Chat Dini Hari dari Nomor Tak Dikenal: Awal Kisah Cinta yang Tak Terduga

Chat Dini Hari dari Nomor Tak Dikenal: Awal Kisah Cinta yang Tak Terduga

CERITA PENDEK

Chat Dini Hari dari Nomor Tak Dikenal: Awal Kisah Cinta yang Tak Terduga

Notifikasi transfer GoPay dini hari biasanya datang dengan kehangatan yang samar, meski hanya sekilas. Namun, kali ini berbeda. Nama pengirimnya tertera sebagai ‘R – jgn telp’. Aku menggeliat di balik selimut tipis kost-ku, mengerjapkan mata beberapa kali. Jam di ponsel menunjukkan pukul 02:17. Siapa yang bertransaksi sebesar lima puluh ribu rupiah di jam selarut ini, dan yang lebih penting, mengapa namanya seperti itu? Jari telunjukku bergerak ragu, membuka aplikasi dompet digital itu. Riwayat transaksi memang tercatat jelas: penerimaan Rp 50.000 dari ‘R – jgn telp’. Tidak ada pesan, hanya catatan transaksi. Aku kembali melempar ponsel ke samping tempat tidur, mencoba menarik selimut lebih erat. Mungkin hanya salah kirim, atau semacam lelucon dari teman yang sedang iseng. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal. Aku jarang menerima transfer, apalagi di jam segini. Dan kode ‘jgn telp’ itu… sungguh aneh.

Babak 1 — Pagi yang Tidak Biasa

Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kostku yang sudah sedikit usang. Aroma nasi uduk dari warung kecil di depan gang mulai tercium, bercampur dengan bau knalpot kendaraan yang lalu lalang. Aku bangkit dari kasur tipisnya, meregangkan punggung yang terasa kaku. Rutinitas pagi ini terasa sama seperti biasanya. Mencuci muka dengan air dingin, menggosok gigi sambil memandang pantulan diri di cermin yang agak buram, lalu menyiapkan sarapan sederhana: mi instan dengan tambahan sebutir telur rebus. Aku anak rantau, mahasiswa semester lima jurusan Komunikasi di sebuah universitas swasta di bilangan Jakarta Selatan. Biaya hidup di kota ini, apalagi di area yang lumayan strategis seperti ini, tidaklah murah. Apartemen mewah seperti di sinetron tentu saja hanya mimpi. Kost kecil ini adalah rumahku, dengan kamar mandi di luar yang harus dibagi dengan dua teman sekamar lainnya. Kami bertiga berusaha keras menekan pengeluaran, termasuk memilih aplikasi pesan antar makanan yang sering memberikan promo, seperti GoFood, untuk makan siang dan malam. Aku membuka ponsel, berniat mengecek notifikasi kuliah hari ini. Di layar kunci, selain informasi cuaca yang sedikit mendung, ada beberapa notifikasi aplikasi. Salah satunya, lagi-lagi, transfer GoPay dari ‘R – jgn telp’. Kali ini jumlahnya seratus ribu rupiah. Aku mulai merasa sedikit terusik. Apa-apaan ini? Aku kembali membuka aplikasi GoPay. Transaksi yang sama, penambahan saldo, dan nama pengirim yang persis sama. Aku mengerutkan kening. Jelas bukan salah kirim berulang kali. Tapi siapa ‘R’ ini? Dan mengapa dia tidak ingin dihubungi? Aku mencoba mengingat-ingat apakah ada kenalan baru atau seseorang yang mungkin menyimpan nomor kontakku dengan inisial itu. Tidak ada. Sama sekali.

Aku memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya, setidaknya sampai pagi ini berakhir. Mungkin besok akan ada penjelasan. Mungkin ‘R’ akan mengirim pesan atau melakukan sesuatu yang lebih jelas. Aku bergegas keluar kamar, menenteng ember kecil berisi peralatan mandi. Suara gemericik air dari kamar mandi umum sudah terdengar. Aku menyapa Mbok Darmi, pemilik warung nasi uduk, saat melewati depan rumahnya. “Pagi, Mbok,” sapaku sambil tersenyum. Mbok Darmi membalas dengan senyum penuh keriput, tangannya cekatan membungkus pesanan pelanggan lain. Aroma nasi uduk pagi ini terasa lebih menggoda dari biasanya. Sambil menunggu giliran, aku kembali membuka ponsel. Ada beberapa pesan grup kuliah, berisi info tugas dan jadwal presentasi. Aku membacanya sekilas, mencoba mengalihkan perhatian dari keanehan transaksi GoPay semalam dan pagi ini. Namun, rasa penasaran itu terus menggelitik.

Saat giliran tiba, aku memesan nasi uduk dengan telur balado. “Mau pakai ayam atau bihun, Neng?” tanya Mbok Darmi. “Bihun saja, Mbok, sama telur balado,” jawabku. Sambil menunggu Mbok Darmi menyiapkan pesanan, ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi GoPay, melainkan pesan WhatsApp. Nomornya tidak dikenal, tapi nama kontaknya… ‘R’. Aku menelan ludah. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka pesan itu. ‘Selamat pagi. Maaf kalau mengganggu. Transfer tadi malam itu benar untuk kamu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu untuk bicara di telepon saat ini.’ Jantungku berdebar lebih kencang. Siapa ini? Mengapa dia punya nomorku? Dan mengapa dia mengirim uang?

Babak 2 — Pemicu di Balik Layar

Tanganku sedikit gemetar saat mengetik balasan. ‘Maaf, ini siapa ya? Dan kenapa memberi saya uang?’ Pesan terkirim. Aku menunggu dengan napas tertahan, sambil menerima bungkusan nasi uduk dari Mbok Darmi. Aroma pedas telur balado seolah tidak mampu meredakan debaran di dada. Sesampainya kembali di kamar, aku langsung menyeduh kopi instan favoritku dan duduk di depan meja belajar sempit yang merangkap meja rias. Pagi ini benar-benar terasa tidak biasa. Sambil menyeruput kopi panas, aku terus memandangi layar ponsel, berharap ada balasan. Setelah hampir lima menit berlalu, sebuah notifikasi muncul. ‘R’: ‘Namaku Rendra. Aku tetangga baru di unit 305. Aku rasa kamu salah satu mahasiswa yang sering kukirim makanan via GoFood saat kamu masih sering lupa bayar.’ Aku mengerjap. Unit 305? Itu kan unit apartemen sebelah yang baru saja disewakan. Aku belum pernah bertemu penghuninya. Dan apa maksudnya ‘sering lupa bayar’? Aku sama sekali tidak ingat pernah seperti itu. Terakhir kali aku memesan GoFood itu minggu lalu, untuk dua porsi seblak dan es teh manis, karena teman kosku datang berkunjung. Dan aku selalu membayar pesanan itu tepat waktu, baik melalui DANA maupun GoPay. Kebingungan mulai merayap masuk. Aku membuka kembali riwayat GoFood-ku. Ada banyak pesanan, beberapa memang untuk dua orang. Tapi tidak ada catatan pembayaran yang terlewat atau tertunda. Semuanya sudah terbayar lunas. ‘Rendra’… nama itu terdengar familiar, tapi aku yakin belum pernah berinteraksi dengannya. Apa dia punya informasi yang salah? Atau… dia benar-benar memperhatikan dan… mengawasi? Pikiran terakhir itu membuat bulu kudukku berdiri.

Aku mencoba menenangkan diri. Mungkin ada kesalahpahaman. Mungkin dia salah orang. Tapi mengapa dia mengirim uang lagi pagi ini? Aku memutuskan untuk mencoba mengirim pesan langsung ke nomornya, mengabaikan instruksi ‘jgn telp’ yang ia berikan. ‘Rendra, maaf, saya yakin Anda salah orang. Saya tidak pernah lupa membayar pesanan makanan. Mungkin Anda bisa cek lagi datanya? Dan tolong jangan mengirim uang lagi.’ Aku menekan tombol kirim. Aku merasa sedikit lega setelah mengirim pesan itu, meskipun rasa penasaran masih membekas. Aku harus segera berangkat kuliah. Hari ini ada kuis Kalkulus, mata kuliah yang paling aku benci. Sambil bersiap, aku kembali membuka aplikasi GoFood. Aku melihat daftar pesanan terbaruku. Ada pesanan dua porsi nasi goreng dan es kelapa muda, dipesan kemarin sore. Nama penerima tertera namaku, tapi yang aneh, di bagian detail pesanan, tertera ‘untuk orang lain’ dan ada catatan kecil: ‘tolong jangan kasih tahu dia’. Aku terkejut. Aku tidak ingat pernah memesan itu. Atau, lebih tepatnya, aku yakin aku tidak memesannya. Siapa yang memesankan makanan untukku, dan memintaku untuk tidak diberitahu? Dan mengapa ada catatan seperti itu? Semakin aku mencoba mencari tahu, semakin banyak keanehan yang muncul.

Aku meraih tasku, mengunci pintu kamar kost, dan berjalan menuju gerbang. Di depan gang, sebuah mobil hitam yang tidak asing lagi terparkir rapi. Mobil yang sama yang kulihat kemarin sore saat aku pulang kuliah. Mobil yang sama yang kutemui saat aku membuka pintu kamar dan menemukan bingkisan makanan yang tidak kukenali itu. Di kursi pengemudi, seorang pria muda sedang menelepon. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kaca mobil yang gelap. Tapi postur tubuhnya… seperti seseorang yang pernah kulihat. Benarkah dia Rendra? Tetangga baru di unit 305? Pikiran ini berputar-putar di kepalaku saat aku menaiki angkot jurusan kampus. Aku mencoba mengingat setiap detail yang bisa membantuku menghubungkan titik-titik yang membingungkan ini. Rendra. Unit 305. Transfer GoPay. Pesanan makanan misterius. Catatan ‘jangan kasih tahu dia’. Dan mobil hitam yang selalu ada di dekat kostku. Sesuatu yang besar sedang terjadi, dan aku merasa aku hanya bisa melihat permukaannya saja.

Babak 3 — Eskalasi Misteri

Di kampus, suasana terasa padat dan hingar-bingar. Mahasiswa berlalu lalang, sebagian sibuk membahas tugas, sebagian lagi bercengkerama di kantin. Aku duduk di sudut perpustakaan, mencoba fokus pada buku Kalkulus di hadapanku. Namun, bayangan Rendra dan keanehan transaksi itu terus menghantuiku. Kuis Kalkulus pun kujalani dengan kepala kosong, hanya mengandalkan ingatan samar dari sesi belajar semalam. Setelah kuis selesai, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu. Aku membuka aplikasi Gojek, lalu masuk ke fitur GoFood. Aku mulai menelusuri riwayat pesanan dari beberapa bulan terakhir. Aku mencari pesanan-pesanan yang dipesan atas namaku, namun dengan catatan atau detail yang mencurigakan. Dan ternyata, aku menemukannya. Ada beberapa pesanan lain yang serupa. Pesanan makanan yang tidak kuakui, tapi tercatat atas namaku. Beberapa disertai catatan seperti ‘kirim ke unit 305’ atau ‘tolong taruh di depan pintu’. Aku pernah melihat ada paket makanan di depan pintu kamarku, tapi kupikir itu titipan teman atau salah kirim. Ternyata… itu semua darinya.

Semakin dalam aku menggali, semakin aneh ceritanya. Ada pesanan es teh manis yang tidak pernah kuminum, seblak level 5 yang tidak pernah kumakan, bahkan seporsi nasi goreng spesial yang sepertinya tidak pernah sampai ke tanganku. Semuanya dikirim ke unit 305, atau ke depan pintu kostku, dengan catatan-catatan yang sama misteriusnya. Aku menarik napas dalam. Ini jelas bukan sekadar kesalahpahaman. Rendra ini… dia tampaknya sedang memperhatikanku. Tapi mengapa? Apa motifnya? Aku teringat saat pertama kali melihat mobil hitam itu terparkir di dekat kost. Aku pikir itu mobil tamu salah satu penghuni lain. Tapi sekarang, aku sadar, mobil itu selalu di sana, seolah sedang menjaga atau… mengawasi. Aku membuka profil Rendra di media sosial. Aku menemukan akun Instagram dengan nama ‘Rendra_J’. Foto profilnya menampilkan seorang pria muda dengan senyum tipis, menatap ke arah kamera. Dia cukup tampan. Aku melihat beberapa postingannya. Kebanyakan foto-foto pemandangan alam, beberapa foto kota Jakarta dari sudut pandang yang unik, dan beberapa foto yang sepertinya diambil dari jarak jauh, dengan fokus pada objek yang tidak jelas. Aku mencoba menelusuri siapa saja yang dia ikuti. Ada cukup banyak akun, tapi tidak ada yang terasa signifikan. Sampai akhirnya, aku melihat satu nama akun yang menarik perhatianku: ‘GadisSenja’. Aku mengklik akun itu. Profilnya tertutup, tapi ada satu postingan yang terlihat di pratinjau. Foto langit senja dengan caption singkat: ‘Harapan yang tertunda’. Aku merasa ada koneksi aneh.

Aku teringat percakapan singkat dengan Mbok Darmi beberapa hari lalu. Dia sempat mengeluh tentang salah satu penghuni apartemen sebelah yang sangat tertutup. ‘Orangnya baik, tapi pendiam sekali, Neng. Jarang kelihatan batang hidungnya. Dulu pernah kos di sini juga, tapi pindah ke apartemen itu,’ cerita Mbok Darmi. Dia menyebutkan nama penghuni itu, ‘Rendra’. Dan dia ingat Rendra pernah tinggal di kost-kostan lama miliknya beberapa tahun lalu, sebelum memutuskan pindah ke apartemen. Mbok Darmi juga sempat bercerita, Rendra dulu sangat perhatian pada salah satu mahasiswi yang kos di tempatnya. Tapi mahasiswi itu… entah mengapa, tiba-tiba menghilang begitu saja. ‘Namanya… Sekar,’ kata Mbok Darmi. Sekar. Nama itu… entah kenapa terasa akrab. Aku mencoba mencari nama ‘Sekar’ di media sosial, namun hasilnya nihil. Kemungkinan dia tidak aktif atau menggunakan nama samaran. Pikiranku mulai berputar. Rendra, tetangga baru di unit 305. Dulu pernah kos di tempat Mbok Darmi. Pernah perhatian pada mahasiswi bernama Sekar. Dan sekarang, dia mengirimiku uang dan makanan secara misterius. Apa aku… mirip Sekar? Atau, apakah dia salah mengenali aku sebagai Sekar? Kebetulan nama Sekar juga merupakan nama yang cukup umum digunakan oleh para gadis Indonesia. Ini semakin rumit.

Babak 4 — Konfrontasi yang Tak Terduga

Sore itu, aku memutuskan untuk mengambil tindakan. Aku tidak bisa terus menerus dibingungkan oleh misteri ini. Sambil menenteng tas, aku berjalan menuju apartemen sebelah, unit 305. Jantungku berdebar kencang. Apa yang akan kukatakan padanya? Bagaimana jika dia ternyata orang yang aneh? Atau lebih buruk, bagaimana jika dia memang mengira aku adalah orang lain? Pintu unit 305 sedikit terbuka. Aku ragu sejenak, lalu mengetuk pelan. Tidak ada jawaban. Aku mengetuk lagi, sedikit lebih keras. Terdengar suara langkah kaki dari dalam. Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Rendra. Dia terlihat sedikit terkejut melihatku berdiri di depan pintunya. Dia mengenakan kaus abu-abu polos dan celana pendek. Wajahnya sedikit pucat, namun matanya memancarkan kehangatan yang samar. ‘Eh… kamu?’ sapanya, suaranya sedikit serak. Aku menarik napas dalam. ‘Ya, saya. Maaf mengganggu, Mas Rendra. Saya… saya mau klarifikasi soal transfer dan makanan yang Mas kirim.’ Aku berusaha bicara setenang mungkin. Rendra mengernyitkan dahi. ‘Klarifikasi? Makanan? Oh… ini soal itu.’ Dia terlihat ragu. ‘Mas, tolong jujur. Kenapa Mas melakukan ini? Apakah… apakah Mas mengira saya orang lain?’ Aku memberanikan diri bertanya langsung. Wajah Rendra berubah. Ada kesedihan yang mendalam di matanya. Dia menghela napas panjang. ‘Sebenarnya… ya. Awalnya saya memang mengira kamu adalah Sekar.’

Aku terdiam, menunggu kelanjutannya. ‘Sekar adalah teman kos saya dulu,’ Rendra melanjutkan, suaranya pelan. ‘Kami dekat… sangat dekat. Dia suka sekali nasi uduk dari Mbok Darmi, apalagi yang pakai telur balado. Dan dia selalu lupa membayar pesanannya. Setiap kali dia memesan, saya selalu diam-diam mentransfer uangnya, kadang lewat teman kosnya, kadang langsung ke Mbok Darmi kalau saya bertemu. Saya ingin memberinya kejutan. Tapi suatu hari, dia menghilang. Tanpa kabar. Seperti ditelan bumi. Saya tidak tahu kenapa. Saya sudah mencoba mencarinya, tapi tidak ada jejak.’ Dia terdiam sejenak, matanya menatap kosong ke arah luar jendela. ‘Beberapa minggu lalu, saya pindah ke apartemen ini. Saya sering memesan GoFood karena malas masak. Suatu sore, saya lihat kamu memesan nasi uduk dari Mbok Darmi. Dan… kamu mirip sekali dengannya. Dari cara kamu membungkuk sedikit saat menerima makanan, sampai cara kamu menyibakkan rambutmu. Saya benar-benar terkejut. Saya pikir… saya pikir Sekar kembali.’ Air mata mulai menggenang di sudut matanya. ‘Saya mencoba memberimu makanan, mentransfer uang, berharap kamu akan terbiasa dengan perhatian saya, seperti Sekar dulu. Saya ingin tahu lebih banyak tentangmu, tapi saya takut membuatmu takut. Saya terlalu berharap, saya tahu. Maafkan saya.’

Aku terpaku mendengar ceritanya. Ternyata semua ini hanyalah kesalahpahaman yang menyakitkan. Rendra tidak bermaksud buruk, dia hanya merindukan seseorang yang mirip denganku. ‘Mas… saya… saya turut prihatin soal Sekar,’ kataku pelan. ‘Tapi saya bukan dia. Nama saya… (nama karakter utama), dan saya mahasiswa di kampus sana. Saya tidak pernah lupa membayar pesanan makanan.’ Aku merasa kasihan melihat Rendra. Dia terlihat sangat rapuh. ‘Saya mengerti,’ jawabnya lirih. ‘Saya tahu ini salah. Saya terlalu terbawa perasaan. Seharusnya saya tidak melakukan ini tanpa bertanya dulu.’ Dia menunduk, tampak malu. ‘Mulai sekarang, saya tidak akan melakukannya lagi. Saya janji.’ Aku melihat ada kelegaan bercampur kesedihan di wajahnya. Aku memutuskan untuk tidak mempermasalahkannya lebih jauh. ‘Tidak apa-apa, Mas Rendra. Yang penting sekarang kita sudah bicara.’ Aku tersenyum tipis. ‘Lagipula, nasi uduk telur balado dari Mbok Darmi memang enak sekali.’ Tiba-tiba, senyum tipis muncul di bibir Rendra. ‘Benar. Terutama kalau dibelikan orang yang kita sayang.’ Ada jeda sejenak, lalu dia melanjutkan, ‘Ngomong-ngomong, karena kamu bukan Sekar, boleh saya tahu namamu? Dan… mungkin kita bisa memesan nasi uduk bersama lain kali? Bukan sebagai pengganti Sekar, tapi sebagai… teman?’ Aku membalas senyumnya. ‘Tentu saja. Nama saya (nama karakter utama). Dan saya rasa, itu ide yang bagus.’

Babak 5 — Pertemuan yang Menggantung

Percakapan itu berakhir dengan rasa canggung yang perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan yang tidak terduga. Rendra mengantarku sampai ke pintu depan apartemennya. Kami saling bertukar nomor telepon, kali ini nomor yang sebenarnya, tanpa kode aneh. Aku kembali ke kost dengan langkah ringan, pikiran berkecamuk. Hari ini dimulai dengan kebingungan dan kecurigaan, tapi berakhir dengan pemahaman dan… harapan baru. Aku melihat notifikasi WhatsApp di ponselku. Sebuah pesan dari Rendra masuk. ‘Terima kasih sudah mau mengerti. Besok sore, aku mau coba pesan martabak manis. Mau coba bareng?’ Aku tersenyum membaca pesan itu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dengan Rendra. Apakah ini akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih? Apakah aku akan mulai memiliki perasaan padanya, atau ini hanya sekadar pertemanan yang diawali dengan kesalahpahaman? Aku belum tahu jawabannya. Tapi untuk saat ini, aku merasa puas. Aku merasa lega. Kehidupan di Jakarta, dengan segala kerumitannya, baru saja memberiku kejutan yang manis. Aku membuka aplikasi GoFood lagi, kali ini bukan untuk melihat pesanan orang lain, tapi untuk memesan sesuatu untuk diriku sendiri. Sebuah porsi nasi uduk telur balado. Aku memejamkan mata sejenak, membayangkan aroma gurih nasi, pedasnya sambal balado, dan… percakapan hangat dengan Rendra. Mungkin, inilah awal dari sebuah kisah cinta yang tak terduga, berawal dari notifikasi transfer GoPay dini hari dan sebuah nama misterius di kontak ponsel.