Transfer Dini Hari dari Nama Asing: Awal Mula Drama Rumah Tangga yang Menyakitkan
Notifikasi itu muncul tepat pukul 03:17 pagi. Layar ponselku yang tadinya gelap seketika berpendar, menampilkan pesan singkat dari aplikasi GoPay. ‘Transfer Rp 500.000 dari: Arya Bima’. Jantungku berdebar kencang. Siapa Arya Bima? Kenapa mentransfer uang di jam selarut ini ke rekeningku? Aku mengerjapkan mata, memastikan penglihatan tidak salah. Nama itu benar tertera. Padahal, transaksi terakhir yang kulakukan adalah pembayaran tagihan internet kemarin sore. Suamiku, Rian, masih terlelap di sampingku, napasnya teratur, memunggungi. Entah kenapa, dorongan untuk membangunkan Rian terasa begitu kuat, namun sekaligus menakutkan.
Perlahan, sangat perlahan, aku meraih ponsel Rian yang tergeletak di nakas. Jari telunjukku gemetar saat hendak membuka aplikasi GoPay miliknya. Aku tahu ini salah, menerobos privasinya seperti ini, tapi rasa penasaran bercampur firasat buruk yang menggerogoti membuatku tak bisa menahan diri. Riwayat transaksi Rian menampilkan aliran dana yang sama persis, transfer Rp 500.000 dari ‘Arya Bima’ pukul 03:15 pagi. Dua menit sebelum masuk ke rekeningku. Kenapa Rian mengirim uang ke rekeningnya sendiri melalui orang lain? Atau… Arya Bima ini bukan orang lain?
Babak 1 — Notifikasi yang Mengusik Tidur
Aku memandangi punggung Rian yang tertutup selimut. Kehangatan tubuhnya terasa jelas meski terhalang kain. Kami sudah menikah lima tahun. Pernikahan yang selama ini terasa begitu harmonis, penuh tawa, dan saling pengertian. Rian adalah suami yang baik. Perhatian, pekerja keras, dan selalu berusaha membuatku nyaman. Dia sering lembur, tapi selalu ada kabar. Dia bilang dia sedang membangun karier di perusahaan multinasional tempatnya bekerja, dan aku selalu mendukungnya. Kami merencanakan masa depan bersama, rumah impian, bahkan nama untuk calon anak kami kelak. Semua terasa begitu sempurna, sampai notifikasi itu datang. Alarm dini hari yang membangunkanku bukan hanya dari tidur, tapi juga dari ilusi kebahagiaan yang kupunya.
Aku mencoba mengalihkan perhatian. Mungkin ini hanya kesalahan sistem. Atau mungkin Arya Bima adalah teman Rian yang sedang iseng mengerjai kami. Ya, itu pasti. Aku memaksakan diri untuk berpikir positif, meski perutku terasa mual. Aku meletakkan ponsel Rian kembali ke tempatnya, lalu beranjak ke dapur. Membuat segelas air putih hangat, berharap bisa menenangkan diri. Tapi setiap kali aku menutup mata, wajah Arya Bima muncul di benak. Siapa dia? Kenapa namanya terdengar asing namun begitu familiar?
Pagi harinya, Rian bangun dengan ceria seperti biasa. Dia membuatkan sarapan sederhana, roti panggang dengan selai cokelat favoritku. “Pagi, Sayang,” sapanya sambil mengecup keningku. Aku tersenyum, mencoba bersikap normal. “Pagi, Mas.” Selama sarapan, aku terus memperhatikannya. Setiap gerak-geriknya, setiap perkataannya. Apakah ada yang berbeda? Apakah ada tanda-tanda yang selama ini luput dari perhatianku? Dia terlihat biasa saja. Sibuk dengan koran pagi, sesekali bercerita tentang berita di kantor. Tidak ada yang aneh.
“Mas, semalam ada transfer masuk ke rekeningku. Rp 500.000 dari Arya Bima,” kataku hati-hati, mencoba membaca reaksinya. Rian mengangkat sebelah alisnya, matanya masih terpaku pada koran. “Oh ya? Siapa itu?” tanyanya santai, seolah tidak terkejut sama sekali. Jantungku kembali berdegup lebih kencang. Nada suaranya yang terlalu biasa justru membuatku curiga. “Aku nggak kenal. Mas kenal?” tanyaku lagi, kali ini lebih mendesak. Rian menunduk, lalu merapikan koran. “Nggak tahu, mungkin teman lama. Nanti aku cek lagi,” jawabnya singkat, lalu beranjak menuju kamar mandi, meninggalkan aku dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin menumpuk.
Kejadian itu membuatku gelisah sepanjang hari. Di kantor, aku terus-terusan membuka aplikasi GoPay, memeriksa riwayat transaksi. Aku bahkan mencoba mencari nama ‘Arya Bima’ di daftar kontak atau di media sosial, tapi nihil. Tidak ada hasil. Pikiran-pikiran buruk terus berkelebat. Apakah Rian punya rahasia yang selama ini ia simpan rapat? Apakah ‘Arya Bima’ adalah kode untuk seseorang? Seseorang yang seharusnya tidak kuketahui?
Babak 2 — Jejak Digital yang Aneh
Sore harinya, sepulang kerja, aku memutuskan untuk memeriksa laptop kantor Rian yang kadang ia bawa pulang. Bukan untuk menggeledah, tapi sekadar memastikan tidak ada hal aneh. Aku membukanya saat Rian sedang mandi. Tiba-tiba, sebuah jendela email konfirmasi muncul di layar. ‘Reservasi Hotel di Bali – 3 Malam, Tanggal 15-18 Juli’. Tanggal itu… itu adalah akhir pekan depan. Rian bilang dia harus lembur dan menghadiri seminar penting di akhir pekan itu. Dia bahkan menunjukkan jadwal seminar yang padat.
Mataku membelalak. Bali? Selama tiga malam? Sementara aku di sini, menunggunya pulang lembur? Rasa dingin menjalar di sekujur tubuhku. Aku menutup jendela email itu secepat mungkin, mencoba menenangkan diri. Mungkin ini pesanan yang salah. Mungkin ini email lama yang baru saja terbuka. Aku menyusun seribu alasan, tapi hatiku tidak bisa dibohongi. Firasat buruk itu semakin menjadi-jadi.
Malam itu, Rian terlihat sedikit berbeda. Dia lebih banyak diam, sesekali melirik ponselnya dengan gelisah. Aku mencoba mengajaknya bicara, tapi jawabannya selalu singkat. “Mas, akhir pekan depan kita ada acara apa?” tanyaku lagi, berusaha terdengar santai. Rian menghela napas. “Kan sudah kubilang, Sayang. Aku ada seminar. Penting sekali untuk karierku.” Dia menghindari tatapan mataku. Aku tahu dia berbohong. Kebohongan kecil yang kini terasa begitu besar.
Aku mulai merasa putus asa. Aku tidak tahu harus bagaimana. Menghadapinya langsung? Dengan bukti apa? Notifikasi transfer? Email reservasi hotel yang mungkin saja salah? Aku merasa terjebak dalam labirin kebohongan yang dibangun oleh orang yang paling kucintai. Aku memutuskan untuk melakukan satu hal lagi. Aku membuka aplikasi chat WhatsApp Rian di ponselku. Aku tahu ini pelanggaran privasi yang lebih serius, tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya ingin tahu kebenarannya, seburuk apapun itu.
Aku menggulir percakapan Rian dengan teman-temannya, mencari nama ‘Arya Bima’. Tidak ada. Lalu aku mencoba mencari nama-nama perempuan. Dan di sanalah aku menemukannya. Sebuah nama kontak yang tersimpan dengan kode huruf aneh: ‘R – Jgn Telp’. Aku membuka chatnya. Terakhir kali mereka bertukar pesan adalah seminggu yang lalu. Isinya… permintaan maaf Rian atas ketidakhadirannya di sebuah acara. Dan balasan dari ‘R – Jgn Telp’ yang singkat: ‘Tidak apa-apa. Aku mengerti. Jaga rumahmu baik-baik.’ Rumahku?
Babak 3 — Kebohongan yang Terungkap
Jantungku serasa berhenti berdetak. ‘Jaga rumahmu baik-baik’. Apa maksudnya? Apakah dia tahu tentang Rian? Atau… apakah dia adalah bagian dari kehidupan Rian yang selama ini tersembunyi? Aku terus menggulir chat itu. Ada beberapa foto yang dikirim oleh ‘R – Jgn Telp’. Foto seorang wanita yang sedang tersenyum, mengenakan gaun malam yang indah. Di salah satu foto, wanita itu memegang sebuah buket bunga mawar merah yang sama persis dengan buket yang kulihat di meja Rian saat pesta ulang tahun kantornya bulan lalu. Saat itu Rian beralasan bunga itu adalah hadiah untuk rekannya yang akan pindah.
Tanganku gemetar hebat. Aku teringat percakapan Rian dengan temannya di telepon beberapa minggu lalu. Rian tertawa lepas, lalu berkata, “Tenang saja, dia tidak akan curiga. Dia terlalu polos.” Aku merasa seperti orang bodoh. Polos? Atau dibutakan oleh cinta? Aku merasa jijik pada diriku sendiri karena begitu mudah percaya.
Aku menutup aplikasi chat, lalu membuka kembali email reservasi hotel. Tanggalnya semakin dekat. Rian akan pergi ke Bali, meninggalkanku sendiri. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa membiarkan ini terus berlanjut. Aku memutuskan untuk mengonfrontasi Rian malam itu juga.
Saat Rian selesai mandi, aku sudah menunggunya di ruang keluarga dengan laptop terbuka. “Mas, kita perlu bicara,” kataku, suaraku bergetar. Rian menatapku dengan alis terangkat. “Bicara apa, Sayang?” Aku menarik napas dalam-dalam. “Aku tahu tentang liburanmu ke Bali. Aku tahu tentang ‘Arya Bima’. Dan aku tahu tentang ‘R – Jgn Telp’.”
Wajah Rian pucat pasi. Dia terdiam, lidahnya kelu. Dia tidak bisa menyangkal. Aku melanjutkan, suaraku kini lebih tegas. “Siapa dia, Mas? Siapa wanita itu? Dan kenapa dia mentransfer uang ke rekeningku?” Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku. Aku tidak ingin menangis di depannya, tapi rasanya sulit sekali menahan emosi.
Rian akhirnya membuka mulutnya. “Maafkan aku, Sinta.” Suaranya serak. “Dia… dia bukan siapa-siapa. Hanya teman kantor.” Kata-katanya terdengar hampa. “Teman kantor? Yang mentransfer uang di jam 3 pagi? Teman kantor yang fotonya ada di ponselmu dengan inisial ‘R – Jgn Telp’? Teman kantor yang kamu berikan bunga mawar merah di pesta ulang tahun kantormu?” Aku meledak, air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku.
Rian mencoba meraih tanganku, tapi aku menariknya. “Jangan sentuh aku!” teriakku. “Aku sudah muak dengan kebohonganmu. Aku tidak tahu lagi harus percaya apa padamu.” Rian menunduk, tangannya terkepal erat. Dia terlihat sangat menyesal, tapi penyesalan itu tidak bisa menghapus luka yang sudah ia timbulkan.
Babak 4 — Konfrontasi di Malam Hening
Suasana di antara kami menjadi dingin. Rian duduk terpaku di sofa, sementara aku berdiri di depannya, menatapnya dengan penuh kekecewaan. Aku membutuhkan jawaban. Jawaban yang sesungguhnya.
“Siapa dia, Rian?” tanyaku lagi, kali ini dengan nada yang lebih tenang namun penuh ketegasan. “Aku… aku tidak bisa mengatakannya.” Rian menjawab dengan suara yang nyaris tak terdengar. “Kenapa tidak bisa? Karena dia bukan siapa-siapa? Atau karena dia seseorang yang sangat penting bagimu?”
Rian menggelengkan kepala. “Sinta, tolong percayalah padaku. Aku akan mengakhirinya. Aku akan menjelaskan semuanya padamu.”
“Menjelaskan apa? Kebohongan yang sudah kamu bangun selama ini?” Aku tertawa getir. “Bagaimana aku bisa mempercayaimu lagi, Rian? Aku menemukan email reservasi hotel itu. Kamu akan pergi ke Bali. Sendirian? Atau… bersamanya?”
Rian menatapku, matanya penuh penyesalan. “Aku… aku tidak bisa pergi. Aku sudah membatalkannya.”
“Benarkah?” Aku tidak yakin bisa mempercayai kata-katanya lagi. “Lalu kenapa kamu masih menyimpannya di sana? Dan kenapa ‘Arya Bima’ mentransfer uang ke rekeningku? Apa maksudnya itu?”
Rian terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam-dalam. “Itu… itu uang yang dia pinjamkan padaku. Untuk… untuk melunasi utangku di pinjaman online.”
Aku terkejut mendengar pengakuan itu. Utang? Rian punya utang? “Sejak kapan? Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
“Aku malu, Sinta. Aku tidak ingin kamu khawatir. Aku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri. Tapi… semuanya semakin rumit.”
Aku merasa dunianya runtuh. Rian, suamiku yang selama ini kubanggakan, ternyata memiliki rahasia kelam. Utang pinjaman online, dan hubungan terlarang dengan wanita lain. Aku merasa seperti orang asing di dalam rumah tanggaku sendiri. Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan.
Babak 5 — Pertanyaan yang Menggantung
Aku menatap Rian yang kini duduk tertunduk di hadapanku. Wajahnya memancarkan keputusasaan. Aku tahu dia menyesal, tapi penyesalan itu tidak bisa menghapus semua kebohongan yang telah ia lakukan. Aku merasa lelah. Lelah dengan drama ini, lelah dengan kebohongan ini.
“Aku… aku tidak tahu harus berkata apa lagi, Rian,” kataku pelan. Suaraku terdengar datar, tanpa emosi. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”
Aku bangkit dari dudukku, lalu berjalan menuju kamar kami. Aku menutup pintu di belakangku, meninggalkan Rian sendirian di ruang keluarga. Aku duduk di tepi ranjang, menatap foto pernikahan kami yang terpajang di dinding. Senyum kami terlihat begitu bahagia. Tapi di balik senyum itu, tersimpan luka yang dalam.
Aku membuka laci nakas, mencari sesuatu untuk menenangkan diri. Tanganku menyentuh sebuah kotak kecil. Kuitansi parkir dari kota lain yang tersembunyi di balik tumpukan surat. Kota yang tidak pernah kami kunjungi bersama. Kuitansi itu… aku menemukannya beberapa bulan lalu saat membersihkan mobil. Saat itu aku mengabaikannya, berpikir mungkin Rian lupa mengeluarkannya. Tapi sekarang, setelah semua ini, aku tidak yakin lagi.
Aku mengambil kuitansi itu. Tanggalnya tertera jelas: dua bulan lalu. Dan kota yang tertera di kuitansi itu bukanlah kota tempat tinggal kami. Jantungku kembali berdebar kencang. Apakah ini bukti lain? Bukti bahwa Rian tidak hanya berbohong tentang wanita itu, tapi juga tentang banyak hal lain?
Aku memandang kuitansi itu, lalu memandang foto pernikahan kami. Di persimpangan antara masa lalu yang indah dan masa depan yang penuh ketidakpastian, aku hanya bisa bertanya-tanya. Apa lagi yang disembunyikan Rian dariku? Dan sampai kapan aku harus hidup dalam kebohongan ini?
