Dia Bilang Hanya Lembur, Tapi Gelang Ini Membuktikan Semua Kebohongan Sang Suami

Dia Bilang Hanya Lembur, Tapi Gelang Ini Membuktikan Semua Kebohongan Sang Suami

CERITA PENDEK

Dia Bilang Hanya Lembur, Tapi Gelang Ini Membuktikan Semua Kebohongan Sang Suami

Babak 1 — Kopi Pagi yang Terlalu Dingin

Napas Laksmi terasa tercekat di kerongkongannya. Secangkir kopi yang baru saja ia seduh beberapa menit lalu kini terasa seperti air es di tangannya. Dingin. Sama dinginnya dengan senyum suaminya, Pradipta, pagi ini. Ia masih ingat betul bagaimana kemarin malam, Pradipta mengecup keningnya sembari berbisik, ‘Aku lembur lagi ya, Sayang. Ada deadline mendadak.’ Suara itu terdengar tulus, matanya memancarkan rasa bersalah yang—kalau saja Laksmi tidak menemukan ini—akan membuatnya percaya begitu saja.

Laksmi duduk di kursi makan kayu jati yang sudah menggores di sana-sini, hasil gesekan tas kerja Pradipta setiap kali ia meletakkannya di sudut. Ia berusaha fokus pada sarapan nasi uduk yang ia beli dari warung Bu Mirna di ujung jalan. Aroma daun pisang dan semerbak bumbu harusnya membuatnya tenang, tapi perutnya bergolak seperti ombak yang diterpa badai. Tangannya yang memegang sendok mulai gemetar. Ia mencoba menstabilkannya dengan menahan pergelangan tangan kirinya dengan tangan kanan. Tidak berhasil.

‘Mas Pradipta, bajunya sudah kusiapkan di lemari,’ Laksmi memanggil, suaranya sedikit serak. Ia memastikan nada suaranya tetap datar, seperti biasa. Ia tidak ingin membuat Pradipta curiga. Sedikit saja celah kecurigaan, maka rahasia yang baru saja ia genggam ini akan lenyap ditelan bumi, atau lebih buruk lagi, ditelan oleh kebohongan yang semakin dalam.

Dari dalam kamar, terdengar suara Pradipta, ‘Oke, Makasih ya, Sayang. Aku mandi dulu.’ Suara itu terdengar normal. Terlalu normal. Kebiasaan Laksmi yang lain adalah suka membereskan barang-barang Pradipta yang tertinggal di ruang tamu. Bukan karena ia posesif, tapi karena ia tahu betul kebiasaan suaminya yang sering terburu-buru berangkat kerja. Kadang lupa membawa dompet, kadang lupa kunci mobil. Dan hari ini, ia menemukan sesuatu. Sesuatu yang seharusnya tidak ada di sana.

Sebuah gelang. Bukan gelang emas atau perak yang mewah. Ini gelang sederhana, terbuat dari tali kulit tipis berwarna coklat tua, dengan sebuah liontin kecil berbentuk jangkar perak yang tergores di sana-sini. Laksmi tahu persis gelang itu bukan miliknya. Ia juga yakin 100% bukan milik Pradipta. Pradipta tidak pernah memakai aksesori sekecil itu. Dan yang paling penting, gelang itu tergeletak di bawah sofa ruang tamu, tersangkut di sela-sela bantal yang baru saja ia rapikan. Jelas, gelang itu jatuh dari seseorang.

Babak 2 — Tali Kulit yang Berbisik

Jantung Laksmi berdegup kencang, iramanya seperti genderang perang yang ditabuh tanpa henti. Ia memutar-mutar gelang itu di antara jari-jarinya yang dingin. Liontin jangkar yang tergores itu terasa kasar di ujung jarinya. Siapa? Siapa pemiliknya? Kapan benda ini sampai di sini? Dan yang paling penting, mengapa ada di rumah mereka?

Ingatannya melayang pada percakapan semalam. Pradipta memberitahunya bahwa ia akan lembur di kantor hingga larut malam. ‘Ada proyek besar yang harus selesai, Sayang. Mungkin aku pulang setelah jam 12.’ Ucapnya sambil mengusap rambut Laksmi. Ia mencium aroma parfum Pradipta yang khas, sedikit maskulin namun lembut. Tapi kini, saat ia memegang gelang ini, ada aroma lain yang samar-samar tercium. Bunga. Bukan parfum ruangan. Aroma parfum bunga yang lembut, seperti melati atau kenanga.

Laksmi membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Ia membuka daftar riwayat perjalanan terakhir Pradipta. Terakhir kali Pradipta menggunakan GoCar adalah tiga hari lalu saat ia pulang dari meeting di daerah Kuningan. Tapi kemarin malam, ia bilang akan lembur. Ia tidak menyebutkan akan pulang menggunakan transportasi online. Laksmi membuka aplikasi Grab, lalu Shopee. Ia mencari aplikasi lain, mungkin ada jejak digital lain dari kegiatan Pradipta. Tidak ada.

Tangannya gemetar saat ia membuka galeri foto di ponselnya. Ia tahu ini salah, tapi rasa penasaran ini lebih kuat dari akal sehatnya. Ia scroll foto-foto Pradipta. Foto-foto liburan mereka, foto mereka saat wisuda, foto candid saat Pradipta sedang tertidur pulas. Tidak ada foto yang mencurigakan. Hingga ia sampai pada sebuah foto yang diambil beberapa minggu lalu. Foto candid saat Pradipta sedang duduk di kafe. Di tangan kanannya, terlihat sekilas sebuah gelang yang—ia yakin—sama persis dengan yang ia pegang sekarang. Tapi di foto itu, Pradipta sedang berinteraksi dengan seseorang yang terlihat samar di latar belakang.

Siapa wanita di foto itu? Siapa pemilik gelang ini? Dan mengapa Pradipta diam-diam membawanya ke rumah?

Babak 3 — Jejak Digital yang Tak Terduga

Pikiran Laksmi berpacu liar. Ia mencoba mengingat kembali detail-detail kecil dari obrolan mereka semalam. Pradipta mengatakan akan lembur, tapi tidak menyebutkan akan makan malam di mana atau dengan siapa. Ia juga tidak mengatakan akan kembali ke apartemen secepatnya. Laksmi membuka aplikasi Tokopedia, tempat ia sering membeli kebutuhan rumah tangga. Ia mencari riwayat pesanan Pradipta, berharap menemukan sesuatu yang bisa memberinya petunjuk. Tidak ada. Semua pesanan adalah barang-barang kebutuhan rumah tangga biasa.

Laksmi menutup matanya sejenak, menarik napas dalam-dalam. Ia mencoba memutar ulang kejadian kemarin malam. Pradipta berpamitan, lalu ia menyibukkan diri membersihkan apartemen. Ia ingat sempat mengecek akun Instagram-nya sebelum tidur, melihat beberapa postingan teman-teman. Pradipta pulang agak larut, ia masih terjaga saat Pradipta masuk ke kamar. Pradipta terlihat sedikit lelah, tapi tidak berlebihan. Ia hanya bergumam ‘Aku langsung tidur ya, Sayang,’ lalu membalikkan badan dan memejamkan mata. Tidak ada gelagat yang aneh.

Jadi, kapan gelang itu bisa jatuh? Pasti saat mereka berada di ruang tamu. Entah saat Pradipta sedang mengambil sesuatu di bawah sofa, atau saat ia sedang santai sejenak sebelum ke kamar. Tapi bagaimana mungkin ia tidak melihatnya semalam? Mungkin tertutup, atau Pradipta sendiri tidak menyadarinya. Laksmi bangkit dari kursinya dan berjalan ke ruang tamu. Ia berjongkok, melihat ke bawah sofa lagi. Benar saja, ada sedikit debu yang tersangkut di sudut sofa, tempat ia menemukan gelang itu.

Ia mencoba menghubungi beberapa teman dekat Pradipta melalui aplikasi pesan singkat. ‘Eh, ada yang tahu Pradipta lembur sama siapa semalam?’ Pertanyaan itu ia kirimkan ke grup chat kantor Pradipta. Beberapa menit kemudian, balasan mulai berdatangan. ‘Lembur? Kayaknya sih enggak, Mbak Laksmi. Tadi malam aku lihat Mas Pradipta keluar dari kantor jam 7 malam.’ Balasan itu datang dari Dani, salah satu rekan kerja suaminya. Jantung Laksmi serasa berhenti berdetak. Keluar jam 7 malam? Tapi ia bilang akan lembur.

Babak 4 — Sang Wanita di Foto

Dani melanjutkan pesannya, ‘Dia bilang mau ada acara pribadi. Tapi katanya mau langsung pulang.’ Laksmi merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Acara pribadi? Pulang? Tapi Pradipta tidak pulang. Setidaknya, tidak ke kamar. Laksmi menatap gelang di tangannya, liontin jangkar yang tergores itu kini terasa seperti duri yang menusuk hatinya. Siapa wanita yang ada di foto itu? Kenapa Pradipta berbohong?

Laksmi merasa mual. Ia membuka kembali foto di galeri ponselnya. Ia memperbesar gambar itu, mencoba melihat wajah wanita di latar belakang dengan lebih jelas. Ia menggunakan aplikasi edit foto untuk meningkatkan kontras dan kecerahan gambar. Perlahan, sebuah wajah mulai terlihat samar. Seorang wanita muda, dengan rambut sebahu yang sedikit bergelombang. Dan ia memakai—ya Tuhan—ia memakai gelang yang sama persis di pergelangan tangannya. Tali kulit coklat tua dengan liontin jangkar.

Laksmi teringat percakapan lain beberapa minggu lalu. Pradipta pernah bercerita tentang proyek baru yang melibatkan seorang klien wanita dari luar kota. Namanya… siapa ya? Laksmi berusaha mengingat. Seseorang yang katanya sangat perfeksionis dan detail. Pradipta sempat mengeluh tentang betapa sulitnya bekerja sama dengan klien tersebut. Apakah wanita ini kliennya?

Laksmi membuka aplikasi email. Ia mencari email-email yang berhubungan dengan ‘proyek baru’ atau nama-nama klien yang pernah disebut Pradipta. Ia menemukan sebuah email dari Pradipta yang ditujukan kepada timnya. Subjek: ‘Pembahasan Proyek X dengan Klien Baru.’ Di bawahnya ada nama klien: ‘Nindya Reswari.’ Di bawah nama itu tertera alamat email dan nomor telepon klien tersebut. Laksmi mengetik nama ‘Nindya Reswari’ di Instagram. Muncul beberapa akun. Salah satunya memiliki foto profil seorang wanita muda dengan rambut sebahu, memakai kalung sederhana. Laksmi membuka foto-foto wanita itu. Dan di beberapa foto candid-nya, Laksmi melihat sesuatu yang membuat darahnya serasa mendidih. Di pergelangan tangan Nindya Reswari, terpasang gelang tali kulit coklat tua dengan liontin jangkar.

Babak 5 — Suara yang Terpotong

Ponsel Laksmi berdering. Nama Pradipta tertera di layar. Jantungnya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Ia menatap gelang di tangannya, lalu menatap layar ponselnya yang bergetar. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Marah? Menangis? Atau pura-pura tidak tahu?

Ia akhirnya mengangkat panggilan itu. ‘Halo?’ Suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Di seberang sana, Pradipta terdengar sedikit terburu-buru. ‘Sayang, kamu sudah sarapan? Maaf ya aku tadi pagi belum sempat pamitan, buru-buru banget ada meeting mendadak.’ Laksmi terdiam sejenak. Meeting mendadak? Tapi Dani bilang ia keluar jam 7 malam.

‘Kamu tadi malam pulang jam berapa?’ Laksmi bertanya, suaranya masih terkontrol. Di seberang sana, terdengar jeda singkat. ‘Oh… itu… aku langsung tidur kok, Sayang. Kamu pasti kelelahan ya semalam?’ Suara Pradipta terdengar sedikit canggung. Tidak ada jawaban langsung. Laksmi menarik napas. Ia memutuskan untuk tidak langsung menuduh. Ia masih ingin mendengar apa yang akan dikatakan Pradipta.

‘Aku menemukan sesuatu di sofa,’ Laksmi berkata pelan. ‘Gelang.’ Kata itu menggantung di udara. Di seberang sana, keheningan menyelimuti. Tidak ada jawaban. Tidak ada suara sama sekali. Hanya dengungan samar dari saluran telepon yang menandakan sambungan masih terhubung.

‘Pradipta?’ panggil Laksmi lagi, suaranya kini sedikit bergetar. ‘Gelang itu… warnanya coklat, talinya kulit. Ada liontin jangkar. Itu punya siapa?’ Laksmi menunggu. Menunggu jawaban yang mungkin akan menghancurkan segalanya, atau setidaknya, memulai kehancuran itu. Tapi yang ia dengar hanyalah suara napas Pradipta yang tertahan, lalu sebuah suara terputus, seolah sambungan telepon tiba-tiba dimatikan. Laksmi menatap ponselnya yang kini menampilkan layar panggilan tak terjawab. Di tangannya, liontin jangkar itu terasa dingin membeku.