bawah. Ada foto-foto Bima dan ADI di berbagai tempat: di sebuah taman bermain, di depan pantai yang indah, bahkan di sebuah acara keluarga yang tampak formal. Dalam setiap foto, mereka terlihat sangat bahagia, sangat mesra. Jauh lebih mesra daripada foto-foto Bima bersamanya. Kirana merasa dadanya sesak. Ia teringat lagi notifikasi transfer dini hari itu. Rp 500.000. Apakah itu untuk ADI? Untuk kebutuhan ADI?
Ia lalu teringat pada percakapan singkatnya dengan Bima semalam. ‘Jangan ganggu ya :)’. Sebuah senyuman yang kini terasa sangat sinis. Bima tidak sedang fokus mengerjakan skripsi. Dia sedang bersama ADI. Dan uang yang ditransfer tadi pagi, mungkin uang yang ia dapatkan dari menjual sesuatu? Atau uang yang seharusnya ia gunakan untuk keperluan mereka bersama?
Kirana merasa mual. Ia ingin muntah. Ia melihat jam dinding di kamar Bima. Pukul 03:55. Ia harus pergi. Ia tidak ingin Bima pulang dan melihatnya di sini. Ia mengambil buku catatan ‘ADI’ dan tiket pesawat itu, lalu memasukkannya ke dalam tasnya. Ia merasa harus memiliki bukti. Bukti bahwa semua ini bukan hanya imajinasinya. Bukti bahwa Bima telah mengkhianatinya sedalam-dalamnya.
Ia keluar dari kamar Bima, menutup pintu pelan-pelan. Ia berjalan menuju motornya, merasakan dinginnya udara malam yang menusuk kulitnya. Saat ia menyalakan mesin motor, matanya tertuju pada jendela kamar Bima. Tiba-tiba saja, tirai jendela itu terbuka lebar. Bima berdiri di sana, menatap lurus ke arahnya. Wajahnya pucat pasi. Ia seperti baru saja terbangun, namun tatapan matanya menunjukkan kebingungan dan keterkejutan yang luar biasa. Kirana menatap balik Bima tanpa ekspresi, lalu ia memutar gas motornya dan melaju pergi, meninggalkan Bima yang masih terpaku di jendela kamarnya.
Dalam perjalanan pulang, pikiran Kirana berkecamuk. Ia memegang erat buku catatan dan tiket pesawat di tasnya. Ia tak tahu harus berbuat apa. Menghadapi Bima? Mempermalukannya? Atau diam saja, membiarkan Bima melanjutkan hidupnya dengan ADI? Air mata mulai mengalir deras, membasahi pipinya. Ia tak tahu harus bagaimana. Dunia yang ia bangun bersama Bima runtuh seketika, meninggalkan puing-puing kehancuran dan pertanyaan yang tak terjawab.
