Kisah Ibu Rumah Tangga Ini Runtuh Setelah Menemukan Dompet Suami: Isinya Bikin Tak Percaya
Babak 1 — Kesempurnaan yang Mulai Retak
Pradipta tak pernah menyangka, rutinitas hariannya yang begitu tertata rapi akan berantakan hanya karena sebuah dompet kulit coklat yang tergeletak begitu saja di meja makan. Suaminya, Wibisono, biasanya sangat teliti. Barang pribadi seperti dompet, ponsel, dan kuncinya selalu berada di tempat yang sama, di dalam laci nakas di kamar mereka. Namun pagi ini, dompet itu ada di sini, di meja tempat mereka biasa sarapan nasi uduk dan kopi tubruk.
Ia mengambil dompet itu. Terasa sedikit lebih tebal dari biasanya. Jari-jarinya yang lentik mulai membukanya dengan hati-hati. Wajahnya masih setengah terlelap, masih menikmati sisa-sisa mimpi semalam. Ia hanya ingin merapikannya, mengembalikannya ke tempat seharusnya. Tapi sesuatu yang janggal menarik perhatiannya. Terdapat beberapa kartu yang asing di dalam slot dompet itu. Bukan kartu ATM-nya, bukan kartu debit Wibisono yang ia hafal luar kepala, bukan pula kartu tol langganan mereka. Ini kartu-kartu dari tempat yang tidak ia kenal.
“Aneh,” gumamnya pelan, matanya mulai terbuka lebar. Ia melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup, berharap Wibisono belum bangun. Pria itu biasanya berangkat lebih pagi untuk mengejar rapat pertama. Tapi hari ini, sepertinya ia masih terlelap.
Pradipta bukanlah tipe istri yang suka menggeledah. Ia percaya pada suaminya, pada pernikahan mereka yang sudah berjalan delapan tahun. Mereka punya kehidupan yang nyaman, dua anak yang lucu, dan rumah di pinggiran Jakarta yang sedang direnovasi. Semuanya tampak sempurna. Namun, dompet ini, kartu-kartu asing ini, menciptakan keraguan kecil yang mulai merayap di hatinya. Ia menarik keluar salah satu kartu itu. Sebuah kartu anggota dari sebuah pusat kebugaran mewah di kawasan Senayan. Tidak pernah sekalipun Wibisono menyebutkan soal keanggotaan di sana. Ia juga tidak ingat Wibisono pernah tertarik dengan olahraga angkat beban atau yoga.
“Mungkin ini kartu perusahaan?” ia mencoba mencari alasan. Wibisono memang bekerja di sebuah perusahaan multinasional besar. Tapi ia juga tahu, kartu-kartu akses perusahaan atau fasilitas kantor biasanya memiliki desain yang berbeda, seringkali tertera nama perusahaan atau logo yang jelas. Kartu ini polos, hanya bertuliskan nama sebuah klub, dan terkesan sangat personal. Ia memasukkan kembali kartu itu, lalu mengacak-acak isi dompetnya lagi. Ada beberapa lembar uang tunai, dan beberapa struk belanja. Struk pertama adalah dari sebuah kafe kopi terkenal di Kemang, tertanggal dua hari yang lalu. Struk kedua… struk kedua ini yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang. Struk pembelian sebuah toko perhiasan.
Babak 2 — Sesuatu yang Tersembunyi
Tangan Pradipta mulai gemetar. Tangannya yang biasanya cekatan menata bumbu dapur, kini terasa kaku. Ia meraih struk toko perhiasan itu. Di sana tertera jelas: “Cincin Berlian Solitaire, ukuran 12, dengan ukiran inisial ‘A’. Total Rp 45.800.000,-“. Tanggalnya adalah seminggu yang lalu. Ia menelan ludah. Wibisono tidak pernah memberinya perhiasan semenjak kalung emas yang ia pakai sekarang, hadiah pernikahan mereka.
“A?” bisiknya. Siapa ‘A’ ini? Ia memejamkan mata sejenak, mencoba memanggil kembali semua kenalan mereka. Tidak ada satupun yang inisialnya ‘A’ yang pernah dekat dengan suaminya. Mungkin rekan kerja baru? Tapi Wibisono jarang sekali bercerita tentang kehidupan kantornya, selalu berkata itu membosankan. Ia sering menganggap suaminya sedikit tertutup dalam urusan pekerjaan, tapi tak pernah ada alasan untuk curiga. Sampai sekarang.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi Tokopedia. Ia sering membeli banyak hal di sana. Ia ingin mencari perbandingan harga cincin berlian solitaire, sekadar untuk mengetahui. Tapi pikirannya tidak bisa fokus. Ia beralih ke aplikasi pesan yang sering ia gunakan untuk chatting dengan teman-teman arisannya. Ia menggeser-geser daftar kontak. Mungkin ada yang bisa ia tanyai secara diam-diam?
Ia membuka galeri foto. Foto-foto liburan mereka, foto anak-anak, foto pernikahan. Ia mencari-cari foto Wibisono yang mungkin bisa memberinya petunjuk. Wajah suaminya yang tampan, dengan senyum khasnya yang selalu menenangkan. Tapi hari ini, senyum itu terasa asing. Ia menemukan sebuah foto Wibisono bersama beberapa rekan kantornya saat acara gathering perusahaan tahun lalu. Ia membesarkan foto itu, mengamati setiap wajah. Tidak ada satupun yang berinisial ‘A’ yang terlihat mencurigakan. Ia kembali ke dompet itu. Ada sebuah kartu nama terlipat di bagian paling dalam.
Ia membukanya perlahan. Sebuah nama: ‘Annisa Rahmania’. Di bawahnya tertera jabatan: ‘Personal Shopper & Style Consultant’. Dan nomor telepon. Ini jelas bukan kartu nama yang biasa diberikan Wibisono kepada rekan bisnis atau kerabat.
Babak 3 — Jejak yang Terungkap
Annisa Rahmania. Nama itu terasa asing di telinga Pradipta. Ia memegang kartu nama itu, jemarinya terasa dingin. Ia mencoba menelepon nomor itu. Sambungan terputus. Tidak aktif. Sekali lagi. Tetap sama. Pradipta merasa sedikit putus asa. Apakah ini hanya kesalahpahaman? Mungkin Wibisono membeli hadiah itu untuknya, tapi ia lupa memberitahunya? Tapi kenapa ia menyimpannya di dompet, tersembunyi di balik struk pembelian lainnya? Dan kenapa ada kartu nama dari seorang personal shopper?
Ia teringat Wibisono pernah bercerita tentang temannya yang punya asisten pribadi untuk urusan belanja barang-barang branded. Tapi apakah itu Wibisono? Ia ingat suaminya lebih suka berbelanja online, atau membiarkannya saja yang memilihkan barang untuknya. Sejak kapan suaminya membutuhkan seorang personal shopper?
Pradipta duduk di kursi meja makan. Nasi uduk yang sudah ia siapkan kini terasa hambar. Ia membuka laptopnya. Ia mulai mencari nama ‘Annisa Rahmania’ di Google. Hasil pencarian muncul sangat banyak. Tentu saja, nama itu cukup umum. Ia mencoba menambahkan kata kunci ‘personal shopper’ dan nama daerah yang tertera di kartu nama itu, area Menteng. Akhirnya, ia menemukan profil Instagram dari seorang wanita dengan nama dan profesi yang sama. Foto-fotonya menampilkan gaya hidup mewah, tas-tas desainer, sepatu hak tinggi, dan berbagai macam perhiasan. Ia juga melihat foto-foto wanita itu saat bertemu dengan klien. Dan di beberapa foto, tampak wajah suaminya, Wibisono, sedang tersenyum bersama wanita itu.
Jantung Pradipta berdebar semakin kencang. Di salah satu foto, mereka berdua terlihat sedang berada di sebuah galeri seni. Di foto lain, mereka sedang makan malam di restoran mewah. Dan yang paling membuatnya terkejut, ada foto di mana Wibisono sedang memegang tangan wanita itu, dengan cincin berlian yang sama persis dengan yang tertera di struk pembelian, tersemat di jari wanita itu. Inisial ‘A’ itu jelas terlihat. Foto itu diberi caption: “Terima kasih suamiku sayang @wibisono_pratama untuk hadiahnya yang tak ternilai.”
“Suamiku sayang?” Pradipta mengulang kata itu dengan suara tercekat. Ia tidak sadar jika ada akun Instagram suaminya yang ia ikuti, ia lupa cara melihatnya. Ia cepat-cepat mencari akun Wibisono. Dan benar saja, akun suaminya ada di sana. Ia membuka daftar following, dan ada nama akun ‘Annisa_Rahmania’. Ia membuka profil Annisa. Di sana, semua bukti terbentang jelas. Setiap momen kemewahan yang terlihat seperti hadiah dari suaminya. Ada juga foto Annisa saat mencoba gaun pengantin.
Babak 4 — Konfrontasi Tak Terduga
Tepat saat Pradipta sedang terisak pelan, layar ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Wibisono. “Sayang, aku lupa bawa dompet. Bisa tolong antar ke kantor? Nanti aku tunggu di lobi.”
Pradipta terdiam. Tangannya masih memegang kartu nama Annisa Rahmania. Ia melihat jam di layar laptopnya. Waktu rapat Wibisono di kantor. Jantungnya kembali berdebar hebat. Ini kesempatannya. Kesempatan untuk membereskan semuanya. Ia bangkit dari kursinya, mengambil dompet kulit coklat itu, lalu memasukkan kartu nama dan struk-struk yang mengejutkan ke dalam tasnya. Ia tidak bisa membiarkan Wibisono melihat wajahnya yang sedang hancur.
Ia melangkah keluar rumah, memanggil GoCar melalui aplikasinya di ponsel. Sopir datang dalam sepuluh menit. Perjalanan menuju kantor Wibisono terasa begitu lama. Setiap detik terasa seperti siksaan. Ia terus memikirkan foto-foto di Instagram Annisa. Apakah suaminya akan menikah lagi? Apakah selama ini ia hidup dalam kebohongan?
Sesampainya di lobi perusahaan Wibisono, ia melihat suaminya sedang berdiri, tampak gelisah. Wibisono mengenakan kemeja rapi, dasi yang sedikit longgar. Ia berjalan menghampiri suaminya, senyumnya dipaksakan.
“Mas, ini dompetnya,” ucap Pradipta, suaranya sedikit serak. Ia menyerahkan dompet itu.
Wibisono mengambilnya, menghela napas lega. “Syukurlah, Sayang. Aku cari-cari nggak ketemu. Kamu menyelamatkanku.” Ia tersenyum, lalu menarik Pradipta ke dalam pelukannya.
Pradipta menahan diri. Ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang teratur. Bau parfum maskulin yang selalu ia kenal. Tapi di balik semua itu, ia tahu ada sesuatu yang salah. “Mas… ada yang ingin aku tanyakan,” ucapnya, mendorong diri suaminya menjauh perlahan.
Wibisono mengerutkan kening. “Ada apa, Sayang? Kamu kelihatan pucat.”
Pradipta mengeluarkan kartu nama dan struk dari tasnya. Ia meletakkannya di tangan Wibisono. “Ini apa, Mas?”
Wibisono menatap kartu nama itu, lalu struknya. Wajahnya berubah pucat pasi. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri mematung, matanya tertuju pada kertas-kertas di tangannya.
Tiba-tiba, dari arah lift yang baru saja terbuka, seorang wanita melangkah keluar. Dia adalah Annisa Rahmania. Wajahnya terlihat sedikit cemas, tapi ia tersenyum saat melihat Wibisono. Namun, senyumnya memudar saat melihat Pradipta berdiri di samping suaminya.
Babak 5 — Gema di Lobi yang Dingin
Suasana lobi perusahaan seketika menjadi tegang. Tiga pasang mata saling bertatapan. Wibisono terlihat seperti tikus yang terperangkap dalam sorotan lampu. Ia memegang kartu nama dan struk yang diberikan Pradipta, tangannya gemetar.
Annisa melangkah ragu mendekati Wibisono. “Mas Wibi? Kenapa kamu di sini? Bukannya kamu bilang…” Suaranya tercekat saat melihat Pradipta. Ia menatap Pradipta dengan ekspresi campur aduk antara terkejut, bersalah, dan sedikit ketakutan. Ia tidak jadi melanjutkan kalimatnya.
Pradipta menatap Annisa lekat-lekat. Wanita di depannya jelas bukan sekadar ‘personal shopper’. Ada keintiman yang tak bisa disembunyikan dalam tatapannya pada Wibisono, bahkan dalam situasi canggung ini. Ia kembali menoleh pada suaminya. Wibisono menunduk, tidak berani menatap mata Pradipta.
“Jadi… benar?” suara Pradipta lebih seperti bisikan, tapi membelah keheningan lobi yang dingin. “Kamu mau menikahi dia, Mas?”
Wibisono mengangkat kepalanya perlahan. Matanya berkaca-kaca. “Pradipta… aku…” Ia terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ia melirik Annisa, lalu kembali menatap Pradipta.
Annisa terlihat semakin gelisah. Ia menggigit bibir bawahnya. “Maafkan aku, Mbak,” ucapnya pelan, nadanya tulus. “Aku tidak bermaksud…”
Pradipta memotongnya, tatapannya lurus ke arah Wibisono. “Aku tidak bertanya padamu.” Ia kembali menatap suaminya. “Jadi, siapa Annisa ini sebenarnya, Mas? Kenapa dia memanggilmu ‘suamiku sayang’ di Instagram? Kenapa ada foto kalian berdua dengan cincin itu?” Pertanyaan-pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa bisa ia kendalikan.
Wibisono akhirnya membuka mulutnya. “Dia… dia dulu adalah kekasihku sebelum aku menikah denganmu, Pradipta. Kami berpisah karena… karena orang tuaku tidak merestuinya. Tapi belakangan ini, dia kembali. Dia… dia hamil.”
Dunia Pradipta serasa runtuh. Hamil. Kata itu menggema di telinganya. Ia menatap suaminya, lalu wanita di sampingnya. Kehidupan yang ia kira sempurna, kini terasa seperti ilusi belaka. Ia merasakan matanya mulai panas. Namun, ia tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, menatap dua orang di depannya, mencoba memproses informasi yang baru saja menghantamnya. Di lobi yang dingin itu, hanya ada keheningan yang memberat.
