Flashdisk Misterius di Saku Daster Rengganis: Pemicu Skandal Rumah Tangga di Tengah Malam
Malam beranjak pekat. Jam dinding di ruang tengah baru saja mengukir angka dua belas. Jakarta, kota yang tak pernah tidur, kini hanya menyisakan desir angin dan deru AC yang sesekali berderit. Rengganis, seperti biasa, baru saja menyelesaikan ritual malamnya. Mencuci muka, mengoleskan krim, lalu memakai daster kesayangannya yang terasa longgar namun nyaman. Ia melangkah gontai menuju kamar tidur, tujuannya adalah kasur empuk yang telah menunggunya seharian. Suaminya, Tegar, sudah terlelap lebih dulu. Dengkurnya yang halus menjadi musik pengantar tidur bagi Rengganis.
Namun, malam itu ada yang sedikit berbeda. Saat Rengganis merogoh saku daster lamanya untuk mengeluarkan bungkus permen mint yang terselip, jemarinya justru menabrak sesuatu yang keras dan asing. Bukan permen. Ia mengerutkan kening. Tangannya merogoh lebih dalam, menarik keluar sebuah benda kecil berwarna hitam legam. Sebuah flashdisk. Jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Sejak kapan ia punya benda ini? Ia yakin sekali tidak pernah membeli atau menerima flashdisk seperti ini. Ia membolak-balik benda kecil itu, mencari tahu merek atau petunjuk apa pun, namun tak ada. Hanya ada permukaan polos nan dingin.
Keheningan malam terasa semakin mencekam. Rengganis menatap benda itu dengan pandangan nanar. Kemana mungkin benda ini berasal? Ia ingat betul, daster ini sudah lama tidak ia pakai. Terakhir kali mungkin saat ia sedang membereskan lemari baju beberapa bulan lalu. Jika benda ini ada di sakunya sejak lama, mengapa baru sekarang ia menemukannya? Pikiran-pikiran aneh mulai berkelebat. Ia melirik Tegar yang masih terlelap, wajahnya tenang, seolah tak ada beban dunia. Rengganis menarik napas dalam. Ia bukan tipe istri yang mudah curiga, tidak sama sekali. Tapi rasa penasaran yang menggelitiknya kini mulai bercampur dengan firasat yang tidak enak. Cerpen rumah tangga ini sepertinya akan memiliki babak baru yang tak terduga.
Ia meletakkan flashdisk itu di meja nakas, di samping lampu baca. Niatnya adalah untuk menanyakannya pada Tegar besok pagi. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah terucap. Ia merasa ada sesuatu yang ganjil, sesuatu yang disembunyikan. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu dan mencoba memejamkan mata, namun bayangan flashdisk hitam itu terus menari-nari di pelupuk matanya. Ketenangan malam yang biasanya ia nikmati kini terasa seperti teror yang perlahan merayap.
Babak 1 — Saku Daster dan Jejak Tak Kasat Mata
Rengganis bukanlah wanita yang gemar menimbun barang. Lemari pakaiannya tertata rapi, setiap sudut rumah selalu bersih dan teratur. Ia bahkan punya kebiasaan unik untuk menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak terpakai secepat mungkin agar tidak menumpuk dan menimbulkan kesan berantakan. Oleh karena itu, menemukan sebuah flashdisk di saku daster lamanya yang sudah lama tidak terpakai adalah sebuah anomali yang cukup besar baginya. Daster itu sendiri bergambar motif bunga-bunga kecil yang sudah sedikit pudar, sisa kejayaan desain sepuluh tahun lalu. Ia ingat betul, daster itu terlipat rapi di bagian paling belakang lemari, di bawah tumpukan selimut tebal.
Tegar, suaminya, adalah kebalikan dari Rengganis dalam hal kerapian. Tegar adalah pria yang baik hati, sabar, dan sangat mencintai keluarganya. Namun, ia punya satu ‘cacat’ kecil: ia agak ceroboh. Benda-benda sering kali terselip di kantong celana atau jaketnya tanpa ia sadari. Rengganis sering kali menemukan kuitansi parkir, struk belanja, bahkan kadang-kadang uang receh di saku celana Tegar saat mencucinya. Namun, biasanya itu adalah benda-benda yang wajar. Flashdisk? Tidak pernah.
Malam itu, Rengganis tidak bisa tidur. Ia meraih flashdisk itu lagi. Rasanya dingin di telapak tangannya. Ia punya laptop sendiri, Tegar juga punya. Mereka punya banyak kenangan digital yang tersimpan di sana. Foto-foto pernikahan, liburan keluarga, bahkan video-video lucu keponakan. Tapi flashdisk ini terasa berbeda. Ada aura misteri yang menyelimutinya. Ia mencoba mengingat-ingat kembali kapan terakhir kali ia memakai daster ini. Mungkin saat liburan ke Puncak dua tahun lalu? Atau saat mudik ke Surabaya saat Lebaran tiga tahun lalu? Ingatannya terasa kabur.
Ia kemudian teringat sesuatu. Beberapa bulan lalu, Tegar pernah mengeluh laptopnya tiba-tiba menjadi sangat lambat. Ia bilang mungkin ada virus atau perlu di-refresh sistemnya. Rengganis yang tidak terlalu paham teknologi hanya bisa menyarankan untuk membawa ke tempat servis. Tapi Tegar menolak. Ia bilang akan mengurusnya sendiri. ‘Nanti saja, Ran. Sibuk banget,’ katanya waktu itu. Ran. Nama panggilan sayang Tegar untuknya. Rengganis. Apakah mungkin flashdisk ini ada hubungannya dengan keluhan Tegar tempo hari? Pikirannya mulai tertuju pada kemungkinan-kemungkinan yang mengerikan. Apakah Tegar menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya ia ketahui? Ia menghela napas panjang. Ini adalah awal dari sebuah cerita rumah tangga yang mungkin akan mengujinya lebih dari yang ia bayangkan. Ia memutuskan untuk menunda penemuannya ini hingga pagi hari. Mungkin saja ia hanya terlalu lelah dan berimajinasi.
Babak 2 — Penyelidikan Diam-diam di Bawah Selimut
Pagi menjelang. Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah tirai kamar. Rengganis terbangun dengan perasaan gelisah. Flashdisk hitam itu masih tergeletak di nakas. Tadi malam ia mencoba tidur, namun pikirannya terus saja berputar pada benda kecil itu. Ia yakin Tegar tidak akan menyadari jika ia ‘meminjam’ flashdisk itu sebentar. Ia menunggu sampai Tegar benar-benar berangkat ke kantor. Suaminya bekerja sebagai manajer di sebuah perusahaan di bilangan Sudirman. Setiap pagi, mereka selalu sarapan bersama, namun pagi ini Rengganis beralasan pusing dan memilih sarapan di kamar. Ia ingin punya waktu untuk menyelidiki.
Setelah Tegar keluar rumah, Rengganis segera mengunci pintu kamar. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengambil flashdisk itu dan memasukkannya ke slot USB laptopnya. Layar laptop menyala, menampilkan desktop yang familier. Jantungnya berdegup kencang. Ia mengarahkan kursor ke ikon flashdisk yang baru saja terdeteksi. ‘Removable Disk (E:)’. Ia mengkliknya. Sebuah jendela baru terbuka, menampilkan beberapa folder. Kebanyakan folder bernama acak: ‘Data_1’, ‘Backup_2’, ‘Photos_new’. Tidak ada nama yang spesifik, tidak ada petunjuk awal. Rengganis merasa sedikit kecewa, namun juga lega. Mungkin ini hanya flashdisk lama Tegar yang terselip?
Ia mulai membuka satu per satu folder. Folder ‘Photos_new’ berisi beberapa foto pemandangan alam yang indah, namun tampak generik. Tidak ada wajah manusia. Folder ‘Data_1’ berisi file-file dokumen dengan nama-nama yang tidak dikenali. Ia membuka salah satunya. Ternyata itu adalah sebuah laporan keuangan, namun bukan dari perusahaan Tegar. Ini seperti laporan dari perusahaan lain. Rengganis mulai merasa bingung. Mengapa Tegar menyimpan laporan keuangan dari perusahaan asing di flashdisk ini? Dan mengapa ada di saku daster lamanya?
Saat ia sedang sibuk membuka folder lain, matanya tertuju pada sebuah folder yang diberi nama sangat simpel: ‘R’. Hanya satu huruf. Jantungnya kembali berdebar. ‘R’ untuk Rengganis? Ia ragu. Huruf ‘R’ juga bisa berarti banyak hal lain. Namun, rasa penasaran yang kuat mendorongnya untuk membuka folder itu. Di dalamnya, hanya ada satu file video. File video itu diberi nama ‘Anniv_Dinner_X’. Rengganis mengerutkan kening. Siapa ‘X’? Perayaan ulang tahun pernikahan mereka yang ke-7 sudah lewat beberapa bulan lalu, dan mereka merayakannya di sebuah restoran Italia di Kemang. Ia tidak ingat ada video yang dibuat.
Dengan jari yang masih sedikit gemetar, Rengganis mengklik file video tersebut. Layar laptopnya terbagi dua. Satu sisi menampilkan gambar dirinya yang sedang tertawa riang di sebuah restoran yang tidak ia kenali. Ia mengenakan gaun biru yang tidak pernah ia miliki. Di sampingnya duduk seorang pria, namun wajahnya tertutup bayangan dan sudut kamera yang tidak tepat. Pria itu tampak sedang berbicara pada Rengganis di video, namun suara di video itu sangat kecil dan terdistorsi, seperti direkam dari kejauhan. Di sisi lain layar, terputar video lain. Kali ini adalah rekaman dirinya sendiri, sedang terlelap di ranjang. Tapi ini bukan kamarnya. Kamar itu asing, dengan dinding berwarna krem dan sebuah foto bingkai di nakas yang tak ia kenali. Video itu merekamnya dari sudut yang lebih dekat, seolah-olah perekamnya sedang berdiri di dekat ranjang tempat ia tidur.
Babak 3 — Kebenaran yang Tersembunyi dalam Rekaman
Rengganis terpaku. Matanya membelalak tak percaya. Rekaman itu terasa seperti mimpi buruk yang hidup. Siapa yang merekamnya saat ia tertidur? Dan siapa pria yang bersama dirinya di video yang lain? Ia mencoba mengingat, apakah ia pernah pergi ke restoran itu? Pernah memakai gaun biru itu? Semuanya terasa asing. Ia memundurkan video itu, mencari petunjuk. Di meja restoran, ia melihat sebuah vas bunga dengan kartu ucapan. Ia mencoba memperbesar gambar. Tulisannya sangat kecil, namun ia seperti mengenali gaya tulisan tangan itu. ‘Untuk R, selamat ulang tahun yang ke-30. Semoga kita selalu bersama. – D’. D? Siapa D?
Kemudian ia teringat. Dulu, sebelum menikah dengan Tegar, ia pernah dekat dengan seorang pria bernama Daffa. Mereka berpisah baik-baik karena Daffa harus pindah tugas ke luar kota untuk jangka waktu yang lama. Daffa adalah pria yang romantis, dan ia suka memberikan kejutan. Tapi itu sudah bertahun-tahun lalu. Dan ulang tahunnya yang ke-30 sudah terlewat. Mungkinkah ini rekaman dari acara yang berbeda? Atau mungkin… ini bukan video lamanya sama sekali?
Perasaan dingin mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia membuka file video yang merekam dirinya tertidur. Kamera bergoyang sedikit, menunjukkan bahwa perekamnya bergerak. Lalu, terdengar suara bisikan. Sangat lirih, hampir tak terdengar. Rengganis memperbesar volume laptopnya. Bisikan itu terdengar lagi. ‘Sayang… jangan bangun dulu…’ Suara itu… suara itu begitu familier. Suara itu… suara Tegar. Suara suaminya sendiri. Rengganis terbatuk kecil, mencoba menyangkal pendengarannya sendiri. Ia memutar ulang bagian itu. ‘Sayang… jangan bangun dulu…’ Ya, itu pasti suara Tegar.
Sebuah kesadaran mengerikan mulai merayap di benaknya. Jika suara itu suara Tegar, lalu pria di video ‘Anniv_Dinner_X’ itu… siapa? Ia memutar ulang video tersebut. Fokusnya kini bukan pada dirinya, tapi pada pria di sampingnya. Ia memperhatikan gestur tangan pria itu saat berbicara, cara ia memegang gelas. Dan tiba-tiba, ia melihatnya. Sebuah kalung emas yang ia berikan pada Tegar saat ulang tahun pernikahan mereka yang kelima. Kalung dengan liontin inisial nama mereka, ‘RT’. Pria itu mengenakan kalung yang sama persis. Dan gerakan tangan itu… itu adalah gerakan khas Tegar saat sedang bersemangat menjelaskan sesuatu. Tidak mungkin.
Rengganis merasa mual. Ia menutup laptopnya dengan kasar. Pikirannya berputar liar. Tegar merekamnya tertidur? Dan ia berbohong tentang perayaan ulang tahun pernikahan? Ia ingat malam itu. Tegar bilang ia ada rapat penting sampai larut malam. Ia bahkan tidak sempat makan malam bersama. Ia pulang dengan wajah lelah, lalu langsung tertidur. Rengganis tidak curiga sama sekali. Ia percaya saja. Ia bahkan membelikannya nasi uduk kesukaannya untuk sarapan pagi itu, sebagai tanda perhatiannya. Sekarang, semua itu terasa seperti sebuah kebohongan besar yang tersusun rapi.
Babak 4 — Konfrontasi di Dapur yang Dingin
Rengganis memutuskan untuk menunggu Tegar pulang. Ia mencoba bersikap biasa saja, menata rumah, memasak makan malam. Tapi setiap kali mendengar suara mobil di luar, jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu bagaimana harus memulai percakapan ini. Apakah ia harus langsung menuduh? Atau bertanya dengan hati-hati? Ia memilih yang terakhir. Ia ingin memastikan semuanya sebelum membuat keputusan besar yang bisa menghancurkan rumah tangga mereka.
Tegar pulang tepat pukul tujuh malam, seperti biasa. Ia terlihat lelah, namun tersenyum pada Rengganis. “Capek banget, Sayang,” sapanya sambil mencium pipi Rengganis. Rengganis hanya membalas dengan senyuman tipis. Ia menyadari bahwa Tegar memakai baju yang sama dengan yang ia lihat di video itu. Kemeja biru kotak-kotak. Tubuhnya menegang. Makan malam kali ini terasa begitu berbeda. Tegar bercerita tentang pekerjaannya, tentang proyek baru yang harus diselesaikannya. Rengganis hanya mendengarkan, sesekali mengangguk, matanya tak lepas dari wajah suaminya. Ia mencari-cari tanda kebohongan, tanda rasa bersalah. Tapi yang ia lihat hanyalah kelelahan yang tulus.
Setelah makan malam, saat mereka sedang mencuci piring bersama, Rengganis mengambil napas dalam-dalam. ‘Mas,’ panggilnya lembut. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Tegar menoleh, senyumnya sedikit memudar melihat raut wajah istrinya. ‘Kenapa, Ran?’ tanyanya, nadanya penuh perhatian. Rengganis meletakkan piring yang sedang ia pegang di wastafel. ‘Ini…’ katanya, lalu berhenti. Ia harus mengatakannya. ‘Aku menemukan sesuatu di saku daster lamaku.’ Ia mengeluarkan flashdisk itu dari saku celananya, tempat ia menyembunyikannya sejak tadi pagi. ‘Ini punya Mas, kan?’
Tegar menatap flashdisk itu. Wajahnya seketika pucat pasi. Ia tampak terkejut, bahkan mungkin sedikit ketakutan. Ia tidak menjawab. Keheningan di dapur terasa begitu menyesakkan. Rengganis merasa air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. ‘Mas… jawab aku,’ desaknya, suaranya kini terdengar lebih tegas, namun penuh dengan kepedihan. Tegar membuang muka, pandangannya tertuju pada lantai. ‘Itu… itu bukan apa-apa, Ran.’ Suaranya terdengar serak.
‘Bukan apa-apa?’ ulang Rengganis, suaranya meninggi. Ia tak bisa menahan emosinya lagi. ‘Aku melihat videonya, Mas. Video ulang tahunku yang ke-30. Video… di kamar itu. Siapa wanita itu, Mas? Dan kenapa kamu merekamku seperti itu?’ Air mata akhirnya mengalir deras di pipi Rengganis. Ia melihat Tegar memejamkan matanya, bahunya merosot. Ia tahu, ini adalah akhir dari segalanya. Tegar berbalik menghadapnya, matanya berkaca-kaca. ‘Ran… aku bisa jelaskan…’ katanya lirih.
‘Jelaskan apa?!’ seru Rengganis. ‘Jelaskan kenapa kamu membohongiku? Jelaskan kenapa kamu punya rekaman seperti itu? Kamu bilang kamu lembur malam itu! Kamu bilang kamu ada rapat penting!’ Ia melempar flashdisk itu ke lantai. Benda kecil itu bergulir menjauh dari mereka. ‘Siapa dia, Tegar?!’ tanyanya lagi, suaranya pecah.
Tegar menatap Rengganis. Wajahnya dipenuhi penyesalan. Ia membuka mulutnya, namun kata-kata yang keluar bukanlah pengakuan dosa yang Rengganis duga. ‘Bukan… bukan begitu, Ran. Video itu… video yang kamu lihat… itu bukan kamu…’ Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam-dalam. ‘Itu adalah video yang disiapkan untuk kejutan. Untukmu. Aku… aku ingin merayakan ulang tahunmu yang ke-30. Tapi aku tak bisa hadir di acara itu karena ada urusan mendadak. Jadi aku membuat rekaman itu… dengan seseorang… untuk memberimu kejutan…’ Ia menatap Rengganis lekat-lekat. ‘Dan video dirimu… itu adalah hasil editan dari teman… dia sengaja membuat itu agar kamu tidak curiga kalau aku sedang mempersiapkan pesta rahasia untukmu. Aku tidak merekammu tidur, Ran. Itu… itu hanya bagian dari rekayasa agar kamu tidak tahu sama sekali.’
Rengganis terdiam. Kata-kata Tegar terdengar aneh, namun entah mengapa, ia merasa ada kebenaran di dalamnya. Tapi… siapa wanita di video itu? Dan kenapa harus ada editan seperti itu?
Babak 5 — Lanjutan di Balik Tirai Kamar
Rengganis menatap Tegar, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Ada jeda yang panjang, hanya diisi oleh suara gemericik air dari keran yang lupa dimatikan dan detak jantung Rengganis yang berpacu tak karuan. Kata-kata Tegar tentang ‘kejutan’ dan ‘rekayasa’ terasa janggal. Benarkah suaminya yang ia kenal, pria yang selalu jujur dan terbuka, melakukan semua ini? Atau ini hanya alasan untuk menutupi perselingkuhannya?
‘Kamu… kamu serius?’ tanya Rengganis lirih, suaranya masih bergetar. Ia mencoba mencari celah dalam tatapan Tegar. Di sana, ia melihat kebingungan, sedikit rasa bersalah, namun bukan kebohongan yang ia takutkan. Tegar mengangguk pelan. ‘Sangat serius, Ran. Aku tahu ini rumit. Aku tahu ini terlihat buruk. Tapi aku hanya ingin memberimu kejutan yang tak terlupakan. Pesta itu… aku menyiapkannya sendiri dengan bantuan beberapa teman dekatku. Aku memesan restoran itu, mendandaninya… dan wanita di video itu… dia adalah sepupu jauhku, yang kebetulan mirip kamu dari jauh. Aku memintanya untuk pura-pura menjadi kamu di video itu, sebagai bagian dari lelucon agar kamu tak curiga saat aku tak bisa hadir di sana. Dan soal video dirimu… itu adalah editan dari temanku untuk menutupi jejak. Agar kamu tidak tahu kalau aku ada di sana, menyiapkan semuanya.’
Rengganis memejamkan mata sejenak. Otaknya mencoba merangkai semua potongan informasi yang campur aduk ini. Sebuah pesta kejutan? Rekaman editan? Sepupu yang mirip? Semuanya terdengar seperti skenario film. Ia membuka matanya lagi, menatap Tegar. ‘Kenapa… kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu mau membuat kejutan? Kenapa harus dengan cara seperti ini? Kenapa kamu menyimpan rekaman seperti itu di flashdisk yang entah bagaimana bisa masuk ke saku daster lamaku?’
Tegar menghela napas. ‘Aku ingin itu jadi kejutan total, Ran. Aku takut kamu akan menebaknya. Dan soal flashdisk itu… aku lupa melepasnya dari laptopku setelah mengedit video terakhir. Sepertinya saat aku menyimpan daster itu di lemari, flashdisk itu masih terselip di bajuku, lalu masuk ke saku daster. Aku benar-benar lupa. Aku ceroboh, Ran. Aku tahu. Tapi niatku baik.’ Ia meraih tangan Rengganis. ‘Maafkan aku kalau ini membuatmu takut dan curiga.’
Rengganis menatap tangannya yang digenggam Tegar. Ia merasakan kehangatan, kejujuran yang terpancar dari sorot mata suaminya. Tapi ia juga merasakan sisa-sisa keraguan yang menggelayut. Bukankah ini terlalu rumit? Terlalu dibuat-buat? Ia teringat lagi pada rekaman video dirinya yang sedang tertidur. Suara Tegar yang lirih. ‘Sayang… jangan bangun dulu…’ Ia merasa ada sesuatu yang masih belum terungkap. Ia melihat Tegar yang kini menatapnya penuh harap, menunggu reaksinya. Rengganis menarik tangannya perlahan. Ia tidak mengatakan ia memaafkan Tegar. Ia juga tidak mengatakan ia percaya sepenuhnya. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang menyimpan seribu pertanyaan. Ia mengambil flashdisk itu dari lantai, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku daster lamanya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia hanya tahu, malam itu, keheningan yang biasanya ia nikmati kini terasa begitu berbeda, dipenuhi dengan keraguan dan kemungkinan tak terbatas.
