Cerpen: Ia Kira Itu Hanya Foto Liburan, Sampai Ia Sadar Ada Jejak Kaki Asing
Babak 1 — Bingkai Kehangatan yang Retak
Kalani menghela napas panjang, jemarinya membelai layar ponsel. Foto itu kembali terbuka. Gambaran laut biru jernih, pasir putih halus, dan senyum lebar suaminya, Ardi, yang tertangkap kamera saat mereka berlibur di Bali tiga bulan lalu. Ia merasa sedikit bodoh karena terus-menerus membuka foto yang sama. Tiga bulan, tapi rasanya seperti baru kemarin ia merasakan hangatnya matahari dan deburan ombak di kulitnya. Ardi memeluknya erat dari belakang, dahinya menempel di puncak kepalanya. Mereka berdua tertawa. Sebuah potret kesempurnaan, pikirnya saat itu.
Ia ingat betul momen itu. Sore hari, setelah seharian menjelajahi pura-pura di dekat Ubud. Ardi ingin sekali berenang sebelum matahari terbenam. Kalani yang lelah hanya duduk di tepi kolam renang villa mereka, menikmati jus kelapa dingin sambil watched Ardi berenang. Suaminya itu memang punya energi tak terbatas. Ia memanggil Kalani untuk ikut, tapi Kalani hanya menggeleng sambil tertawa. ‘Kamu saja, Mas. Aku di sini saja,’ katanya. Ardi kemudian keluar dari kolam, mengeringkan badannya dengan handuk, lalu menghampiri Kalani. Ia meminta Kalani mengambilkan ponselnya yang tergeletak di meja kecil. ‘Bantu aku foto, Sayang. Biar ada kenangannya,’ katanya dengan nada ceria.
Kalani pun mengambil ponsel itu, mengarahkannya pada Ardi yang berdiri di depan latar belakang kolam renang dan langit senja yang mulai jingga. Ardi merangkul Kalani, menariknya mendekat. Kalani menyandarkan kepalanya di bahu Ardi. ‘Senyum!’ seru Ardi. Kalani menurut, tersenyum tipis sementara Ardi menunjukkan deretan giginya yang rapi. Jepret. Jepret. Jepret. Beberapa foto diambil, lalu mereka kembali menikmati sisa senja tanpa beban. Kalani tidak menyangka, di antara foto-foto yang ia ambil saat itu, ada satu yang kelak akan menjadi sumber perdebatan sengit, sebuah monumen kecil dari keretakan yang tak ia sadari.
Sore itu, Kalani sedang mencoba membuat sambal matah untuk makan malam, mengikuti resep dari sebuah kanal YouTube kuliner yang ia ikuti. Suara Ardi terdengar dari ruang tengah, ia sedang menelepon dengan teman bisnisnya. Obrolan yang terdengar normal, sesekali diselingi tawa Ardi yang khas. Kalani tersenyum mendengarnya. Ia menyukai suara suaminya itu, hangat dan menenangkan. Ia sudah membayangkan, nanti malam mereka akan makan malam berdua, lalu menonton film serial favoritnya. Rutinitas rumah tangga yang sederhana, yang selalu ia syukuri.
Sesekali, Kalani melirik ponselnya yang tergeletak di meja dapur. Ada notifikasi dari aplikasi pesan singkat, grup teman-temannya. Tapi ada satu notifikasi yang menarik perhatiannya. Dari aplikasi galeri foto. ‘Foto baru ditambahkan.’ Kalani mengerutkan kening. Ia tidak ingat mengambil foto baru sore ini. Mungkin foto dari percakapan grup? Ia meraih ponselnya, membuka aplikasi galeri. Matanya memindai gambar-gambar terbaru.
Babak 2 — Jejak Kaki yang Tak Terduga
Dan di situlah ia menemukannya. Bukan foto dari grup pesan. Bukan pula foto baru yang ia ambil. Itu adalah foto yang diambil olehnya, saat liburan di Bali. Tapi kali ini, bukan foto dirinya atau Ardi yang sedang berpelukan. Ini adalah foto lanskap kolam renang dan sebagian taman villa mereka. Sesuatu yang ia ambil sesaat sebelum Ardi memintanya mengambil foto.
Kalani mengerutkan kening, mencoba mengingat. Ia yakin tidak pernah mengambil foto seperti ini. Mungkin tidak sengaja terambil saat ia sedang mencari gambar lain di galerinya? Tapi tidak mungkin. Tata letak foto-foto di galeri ponselnya sangat rapi. Ia selalu menghapus foto-foto yang tidak penting, bahkan yang hanya sedikit buram atau salah sudut. Jadi, bagaimana foto ini bisa ada di sana?
Ia memperbesar gambar itu. Fokusnya pada area pinggiran kolam, dekat dengan beberapa tanaman tropis yang rindang. Saat ia memperbesar lebih jauh, sesuatu yang janggal terlihat. Di antara dedaunan lebat dan batu-batu alam yang menutupi tepi kolam, ada… jejak kaki? Jejak kaki yang sangat samar, seolah tertinggal di tanah yang sedikit lembab atau lumpur. Jelas bukan jejak kaki Ardi. Ukurannya terlalu kecil, dan bentuknya berbeda. Jari-jari kakinya terlihat lebih ramping.
Jantung Kalani mulai berdebar tak karuan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Mungkin itu hanya bayangan. Atau mungkin itu hanya bentuk tanah yang unik. Tapi semakin ia melihatnya, semakin ia yakin. Itu adalah jejak kaki. Dan jelas bukan miliknya. Sepatu yang ia kenakan saat itu adalah sandal jepit sederhana. Jejak ini terlihat seperti dari kaki telanjang, atau mungkin kaki yang memakai kaus kaki tipis yang basah.
Perasaan aneh mulai merayapinya. Bukan kecurigaan langsung, lebih ke rasa tidak nyaman yang samar. Mengapa ada jejak kaki di sana? Siapa pemiliknya? Bukankah saat itu hanya mereka berdua di villa? Ia ingat betul, malam sebelum mereka pergi ke Ubud, mereka meminta staf villa untuk tidak mengganggu kamar mereka kecuali ada keperluan mendesak. Ia yakin tidak ada orang lain yang masuk ke area pribadi mereka.
Kalani terus menatap foto itu, matanya menjelajahi setiap detail. Ia membandingkan jejak kaki asing itu dengan ukuran kaki Ardi yang ia tahu. Ini jelas bukan kaki suaminya. Ardi punya kaki yang lebih lebar, lebih kokoh. Jejak ini… lebih halus. Pikiran Kalani mulai berputar, mencoba mencari penjelasan logis, tapi semuanya terasa buntu. Ia memutar ponselnya, melihat metadata foto tersebut. Tanggal dan waktu pengambilan sesuai. Lokasi… tertulis nama villa mereka.
Babak 3 — Bisikan dari Masa Lalu
Kalani duduk terdiam di kursi dapur. Jus kelapa yang ia tuang tadi masih utuh di gelas. Sambal matah yang hampir jadi tercium aromanya yang segar, namun ia tak lagi punya selera. Ia terus membuka-buka galeri ponselnya, mencari foto lain dari liburan itu. Berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan jejak kaki misterius ini. Ia menemukan beberapa foto Ardi yang sedang berenang di kolam, beberapa foto dirinya yang sedang membaca buku di kursi santai. Tidak ada yang aneh.
Lalu ia teringat. Sebelum Ardi memintanya mengambil foto, ada jeda singkat. Ia ingat Ardi sempat masuk sebentar ke dalam villa, lalu keluar lagi dengan handuk melingkar di pinggang. Kalani tidak terlalu memperhatikan. Ia hanya menatap ponselnya, menunggu Ardi selesai berganti pakaian sebelum mengajaknya berfoto. Tapi bagaimana jika… bagaimana jika saat jeda itu ada orang lain?
Tiba-tiba, sebuah ingatan samar muncul. Saat ia menunggu Ardi keluar dari villa, ia merasa ada sesuatu yang… berbeda. Suasana terasa sedikit… ramai? Tidak, bukan ramai seperti ada banyak orang. Tapi ada suara-suara asing yang samar, seperti percakapan tertahan di kejauhan. Ia mengabaikannya saat itu, menganggap itu hanya suara dari villa sebelah atau staf yang sedang bekerja di area lain. Tapi sekarang, ingatan itu terasa mengganjal.
Ia membuka aplikasi Gojek di ponselnya. Kebiasaan lama sebelum pindah ke Jakarta, ia sering menggunakan GoCar untuk bepergian. Tapi di Bali, mereka lebih banyak menggunakan mobil sewaan. Ia mencoba mencari riwayat perjalanan GoCar di Bali. Nihil. Sepertinya memang tidak pernah pakai.
Lalu ia membuka aplikasi pesan WhatsApp. Ia menelusuri percakapannya dengan Ardi selama liburan. Berbagai pesan singkat, tawa, rencana kegiatan. Tidak ada satupun yang mengindikasikan adanya masalah. Ia bahkan menemukan percakapan mereka yang membahas tentang betapa indahnya villa itu, dan betapa mereka bersyukur bisa menghabiskan waktu bersama. Kalani mulai merasa seperti orang gila. Ia tahu ia tidak salah lihat. Jejak kaki itu nyata.
Ia lalu teringat kejadian lain. Sekitar seminggu sebelum liburan mereka. Ada seorang wanita yang menelepon Ardi saat mereka sedang makan malam di sebuah restoran di Kemang. Ardi terlihat sedikit gugup saat menerima telepon itu, lalu meminta izin untuk keluar sebentar. Ia kembali dengan wajah sedikit pucat. Saat Kalani bertanya, Ardi hanya bilang itu klien penting yang membutuhkan nasihat mendesak.
Sekarang, memori itu kembali dengan jelas. Wajah pucat Ardi. Nada suara yang berubah drastis saat menjawab telepon. Kalani menyusun kepingan puzzle yang terasa sangat tidak nyaman. Ia membuka kembali foto itu, memperbesar jejak kaki itu lagi. Bentuknya memang seperti jejak kaki telanjang. Siapa wanita yang memiliki kaki sekecil itu dan mungkin berada di villa mereka saat itu?
Babak 4 — Pengakuan di Balik Senyum
Kalani merasa napasnya tercekat. Ia tidak bisa membiarkan ini berlalu begitu saja. Ia harus bertanya pada Ardi. Tapi bagaimana cara menanyakannya? Langsung menuduh? Itu bukan gayanya. Ia selalu menghindari konfrontasi.
Ardi pulang sore itu, seperti biasa. Ia mencium pipi Kalani sekilas, lalu masuk ke ruang kerja. Suara ketukan keyboard mulai terdengar. Kalani mencoba bersikap normal. Ia membuatkan secangkir kopi untuk Ardi, lalu membawanya ke ruang kerja. Ia meletakkan cangkir itu di meja, di samping tumpukan dokumen.
“Sayang,” panggil Kalani, suaranya terdengar sedikit bergetar. Ardi mendongak dari layar komputernya. “Aku mau tanya sesuatu.”
Ardi tersenyum. “Tanya apa, Sayang? Wajahmu kok tegang begitu?”
Kalani menarik napas dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu membuka foto jejak kaki itu. Ia menyerahkan ponsel itu pada Ardi. “Foto ini… kamu ambil saat kapan?” tanyanya, berusaha agar suaranya tetap stabil.
Ardi menatap foto di layar ponsel Kalani. Senyumnya sedikit memudar. Ia terlihat sedikit bingung, lalu kembali menatap Kalani. “Ini… foto waktu di Bali kan? Kenapa?”
“Aku bukan bertanya kapan, Mas. Aku bertanya, siapa yang mengambil foto ini. Dan kenapa ada jejak kaki ini di sana?” suara Kalani mulai memberat. Ia memandang lurus ke mata Ardi, mencoba mencari kejujuran di sana.
Ardi terdiam. Ia memutar ponsel itu, memperbesar jejak kaki itu. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia menelan ludah, lalu menatap Kalani dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ada rasa bersalah, malu, dan… ketakutan?
“Itu… itu bukan apa-apa, Kal,” kata Ardi, suaranya rendah. Ia menghindari tatapan Kalani. “Mungkin hanya… bayangan tanah.”
“Bayangan tanah tidak memiliki bentuk seperti ini, Mas Ardi,” balas Kalani, suaranya kini terdengar dingin. “Dan aku tahu pasti, aku tidak pernah mengambil foto ini. Siapa dia?”
Ardi menghela napas berat. Ia menutup laptopnya, lalu membalikkan badannya menghadap Kalani sepenuhnya. Ia tampak seperti orang yang tertangkap basah. “Kal… aku bisa jelaskan.”
Kalani menunggu. Ia tidak berkata apa-apa, hanya menatap Ardi, memberikan ruang untuk suaminya itu bicara, meski hatinya sudah dipenuhi firasat buruk.
“Saat itu… memang ada orang lain,” ujar Ardi, suaranya pelan. “Bukan… bukan seperti yang kamu pikirkan. Dia hanya… teman lama yang kebetulan datang berkunjung ke Bali. Dia hanya mampir sebentar ke villa. Kami hanya mengobrol.”
“Teman lama? Dan kenapa dia masuk ke area kolam dan meninggalkan jejak kakinya di sana?” tanya Kalani, nada suaranya semakin tajam. “Dan kenapa kamu tidak pernah cerita padaku tentang ‘teman lama’ ini?”
Ardi memejamkan mata sejenak. Ketika ia membukanya, tatapannya tertuju pada Kalani, penuh penyesalan. “Dia… dia adalah pacar lamaku, Kal. Yang dulu pernah sangat dekat denganku. Saat aku bilang ada klien penting yang butuh nasihat… itu dia. Dia sedang ada masalah. Dia menghubungiku, dan kebetulan dia menginap di villa yang tidak jauh dari sana. Dia datang sebentar saja, hanya untuk bicara. Aku tidak mau kamu cemas, jadi aku tidak bilang apa-apa.”
Babak 5 — Retak yang Semakin Lebar
Kalani terdiam. Kata-kata Ardi bagai pukulan telak yang menusuk ulu hatinya. Pacar lama? Kenapa ia tidak pernah tahu Ardi punya pacar lama yang masih berkomunikasi dengannya seperti itu? Dan kenapa harus datang ke villa mereka saat ia sedang lengah?
“Jadi… dia datang saat aku menunggu kamu keluar dari villa itu?” tanya Kalani, suaranya nyaris tak terdengar. Matanya mulai terasa panas.
Ardi mengangguk perlahan. “Dia hanya duduk di sana sebentar, di tepi kolam. Dia hanya ingin bicara. Dia bilang dia merindukan… masa lalu. Aku merasa kasihan padanya. Lalu dia pergi. Jejak kaki itu… mungkin karena dia melepas sandalnya sebentar.”
“Merindukan masa lalu?” Kalani mengulang kata-kata itu dengan getir. Air mata mulai membasahi pipinya. “Dan kamu, Mas Ardi? Kamu tidak merindukannya?”
Ardi terkejut dengan pertanyaan itu. “Kal! Jangan bicara begitu. Aku mencintaimu. Dia hanya… mantan. Dia datang karena masalahnya.”
“Masalah apa? Sampai harus datang ke villa kita, saat aku di sana, dan meninggalkan bukti fisik bahwa ada orang lain di tempat yang seharusnya hanya milik kita berdua?” Suara Kalani meninggi. Ia tidak bisa menahan amarah yang kini mulai menguasai rasa sedihnya.
“Aku sudah bilang, dia datang sebentar saja! Dan foto itu… aku tidak tahu kenapa bisa ada di galerimu. Mungkin kamu tidak sengaja mengambilnya saat itu,” Ardi mencoba membela diri, namun suaranya terdengar ragu.
“Tidak sengaja? Mas, aku tahu persis ponselku! Aku tidak pernah mengambil foto jejak kaki seperti itu!” Kalani membentak. “Dan kamu berbohong padaku soal klien itu! Kamu berbohong tentang dia! Berapa lama ini sudah terjadi, Ardi?”
Ardi terlihat semakin terpojok. Ia mengusap wajahnya kasar. “Ini tidak terjadi apa-apa, Kal. Percayalah padaku. Aku hanya… kasihan. Dia sendirian.”
Kalani menggelengkan kepala. “Kasihan? Jadi kamu bersimpati pada mantanmu sampai kamu berbohong pada istrimu sendiri dan membiarkannya berada di tempat paling intim kalian tanpa sepengetahuanku?” Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar miris. “Aku tidak tahu lagi harus percaya yang mana, Mas. Foto ini… ini bukan sekadar bayangan. Ini adalah bukti bahwa di saat aku merasa kita paling bahagia, ada rahasia lain yang kamu simpan.”
Ia berbalik, melangkah keluar dari ruang kerja. Ia tidak peduli ke mana ia akan pergi. Yang ia tahu, bingkai kehangatan yang ia kira sempurna itu kini telah retak. Dan retakan itu, ia takut, akan semakin melebar, mengancam untuk menghancurkan segalanya.
